Menelisik Krisis Air Pascabencana di “Lumbung Padi” Sigi

- Periklanan -

Memasuki puncak musim panen bulan Maret mendatang, petani di Kabupaten Sigi, khususnya yang bergantung pada irigasi Gumbasa, tidak bisa lagi berharap banyak. Hasil panen seperti yang pernah mereka rasakan Maret 2018 lalu, kini seolah tinggal menjadi cerita, akibat lahan pertanian yang terdampak bencana.

LAPORAN : AGUNG SUMANDJAYA

SEMANGAT sebagai seorang petani, masih melekat di diri Ashar. Meski sawah miliknya sudah mengering, akibat tidak lagi dialiri air dari irigasi Gumbasa yang rusak, tidak lantas membuatnya putus asa. Ashar mencari alternatif lain.
Untuk bisa tetap bertani, dia rela menyewa lahan pertanian yang berada di Desa Lolu, Jalan Keranjalemba. Di lahan itu, airnya cukup karena ada sejumlah mata air dan tidak mengandalkan irigasi gumbasa. Jika dahulu dirinya menanam padi, tidak demikian saat ini. “Kalau dulu saya tanamnya padi. Sekarang, lahan yang ada dibawa airnya cuma bisa untuk tanam palawija,” kata Syaiful.

Meski pendapatannya sebagai seorang petani, sangat menurun drastis, namun Ashar masih tetap bisa bersukur. Berkat bantuan sejumlah pihak, dirinya dan sejumlah petani membentuk kelompok dan diberikan bantuan berupa pembuatan sumur dan mesin alkon yang dipakai untuk mengairi lahan. “Tapi itu ongkos produksinya memang lebih mahal, ketimbang kalau irigasi sudah diperbaiki,” sebut Ashar, yang juga Ketua Kelompok Tani Bunga Huntara.

Belum lagi kata dia bantuan sumur yang dibuat, sebanyak 7 titik untuk kelompoknya, hampir semuanya tidak berfungsi lagi. Kini tertinggal dua sumur yang masih ada airnya, sedangkan empat sumur lainnya sudah tidak ada air lagi, sementara satu sumur lagi debit airnya semakin sedikit. “Tujuh sumur ini dipakai oleh 100 anggota kelompok tani kami, kini tinggal dua yang berfungsi, terpaksa lahan yang dekat sumur tidak ada airnya tidak bisa diolah,” katanya.

Air kata dia, sangat berpengaruh bagi tanaman. Dia berharap pemerintah, bisa segera mungkin memperbaiki jaringan irigasi Gumbasa. Nantinya, bila irigasi gumbasa kembali mengalir kembali, dia meminta pemerintah agar terlebih dahulu membantu memperbaiki lahan mereka yang juga terdampak likuifaksi. “Lahan sawah kita yang dulu sudah tidak rata, sudah bergelombang dan terbelah-belah. Harus diratakan dulu, meski air sudah ada. Saya harap pemerintah bisa memikirkan nasib kami ini,” jelas Ashar.

Sama halnya dengan Ashar, Safriandi, petani dari Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, juga memilih menam cabai, ketimbang harus kembali menanam padi karena tidak berfungsinya saluran irigasi Gumbasa. Meski keuntungan tidak sebanyak, ketika memanen padi, namun Safriadi, cukup bersyukur masih bisa menghidupi keluarga. “Cukup lah untuk makan anak-anak di rumah,” tuturnya.

Tidak demikian dengan Arkan. Petani di Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru ini, terpaksa harus banting stir menjadi tukang bangunan. Sejak bencana gempa bumi dan likuifaski 28 September 2018 lalu, sawahnya pun rusak parah dan tidak bisa lagi digarap. Pria 43 Tahun ini, sebelumnya menggarap 1,5 hektar lahan miliknya sekali panen, bisa meraup untung hingga Rp20 juta. “Tapi sekarang semua rusak total, ditambah irigasi juga sudah tidak berfungsi,” terangnya.

- Periklanan -

Dari data BPS Sulteng, sebelum terjadinya bencana rata-rata perbulan petani di Kabupaten Sigi meraup pendapatan Rp2.865.833 perbulannya. Dan seluruhnya merupakan petani padi sawah. Namun sejak gempa dan likuifaksi melanda, rata-rata pendapatan para petani berada di angka Rp533.000.

Pemerintah daerah sendiri, tidak bisa berbuat banyak, agar irigasi bisa segera pulih. Untuk jangka pendek sendiri, Pemerintah Kabupaten Sigi, mengaku, telah menyiapkan sejumlah sumur bor, yang dapat mengaliri sawah warga. Di tahun 2019, tercatat sudah ada 20 sumur bor yang dibuat. “Di Tahun 2020, akan ada 30 titik sumur bor yang akan dibuat oleh pemerintah. Ini antisipasi kami agar masyarakat tetap bertani, sembari menunggu selesainya perbaikan irigasi gumbasa,” tutur Bupati Sigi, Irwan Lapata, dalam satu kesempatan.

