Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Mendengar Curhat Perantau 62 Tahun Menjalani Hidup di Kota Palu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

KUMPUL:Salim saat mengumpul ikan hasil tangkapannya Selasa (17/1). (Foto: Moh. Faisal)

DALAM berjuang hidup di kampung orang lain, mungkin sangat sulit untuk di Jalani. Apalagi, orang yang menjalaninya sudah berkepala 60-an. Seperti yang dijalanai H. Salim (62), perantau asal Desa Rappang, Kabuten Sidrap, Provinsi Sulawesi Tengah.

LAPORAN:MOH.FAISAL


SIANG itu, matahari sangat terik hingga terasa menusuk kedalam kulit. Namun, kakek yang bernama Salim ini tak gentar melawat sinar matahari dan ganasnya arus laut di Teluk Palu. Saat air sedang surut Selasa (17/1) sekitar pukul 13.00 wita, Salim melangkahkan kakinya yang sudah mulai lapuk itu dari bibir pantai Jalan Komodo, Kecamatan Mantikulore menuju keujung reklamasi yang berada di Kelurahan Talise.

Dengan menggunakan alas kaki jenis sepatu dan menggunakan celana kain berwarna hijau kehitaman, Salim memikul karung warna kuning yang isinya adalah pukat berukuran sekitar 200 meteran. Jika ditimbang, kakek berusia 62 tahun ini memikul beban sekitar 5 kilo gram (kg). Setelah sampai diujung reklamasi, Salim membuka ikatan karungnya dan mengeluarkan satu buah pukatnya beserta benda lainnya.

Dengan kepiawaiannya saat semasa muda, Salim langsung membentangkan pukatnya didalam laut yang dalamnya sampai leher orang dewasa. Dalam memasang pukatnya didalam laut, Salim harus bergulat dengan beratnya pukat yang sudah dibasahi air laut. Namun, disisa tenaganya Salim mampu memasang pukatnya kurun waktu 30 menit lamanya.

“Saya dari kecil memang sudah suka main dilaut dan ikut-ikut om pergi memancing ikan. Saya merantau ke Palu, tahun 70-an. Waktu merantau ke Palu, saya tidak tau mau kemana dan apa yang bisa saya kerjakan,”curahat hati (Curhat) Salim sembari mengeringkan bajunya yang basah akibat air laut diatas terik matahari.

Dalam mengisi waktu luangnya sambil menunggu bayaknya ikan yang terjaring dalam pukatnya, Salim tidak hanya dia. Saat itu, dirinya terlihat sedang memungut sampah yang berceceran disekitaran pantai yang terdapat reklamasi. Sampah yang dipungutnya tersebut, Salim bawa kebibir pantai dan membuangnya di tempat pembuangan sampah yang ada disekitaran reklamasi tersebut.

Sekitar dua jam lamanya menunggu dan keringatpun membanjiri wajah Salim hingga membasahi bajunya yang terlebih dahulu dibasahi air laut, sekitar pukul 15.00 wita Salim kembali turun ke laut untuk menarik pukatnya kebibir pantai. Saat menarik pukat dengan seorang diri, urat leher dan lengan Salim terlihat membengkak karena beratnya beban dari pukat tersebut.

“Saya melakukan ini, karena pengiritan. Semakin banyak saya dapat ikan, semakin lama keluarga saya tidak beli ikan di pasar. Soalnya, saya hanya pedagang biasa di pasar tua. Walaupun saya sakit-sakit, saya tidak pernah mengeluh sama istri dan anak saya. Malahan kalau saya sakit, tambah kuat bekerja,”ujar warga asal Provinsi Sulsel ini sambil menawarkan sebatang rokok kepada media ini.

Namun, perjuangan Salim dalam menrik pukatnya kedasar pantai Teluk Palu ini terbayarkan ketika melihat banyak benda bersisik putih masuk dalam jaringnya. Salim pun langsung tersenyum lebra, saat melihat pukatnya berisi puluhan ekor ikan yang berbagai jenis. Mulai dari ikan bubara, ikan bandeng dan kepitingpun ikut serta masuk dalam pukatnya.

“Alhamdulillah, lumayan buat digoreng untuk makan bersama keluarga. Tapi, separuh ikan yang saya dapat ini saya bagi sama tetangga juga sedikit. Bagi-bagi rejeki, walau saya hidup juga agak susah,”tutur Salim sambil tersenyum.

Usai membersihkan ikan hasil tangkapannya dari lumpur yang menempel, Salim langsung memasukan tangkapannya kedalam karung dan kemudian mengikatnya. Namun, sebelum pulang ke rumah untuk membawa oleh-oleh hewan laut kepada keluarganya Salim menyempatkan curhat kepada media ini dibalik kehidupannya saat 47 tahun merantau di Kota Palu.

Dalam curhatnya, Salim menceritakan kalau pada usia mudanya sekitar umur 25 tahun dia bekerja sebagai penyedia jasa berupa pubrik bahan dapur diseputaran Pasar Tua Jalan Teuku Umar, Kecamatan Palu Barat. Bahan dapur yang biasa dipubrik Salim seperti kelapa, cabe, tomat, gula jadi tepung dan bahan makanan sayur lainnya.

“Sekitar sepuluh tahun saya di Palu, saya langsung menikah dengan orang Palu asli. Dan saat ini, kami masih bersama dan mempunyai empat orang anak. Satu sudah menikah, dua kerja dan satu masih saya biayai uang sekolahnya,”ungkap Salim sembari mengingat pukat dan hasil penangkapannya diatas motor Honda Revo miliknya.

Dari musim ke musin Salim jalani bersama istrinya di rumah kontrakannya, sambil ditemani empat buah hatinya. Alhasi, mujizat pun datang dari yang maha kuasa. Berkat keuletennya dalam mencari nafkah di Kota Palu walau seorang perantau, Salim akhirnya berhasil membeli rumah sendiri sekaligus mengembangkan bisnisnya. Saat itu sekitar tahun 2000-an keatas, Salim membeli rumah disekitar Pasar Tua tepatnya di Jalan Sungai Niu, Kecamatan Palu Barat.

Salim beralih bisni dari sebelumnya membuka bisnis pabrik bahan dapur, sekarang Salim bersama istrinya bahan makanan sejenis beras. Disamping itu, Salim juga menjual Bebek dan Itik hidup yang dia piara disekitar rumahnya. Untuk perekornya, Bebek bernilai 100 ribu rupiah sedangkan itik berkisar 60 ribu rupiah.

“Setiap hari, saya bangun pagi langsung kasih mandi bebek dan itik saya sekaligus kasih makan. Setelah selesai, saya membuka tempat jualan beras dan dijaga istri saya. Kalau saya merasa agak sehat-sehat, saya pergi ke laut untuk menangkap ikan,”sebut Salim sambil berpamitan balik ke rumah karena hari sudah semakin sore.(*)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.