Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Mengenal Wisata Alam Lore Lindu dan Sejarahnya

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Beragam Satwa Dilindungi, dan Dijadikan Lokasi Penelitian

INDAH : Inilah salah satu sudut Lore Lindu, yang asri dan alami. (Foto: Istimewa)

TAMAN Nasional Lore Lindu (TNLL) merupakan taman nasional di Indonesia yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) terletak sekitar 60 kilometer selatan Kota Palu.

LAPORAN : Nendra Prasetya


LINDU merupakan danau yang terletak di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulteng, dan berada di dalam wilayah TNLL. Wilayah yang sering disebut dataran Lindu ini dikelilingi oleh punggung pegunungan.

TNLL salah satu kawasan konservasi di Sulteng yang ditetapkan melalui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 464/Kpts-II/1999 dengan luas kawasan 217 991 18 hektar, data yang dibuat 23 Juni 1999. TNLL pun menjadi kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli. Dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, budidaya, rekreasi dan wisata alam.

Kawasan ini memiliki potensi yang sangat besar dan mencakup potensi flora, fauna endemik, serta situs megalitikum yang merupakan salah satu warisan dunia.

Diperkirakan terdapat 266 jenis Flora, beberapa diantaranya endemik dan sebagai hewan baru, dan lebih dari 200 jenis fauna beberapa diantaranya bersifat endemik ditemukan di kawasan TNLL seperti Anoa, Babi Rusa, Kera hitam, Tarsius, Maleo, dan Rangkong Sulawesi. Tidak hanya itu ada juga 21 jenis cicak besar, 68 jenis ular 21 jenis amphibi dan 6 jenis ikan dan ribuan jenis serangga termasuk kupu-kupu, sehingga kawasan ini juga dikenal sebagai kawasan Megabiodiversity.

Selain itu di sekitar TNLL sebagian besar masyarakatnya masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal sehingga kawasan TNLL juga dikenal sebagai Cagar Biosfer, yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1977. “Pengelolaan TNLL secara umum bertujuan untuk mewujudkan visi pengelolaan yaitu mewujudkan kawasan TNLL dan KSDAHE-nya yang aman, mantap secara legal formal dan dikawal dengan partisipatif, didukung kelembagaan yang kuat dalam pengelolaannya serta mampu memberikan manfaat optimal kepada masyarakat,” jelas Camat Lindu Achim Pampoum SE.

Visi pengelolaan TNLL lebih lanjut dijabarkan melalui proses perencanaan yang tertuang dalam dokumen rencana pengelolaan yang terdiri dari Rencana Pengelolaan TNLL Jangka Panjang (RPTNLL), Rencana Pengelolaan Jangka Menengah, dan Rencana Pengelolaan yang bersifat tahunan. Selain itu dikatakan Achim, implementasi perencanaan lebih rinci tertuang dalam perencanaan yang sifatnya tematik dan teknis seperti rencana peningkatan kualitas sumberdaya manusia, rencana pengamanan kawasan, rencana pemberdayaan masyarakat, rencana pengawetan flora dan fauna, rencana aksi pengembangan hasil hutan bukan kayu serta rencana pengembangan wisata.

Danau Lindu dimasukkan ke dalam kelas danau tektonik yang terbentuk selama era Pliosen setelah bak besar dilokalisasi dari sebuah bagian rangkaian pegunungan. Merupakan danau terbesar kedelapan di Sulawesi dari segi wilayah maksimal permukaannya.

Keindahan TNLL dibumbui dengan cerita rakyat Lindu yang sudah kesohor soal petualangan Sawerigading. Dalam pelayarannya, Sawerigading sempat terpukau dengan kecantikan Raja Sigi saat itu, Ngginayo atau Ngilinayo, dan ingin meminangnya. Ia juga membuat perjanjian kerjasama dengan Raja Bangga, Wambulangi seorang perempuan yang bergelar Magau Bangga.

Tetapi cerita terjadi dan terbentuknya Danau Lindu lantaran ulah anjing Sawerigading bernama La Bolong atau si Hitam, yang terlibat perkelahian sengit dengan seekor belut bernama Lindu. Dari perkelahian hebat itu, hingga terbentuklah sebuah danau, yang kemudian dinamakan Danau Lindu. Kini danau ini menjadi ikon wisata dan peneltian, khususnya untuk kekayaan flora dan fauna yang dimiliki.

“Lubang tempat tinggal Lindu yang telah menjadi kosong dengan cepat terisi air, Sehingga lama kelamaan menjadi penuh dan meluap-luap, menggenangi daerah sekitarnya sampai akhirnya membentuk sebuah danau yang saat ini dikenal sebagai danau Lindu,” terang Achim.

Keberadaan TNLL di Kabupaten Sigi, menjadi sebuah ”tantangan” sekaligus merupakan sebuah ”peluang”. Tantangan yang dimaksud adalah kawasan konservasi tidak dapat dikonversi menjadi lahan pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Kondisi topografi kawasan TNLL sangat rentan terhadap aktivitas pembukaan lahan. Menurut Achim, hasil kajian dari para peneliti bahwa aktifitas pembukaan lahan juga berpengaruh signifikan pada perubahan iklim. Sementara peluang yang dimaksudkan adalah kawasan TNLL, memiliki potensi keragaman hayati, dan keunikan landskap alamnya sehingga sangat potensial menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Sulteng.

Sementara itu, menurut Wakil Ketua Komisi II DPRD Sigi, Yusuf Edison peluang dan tantangan tersebut memerlukan pengkajian secara komprehensif dan mendorong partisipasi stakeholder dalam kerangka kolaboratif manajemen. Optimalisasi potensi daerah, merupakan suatu hal yang sangat mendasar untuk mendorong geliat pembangunan daerah, melalui peningkatan kualitas sektor-sektor yang menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD). Oleh karena itu, sumber PAD tidak semata-mata bertumpu pada sektor pertanian saja tetapi juga bersumber dari sektor jasa lingkungan dan pariwisata.

“Pemerintah daerah perlu memperhatikan hal ini, karena banyak sekali tempat-tempat wisata di Kabupaten Sigi yang dapat menunjang PAD Kabupaten Sigi. Namun hal itu tidak dilakukan dengan maksimal sehingga banyak tempat atau objek wisata di Kabupaten Sigi, tidak terkelola dengan maksimal. Untuk mengelola tempat wisata ini, Dinas Pariwisata harus memikirkan cara untuk mempromosikan tempat-tempat wisata ini, sehingga dapat menarik para wisatawan,” katanya.

Disampaikan Yusuf daya tarik hutan wisata danau Lindu adalah keindahan panorama pegunungan dan pemandangan danau, khususnya bagi wisatawan pejalan kaki dan pendaki gunung. Tidak hanya itu yang dapat menjadi daya tarik juga adalah Pulau Bola yang merupakan pulau yang berada di tengah Danau Lindu dan terdapat makam Raja Tua Maradindo. Untuk mencapai Danau Lindu dapat menggunakan kendaraan bermotor roda dua sekitar 1 jam atau naik kuda sekitar 2 jam dari Desa Sadaunta yang berjarak 13 Km ke lokasi danau. Sementara jarak Desa Sidaunta sekitar 60 Km dari Kota Palu.(**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.