Menengok Mercusuar Peninggalan Belanda di Kota Tua Donggala

- Periklanan -

BERDIRI KOKOH : Inilah menara suar yang terletak di antara Tanjung Karang dan Boneoge. Menara tersebut menjadi peninggalan kolonial belanda pada ratusan tahun silam. (Foto: Muhammad)

HINGGA saat ini, Kota tua Donggala, Sulteng tidak hanya dikenal dari sisi destinasi wisata alamnya. Donggala ternyata cukup banyak menyisahkan peninggalan bersejarah, yang hingga kini masih berdiri kokoh. Salah satunya yakni menara suar yang dibangun di masa penjajahan Belanda.

Laporan : Ujang Suganda


DONGGALA adalah salah satu kota pelabuhan tertua di nusantara yang telah dikenal jauh sejak zaman bangsa asing mencari hasil alam di Indonesia. Kota pelabuhan ini juga dikenal pada zaman kolonial belanda dan pendudukan Jepang di tanah air.

Bukti bahwa Donggala pernah diduduki oleh negara asing terlihat jelas dengan sejumlah peninggalan yang masih ada hingga saaat ini. tepat di sekitar pelabuhan, terdapat sejumlah bangunan tua yang masih asli peninggalan Belanda. Wartawan Radar Sulteng mencoba untuk menelusuri beberapa peninggalan belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Di kota tua ini, masyarakat masih dapat menemukan banyaknya peninggalan sejarah mulai dari pelabuhan sendiri yang masih terdapat gedung bea cukai atau Douane yang merupakan gedung bukti sisa kejayaan pelabuhan Donggala.

- Periklanan -

3 kilometer dari pelabuhan atau tepatnya di Desa Tanjung Karang, terdapat Mercusuar kuno yang pada puncaknya terdapat bekas-bekas lubang peluru yang merupakan bukti peperangan yang pernah terjadi di tempat ini. Walaupun mercusuar tersebut sudah tidak berfungsi lagi, tetapi pengunjung masih dapat menaiki puncaknya untuk melihat pemandangan laut dari ketinggian.

Menara suar setinggi 25 meter itu dibangun dan telah dioperasikan sejak tahun 1902. Posisi strategis Donggala tersebut berkaitan dengan aktifitas pelabuhan pada saat itu. Donggala menjadi pusat Sulteng bersama dengan Kabupaten Poso.

Jika berkunjung ke menara suar tersebut, suasana di dalamnya memang masih asli layaknya tahun 1900 an. Selain menara, di tempat itu juga terdapat rumah yang dibangun bersamaan dengan menara tersebut. bangunannya pun masih terlihat kokoh. Salah satu bukti sejarah tersebut, saat ini telah dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala.

Tak heran, kota Donggala khususnya menara suar peninggalan Belanda tersebut menjadi sasaran kunjungan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal itu juga diungkapkan, Sekretaris Dinas Kabudayaan dan pariwisata Donggala, Muhammad. Kata dia, bukan hanya turis mancanegara saja yang datang berkunjung. Bahkan artis-artis ibu kota yang berlibur ke kota Donggala, pasti menyempatkan diri melihat dan mengenang kembali sejarah kota Donggala ketika masih dijajah oleh kolonial Belanda.

“Selain destinasi wisata pantai dan lainnya, peninggalan-peninggalan sejarah seperti ini juga menjadi destinasi yang selalu dikunjungi banyak orang,” ujarnya.

Muhammad mengungkapkan, Donggala menjadi salah satu daerah yang paling strategis pada saat itu. Sejak tahun 1907 sampai dengan 1908, kebijakan tol pelayaran diberlakukan oleh Belanda sebagai tata niaga perdagangan laut dan pengaturan arus lalu lintas perkapalan yang menghubungkan Donggala dengan wilayah lainnya di perairan selat Makassar. “Hingga saat ini bukan hanya menara suar yang menjadi peninggalan dan bukti sejarah Belanda di Donggala. Masih cukup banyak peninggalan lainnya yang menjadi saksi bisu sejarah ratusan tahun silam,” pungkas mantan Camat Banawa ini.  (**)

- Periklanan -

1 Komen
  1. Paulus HSS.Tangkudung Komentar Pengunjung

    koreksi : mercu suar / menara suar Tg.Karang sampai saat ini masih berfungsi untuk keselamatan pelayaran dan saat ini dikelola oleh Kantor Distrik Navigasi Bitung (Direktorat Jenderal Perhubungan Laut)

Batal Balas

Alamat email anda tidak akan disiarkan.