Dia sendiri berharap, pihak terkait yang menangani perbaikan Irigasi Gumbasa, agar segera mempercepat perbaikan. Karena irigasi gumbasa, menjadi andalan para petani, khususnya petani padi sawah. Anggaran APBD sendiri, dinilainya tidak cukup, bila harus menanggung semua kerusakan yang timbul akibat bencana dua tahun yang lalu. “Olehnya, kami juga butuh keterlibatan semua pihak, baik pemerintah pusat maupun swasta, supaya pertanian di Sigi ini kembali seperti sedia kala,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPTP Sulteng, Ferry Fahruddin Munier mengungkapkan, pihaknya memiliki 2 program jangka pendek untuk mengembalikan aktifitas usaha tani. Pertama yakni memanfaatkan lahan di sekitar Hunian Sementara (Huntara) tempat para petani tinggal dan kedua yakni optimalisasi lahan pertanian yang terdampak dengan skala ringan dan sedang.

Untuk pemanfaatan lahan di sekitar Huntara, melalui KRPL (kawasan rumah pangan lestari) di mana para penghuni Huntara, bisa menanam sayur-sayuran yang beragam dan dapat dikonsumsi sehari-hari. Kemudian melakukan ternak ayam kampung unggul Balitbangtan, dengan kandang yang juga berada tidak jauh dari Huntara. “Ini tentu akan kita dampingi, sampai para petani yang tinggal di Huntara menjadi Mandiri,” sebut Ferry.

Sedangkan untuk program kedua, yakni optimalisasi lahan pertanian yang terdampak, pihak BPTP bakal mendapingi, para petani yang tadinya menanam padi sawah, kini beralih kepada komuditas tanaman pangan yang cocok di lahan kering. Seperti menanam padi gogo ladang, jagung hibrida serta kedelai, yang tidak memerlukan banyak air. “Juga melakukan sistem tumpang sari, di mana jagung diitanam bersama dengan padi ladang,” jelasnya.

Tidak hanya itu, BPTP juga bakal membantu petani untuk mengintegrasikan sumur dangkal dan sistem irigasi yang efisien. Lebih jauh disampaikan, Ferry, khusus di wilayah yang teraliri irigasi gumbasa dari Kecamatan Gumbasa, Kecamatan Dolo, Kecamatan Dolo Barat dan Kecamatan Sigi Biromaru, sebelum gempa terjadi, memiliki luas lahan sawah padi kurang lebih 16.913 hektar. Akibat bencana 6.611 hektar diantaranya mengalami kerusakan. “Mulai dari lahan rusak ringan seluas 5.334,91 hektar, lahan rusak sedang 895,14 hektar dan lahan rusak berat seluas 380,14 hektar. Sehingga saat ini luas lahan tanaman padi di aliran irigasi gumbasa yang masih tersisa tinggal 10.300 hektar,” jelasnya.

Akibat kerusakan itu pun, mengakibatkan Kabupaten Sigi, harus kehilangan potensi panen beratus-ratus ton. Data BPTP mencatat, produktifitas padi sawah di Kabupaten Sigi dari total empat kecamatan yang teraliri irigasi gumbasa, pada tahun sebelum bencana terjadi, bisa menghasilkan produksi 209,010 ton GKP (gabah kering panen) per tahunnya (3 kali panen). Pascabencana terjadi, produktifitas petani padi sawah pun menurun lebih dari 100 persen. Di mana, dari 10.300 hektar yang masih tersisa, hanya mampu menghasilkan padi sebanyak 89 ton per tahunnya.

Besar harapan petani di Kabupaten Sigi, khususnya wilayah yang dialiri sungai Gumbasa, bisa kembali seperti sedia kala. Perbaikan Irigasi Gumbasa sendiri, masih membutuhkan waktu beberapa tahun kedepan. Pasalnya saluran primer sendiri yang dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi sepanjang 35,3 kilometer. Belum lagi perbaikan saluran sekunder sepanjang 53 kilometer, tersier, drainase, sehingga sawah yang rusak seluas 6.611 hektar itu benar-benar bisa kembali seperti sedia kala.

Di akhir tahun 2019 lalu, pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia, telah menyelesaikan rehabilitasi Irigasi Gumbasa tahap pertama telah selesai. Namun pekerjaan tersebut baru di kawasan hulu Gumbasa.Yang teraliri pun masih sebatas di Kecamatan Gumbasa dan sekitarnya, dengan luas lahan teraliri sekitar 1.070 hektar. “DI Gumbasa harus diprioritaskan dalam rangka pemulihan ekonomi lokal. Masyarakat Sigi harus pulih dan meningkat penghidupannya, serta mengatakan sangat terbantu dengan irigasi tersebut,” ujar Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di Sulteng Arie Setiadi Moerwanto kepada wartawan November 2019 lalu.

Sementara untuk rehabilitasi tahap kedua, ditarget selesai pada 2020 mendatang. Tahap kedua sendiri, mulai terhitung awal tahun 2020 ini. Wakil Menteri PUPR, Jhon Wempi Wetipo, pada akhir November 2019 datang meninjau langsung proyek rehabilitas ini di Sigi. Dia menyampaikan bahwa perbaikan kembali Daerah Irigasi Gumbasa, harus bisa rampung di 2022. “Sehingga, petani bisa kembali ke sawah dan bisa menjamin kesejahteraannya seperti sebelum bencana lalu. Jadi tahun 2022 harus selesai, kalau pun masih ada yang dikerjakan itu tinggal pekerjaan kecil,” katanya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.