Mencicipi Lalampa, Ilabulo dan Tombouat di Jalur Dua Palu

- Periklanan -

WISATA kuliner di Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya di Kota Palu terus berkembang pesat meski Kota Palu ini sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tengah terus berupaya bangkit dari musibah yang terjadi pada 28 September 2021, bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. Hingga membuat kota ini luluhlantak, dan ribuan warganya meninggal dunia.

Namun pelan tapi pasti, Kota Palu yang menjadi barometer kemajuan ekonomi kota kota di Sulteng, terus melakukan berbagai pembenahan-pembenahan atau rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) infrastruktur baik itu jalan dan jembatan, fasilitas umum berupa kampus dan sekolah-sekolah, rumah sakit dan Puskesmas, gedung perkantoran dan swasta hingga rumah-rumah warga yang rusak berat, sedang dan ringan melalui bantuan stimulan dari pemerintah pusat.

Begitu juga perekonomian daerah, kesejahteraan masyarakatnya terus dibangkitkan kembali melalui berbagai program pemberdayaan dan kesejahrteraan masyarakat, terutama di satu kota dan tiga kabupaten yang saat bencana terjadi menimpanya, yakni Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong yang disebut dengan Padagimo.

Masyarakatnya sendiri pun terus bangkit dan berbenah tak ingin larut dalam kesedihan dan nestapa yang berkepanjangan. Kehidupan harus berlanjut. Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat dengan kreativitas, keahlian dan kemahiran yang dimiliki, disertai inovasi dan inisiatif untuk melanjutkan kehidupannya dari segi perekonomian rumah tangga. Salah satunya adalah membuka usaha dagangan kuliner, yang digelar di pingir jalan. Seperti yang ada di jalan strategis, di Jalan Prof Muhammad Yamin Kota Palu, yang dikenal dengan jalur dua.

Berbagai usaha kuliner ada di jalur dua ini, bersamaan dengan penjual buah-buahan nangka dan nenas serta jambu kristal, kelapa muda, dan kelapa muda bakar. Tetapi ada yang menarik diantara sekian banyaknya dagangan kuliner di jalur dua adalah kuliner khas daerah ini lalampa Toboli, Ilabulo khas Gorontalo, dan Tombouwat makanan khas sagu bakar dari Kabupaten Buol.

Salah seorang pedagang yang masih berusia muda, Mohammad Syarif, 26 tahun, warga Kota Palu, kepada media ini mengaku ia memiliki optimisme yang sangat tinggi menekuni profesinya sebagai kaum milenial di basis dagangan kuliner.

Diungkapkannya, dirinya menjual kuliner khas lalampa Toboli, ilabulo khas Gorontalo dan tombouat sudah cukup lama. Sekitar tahun 2015 yang lalu, masih menjual serabutan, rupa-rupa jualan kuliner yang dijual, belum terkosentrasi pada jualan yang sekarang.

“ Saya jualan disini sudah cupuk lama. Tetapi jualan kuliner khas ini baru tahun 2020 yang lalu kami mulai. Setelah pindah dari Toboli, “ tutur Mohammad Syarif.

- Periklanan -

Dia tidak bersekolah lagi, ketika ditanya apakah masih kuliah atau sudah bekerja, atau punya pekerjaan tetap. Syarif menjelaskan, dia hanya menjajakan jualan tantenya yang bernama ibu Iko, orang Gorontalo asli tapi sudah cukup lama bermukim di Kota Palu.

“ Saya jualan disini bantu tante saya, ibu Iko. Tinggal di Jalan Tanjung Tada Kota Palu. Kalau beliau ini asli Gorontalo, “ sebutnya. Sedangkan Mohammad Syarif sendiri berasal dari Sulawesi Selatan, namun dia tidak menyebutkan daerahnya.

Syarif dan tantenya, sebenarnya dulu berjualan di Toboli Kabupaten Parigi Moutong, jalan trans Sulawesi Kebun Kopi, akan tetapi persaingan bisnis diantara pedagang lalampa, membuat Syarif dan tantenya harus mencari tempat baru untuk melanjutkan usahanya. Mereka bergeser, dan mencari peluang baru di Kota Palu.

Dalam sehari, Mohammad Syarif bisa menjual ketiga jenis makanan ini sebanyak 300 bungkus per item jualan. Untungnya lumayan, bisa ditabung. Dengan kerja keras dan telaten, memasak dan membakar lalampa, ilabulo, dan tombouat, Syarif-pun sudah memiliki tabungan sendiri.

Pada musim hujan seperti sekarang ini di bulan Februari, kata Syarif jualannya laku keras, biasanya sampai dua kali lipat jualannya ludes (habis) dibeli warga Kota Palu.

“ Jualan saya paling laku itu di musim-musim hujan seperti sekarang ini. Wah, banyak yang cari ini lalampa, ilabulo, dan tombouat, “ bebernya.

Syarif juga menyebutkan, dari tiga jenis kuliner khas ini yang paling diburu orang adalah tombouat. Yaitu penganan khas, atau makanan kecil yang dibungkus dengan daun pisang, dua lapis. Isinya, terbuat dari bahan dasar sagu, dicampur dengan lemak ayam atau daging sapi, merica, daun kemangi, dan sebagainya. Sehingga enak dimakan hangat-hangat. Silahkan anda mencobanya.

Tempat jualannya dalam kota Palu, mudah dijangkau. Bisa diborong beberapa bungkus untuk dinikmati bersama keluarga ataupun sahabat anda. Sekaligus juga menghidupkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yang sekarang ini sedang digalakkan oleh pemerintah.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.