Mendesak, Warga Poi Butuh Bantuan Makanan dan Medis

13 KK Diungsikan di Bekas Gedung Sekolah dan Huntara

- Periklanan -

SIGI – Aparat Desa Poi, Kecamatan Dolo Selatan, telah mendata rumah yang terdampak banjir lumpur yakni 13 Kepala Keluarga (KK) 6 diantaranya mengalami rusak berat.

Dua titik pengungsian yaitu di satu unit sekolah yang sudah tidak difungsikan dan Hunian Sementara (Huntara) menjadi tujuan para warga terdampak.

“Kurang lebih 13 KK, 6 KK rumahnya memang kondisinya rusak berat, kita sudah siapkan lokasi pengungsian kemudian ada beberapa lembaga yang membantu kami sambut dengan baik,” kata Pejabat Sementara Kepala Desa Poi, Sarfin SE kepada Radar Sulteng, Selasa (9/12).

Menurut Sarfin, bantuan yang paling diperlukan adalah makanan dan kesehatan pada warganya.
Memang kata dia, hingga hari kedua pasca bencana banjir lumpur bantuan terus mengalir dari pihak Pemerintah Daerah dan Provinsi, seperti air bersih, indomie, beras dan kebutuhan pokok lainnya.

“Ada mahasiswa dari Fakultas Kedokteran dari Palu juga turut membantu dalam penanganan kesehatan, dan ada juga posko kesehatan di bekas sekolah ini,” jelasnya.

Terkait rencana merelokasi warganya dari desa, Sarfin menuturkan, untuk merelokasi ini mungkin langkahnya masih jauh karena memang sebelumnya sudah ada perintah untuk mengintruksikan relokasi seluruh masyarakat Desa Poi.

Lokasi seluas 6 hektar untuk rencana pembangunan Hunia Tetap pun sudah diajukan proposalnya ke PUPR dan lokasinya akan dibayar oleh Pemda. Sarfin sendiri mengakui, sangat menanggapi positif terkait rencana relokasi apalagi dia melihat Desa Poi sudah dimasukan ke dalam zona merah bencana.

“Kami menanggapi dengan positif karena kami tidak mau terjadi hal hal yang tidak diinginkan, karena sangat mengancam kurang lebih 9 juta kubik material yang akan diturunkan di bawah,”

- Periklanan -

Sedangkan tanggapan masyarakat sendiri beragam, kata Sarfin, ada yang menyahuti dengan positif, ada yang menyatakan juga sudah mengetahui karakter alam di sini.

“Jadi ini kesulitan-kesulitan yang coba kami tepis agar supaya mereka benar-benar mau direlokasi, warga saya disini sekitar 1062 jiwa,” tambah Sarfin.

Sementara itu, Anggota Bagian Unit Logistik BPBD Provinsi Sulteng, Yohanes Alfa Mateo menambahkan, pihaknya Selasa (9/12) membawa sejumlah bantuan kepada warga yang menetap di bekas sekolah SMK Muhammadiyah Poi (Muhipo) ini diantaranya berupa ikan kaleng, minyak goreng, paket sandang, paket kebersihan, family kid, termasuk paket balita.

“Jumlahnya sesuai dengan data yaitu 13 KK. Jadi sesuai pemakain KK-nya yang kita bawah, bukan hanya untuk sekali habis, tapi yang siap pakai untuk jangka panjang, seperti tikar, matras, paket sandang, selimut semua lengkap,” ujarnya.

Dari pantau Radar Sulteng di posko kesehatan juga beberapa warga setempat datang memeriksakan kondisinya seperti lansia dan anak-anak. Di SMK Muhipo ini terdapat dua bayi, kondisi masih baik.

Data yang diperoleh Radar Sulteng juga dari 13 KK yang terdampak berjumlah 39 jiwa. Bekas SMK Muhipo terdapat satu dapur umum yang sudah memperoleh bantuan dari Dinas Sosial Provinsi 200 kilo beras dan puluhan kardua indomie, puluhan kardus air mineral dari Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sigi, satu ton beras dari Dinas Pangan Kabupaten Sigi.

Puluhan ribu liter air bersih dari Balai Prasarana PUPR Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulteng.
Di sisi lain juga pihak alat berat masih terlihat mengeruk material yang berada di sungai Poi, saat dibawa bersama air Minggu (8/12) lalu.

Batu-batu gunung berukuran besar sangat nampak. Akses jalan juga sudah mulai bisa dilewati dengan lancar, jika kemarin masih ada sisa lumpur di badan jalan, sekarang sudah disingkirkan oleh satu unit alat berat yang siap siaga di lokasi. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.