Mengenang Perjuangan Mendiang Aptripel Tumimomor Membangun Morut

Kembali Ke Tanah Mori Atas Panggilan Nurani untuk Mengabdi

- Periklanan -

GEMURUH petir menggelegar di langit Kolonodale, Jumat kemarin. Gumpalan awan menghitam di sisi barat, sebelum menumpahkan hujan nan deras. Wajah sang alam itu seakan mengingatkan mahluk di bawahnya, daerah ini sedang berkabung. Ya, Aptripel Tumimomor telah tiada.

Ilham Nusi, MOROWALI UTARA

RIUH reda ibukota Kolonodale berubah lengang hari kemarin. Duka masih menyelimuti setelah mangkatnya Bupati Morowali Utara, Ir Aptripel Tumimomor MT.

Tak ada yang menyangka, kepergian Aptripel begitu cepat. Sebab pengabdiannya belumlah tuntas. Masih banyak tugas menunggunya, kepada negara dan rakyatnya.

Si pemurah senyum berdarah Mori tulen itu anak ketiga dari empat bersaudara, buah perkawinan Hendrik Tumimomor Kamesi dengan Maligene Damantora Lande. Keduanya merupakan tokoh pendidik yang melahirkan banyak murid sukses.

Segaris silisah, Aptripel adalah keturunan Mokole Ede Kamesi, seorang Datu Ri Tana VIII atau Raja Mori tahun 1907-1928. Hal itu lah yang membuat masyarakat sangat menghormati pria kelahiran Kolonodale, 3 April 1966 itu.

Ipe, sapaan akrab almarhum, sebenarnya berpuluh tahun tak lagi mendiami tanah Mori. Ia kembali atas panggilan nurani untuk mengabdi. Bersama Moh Asrar Abd Samad, ia berhasil mewujudkan tekadnya, sekaligus memenuhi permintaan mendiang ayahnya sebelum wafat.

Kedua kepala daerah itu menawarkan 15 perubahan. Perbaikan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan menjadi prioritas utamanya.

“Saya putra daerah, lahir dan besar di tanah Mori. Karena itu saya terpanggil untuk kembali dan mengabdi di kampung halaman,” kata Ipe semasa hidupnya.

Jauh hari sebelum itu, Ipe menamatkan pendidikan di SDN Inpres I Tomata (1979), SMPN Tomata (1982), dan kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN I Poso (1985).

Ipe selanjutnya merantau ke Makassar. Disana, ia berhasil menyelesaikan program studi Strata 1 (1991) di Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) jurusan teknik sipil. Di kampus itu pula ia mengambil program magister (S2) dengan kosentrasi keilmuan yang sama.

Kepergian Ipe tentunya meninggalkan duka mendalam bagi istri dan tiga putra putrinya. Terlebih lagi, jazad Ipe diperlakukan khusus oleh pihak RSUP Dr Wahidin Sudirhusodo Makassar. Ya di tempat itu sang bupati menutup usia, Kamis (2/4) malam.
Tak sampai disitu, dalam ibadah pelepasan jenazah, keluarga tak diperbolehkan menyentuh wadah perisitrahatan Ipe. Bahkan untuk sekedar mendekat pun tak bisa. Situasi itu juga berlanjut pada pemakaman Ipe di Kabupaten Gowa.

- Periklanan -

Kepahitan itu mau tak mau harus diterima sang istri, Ho Liliana dan tiga buah hati Ipe, Andhyka Haryanto, Arlyn Stevani dan Arfan Irvanoff. Kakak kandung Ipe, Oktrin Tumimomor nampak merangkul Liliana.

Tangis pun pecah di saat itu. Namun sebelum pukulan maha dahsyat itu mendera, Andy dan Arlyn memilih tetap mendampingi sang ayah di saat-saat kritisnya. Keduanya pun mampu bersikap tenang mengurus ayah dan menenangkan ibu mereka.

Meski telah berpulang, almarhum Ipe tentu bahagia berhasil menghantar Andhyka menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta, Arlyn di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, serta si bungsu Ino yang masih kuliah di luar negeri.

Suasana berkabung juga lekat di rumah dinas mendiang Bupati itu. Ucapan duka Nampak berjejer di halaman rumahnya.
Teramat banyak kesan baik yang penulis rasakan saat menjalin kemitraan dengan almarhum Ipe. Namun dari semua itu, hal terbaik dilakukan almarhum menurut penulis yakni, mesujudkan ide sertifikasi pemukiman masyarakat di permukaan laut.

Pemikiran hebat itu bermula dari ratusan rumah warga yang berdiri di kawasan pantai hingga permukaan laut. Hunian warga itu jelas tidak memiliki legalitas. Pun demikian, Ipe lebih memilih melindungi aset warganya ketimbang merelokasi pemukiman yang sudah puluhan tahun berdiri ini.

“Sertifikasi perumahan di kawasan pantai dan permukaan laut tujuannya agar ada peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Nantinya mereka bisa memperoleh modal usaha dengan agunan sertifikat,” ujarnya.

Inovasi kerakyatan itu kemudian berhasil dipaparkan Ipe pada rapat kerja nasional Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) 2018 di Jakarta.

Inovasi ini pula mengantar Ipe menjadi satu-satunya kepala daerah yang menjadi pembicara di Puri Agung, Hotel Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ipe pernah berkata, ide tersebut terinspirasi dari Program Sertifikat Presiden Joko Widodo. Sebab katanya, telah ribuan petak tanah di Morut telah disertifikasi, sementara sertifikasi pemukiman di permukaan laut itu belum berdasar.

Jika telah bersertifikat, Aptripel yakin ada program susulan seperti bedah rumah yang anggarannya bisa berasal dari bea pajak yang dibayarkan nelayan di kawasan itu kepada negara.

“Dari persoalan ini, saya mengusul ke BPN perwakilan Sulteng agar rumah-rumah warga itu dapat disertifikasi. Syukurlah usulan ini mendapat respon dari Kementerian ATR, semoga segera terealisasi,” tandasnya.

Tak sampai disitu, Ipe juga menggenjot program nawa cita Jokowi yakni Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap atau PTSL. Hasilnya, tak kurang dari 5.000 bidang tanah masyarakat Morut berhasil disertifikatkan secara gratis.
Saat ini, tak ada lagi yang memanggil saya dengan dengan sapaan Jenggo. Selamat jalan Ipe. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.