Menelusuri Lokasi Esek-esek Berkedok Cafe di Morowali, Tarif Rp30 Ribu Per Jam

- Periklanan -

Ilustrasi (@jpnn.com)

BANYAK cara dilakukan pelaku bisnis pemuas birahi lelaki untuk mengaburkan aktivitas esek-esek, seperti yang dilakukan salah satu usaha café berkedok bisnis wanita penghibur.

LAPORAN : MOH. FAISAL/MOROWALI


SALAH satu program Bupati Morowali Anwar Hafid yakni Morowali Berjamaah, ternyata mendapat tantangan dari masyarakatnya. Bagaimana tidak program yang mengedepankan moralitas keagamaan tercoreng dengan ada aktivitas esek-esek berkedok tempat hiburan café.

Salah satunya di cafe yang berada di salah satu Desa di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali menjadi tempat para pria hidung belang mencari para wanita-wanita penghibur.

Jarak cafe itu, sekitar dua kilo meter dari Kantor Bupati Morowali. Untuk akses jalan menuju cafe tersebut cukup rumit. Selain jalannya tidak beraspal, lokasinya juga memasuki gang yang sempit dan tersembunyi.

Jika dilihat dari luar, bangunan cafe itu hanya seperti rumah biasa dan tidak terlihat seperti sebuah tempat hiburan yang menawarkan jasa wanita penghibur. Bukan itu saja di café tersebut juga menyiapkan berbagai jenis minuman keras salah satunya miras jenis Bir.

Begitu memasuki ruang café, para pengunjung sudah bisa melihat puluhan wanita berpakain seksi, dengan pakaian seragam. Para wanita itu adalah pelayan bagi para pengunjung yang hendak menikmati suasana di café sambil memesan miras yang diiginkan.

- Periklanan -

Penelusuran Radar Sulteng, lokasi yang berada tidak jauh dari belakang pasar Bungku Tengah itu diketahui warga hanya sebuah café biasa. Namun kenyataannya café yang para pelayan pesanan miras adalah para pria, sementara para wanita melayani para pengunjung pria.

Para wanita penghibur yang diberi nama panggilan ladys akan langsung duduk dengan para tamu pria. Sambil bernyanyi karaoke para wanita-wanita seksi itu ikut menuangkan miras kepada para tamu.

Dengan tarif Rp 30 per jam para wanita seksi itu sudah bisa diraba-raba para tamu tanpa harus merayu terlebih dahulu. Namun jika ingin lebih, tentu ada kesepakatan khusus.

“Awalnya saya kesini (Morowali, red) karena dari kampung saya ditawarkan kerja di café ini hanya untuk menjadi pelayan pembawa minuman. Tapi,kenyataannya seperti ini, mau diapa dijalani saja,” ungkap seorang ladys asal Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut ladys yang disapa mami, untuk melayani para pria hidung belang lebih jauh lagi, dia harus melalui proses percakapan empat mata. Sebab, keputusan berada ditangan bos.

“Kalau harganya cocok dan bos saya sepakat, yah okelah lanjut dengan yang lebih hot lagi. Yang penting, saya dapat uang dan bisa makan,”cerita Mami sembari meneguk bir.

Lain halnya dengan Mami, ladys lainnya sebut saja namanya nyonya harus menelan pahit ketika mengetahui bahwa dirinya dipekerjakan sebagai pelayan lelaki hidung belang. Wanita berumur 23 asal Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara ini mengaku harus pasrah bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Kabupaten Morowali.

“Dulunya saya diajak kemari, untuk bekerja sebagai pelayan baik-baik di warkop. Eh, sampai disini (Morowali, red) malah diperkarakan begini saya. Mau Pulang, tidak dikasih bos. Sudah telanjur dan sudah saya nikmati hasilnya saya jalani saja. Karena cuman dengan begini saya dapat uang, untuk anakku dan keluargaku,” kata janda beranak satu ini.

Ditanya soal tempat tinggal, para ladys mengaku dibangunkan sebuah mess di salah satu desa cukup terpencil di Kecamatan Bungku Tengah. “Semua ladys satu mess, kurang lebih sepuluh orang. Tinggal gratis, bos yang siapkan. Uang kami hasil kerja yah masih ada yang bisa ditabung untuk keluarga. Sebenarnya kami mau sekali pulang, tapi tidak bisa kami pulang karena dikawal ketat sama orang-orangnya bos,” ucapnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.