Menapaki Kisah Inspiratif Kuliner Favorit Kota Palu

- Periklanan -

FAVORIT: Rudy Tan Akui, bersama anak bungsunya Lisa Tan, sekaligus assistennya di depan warkop mereka di Jalan S Parman Kota Palu, kemarin. Kini, Warkop Harapan Cemerlang menjadi salah satu warkop terfavorit di Kota Palu. (Foto: Mugni Supardi)

Memilih bisnis kuliner, siap-siap berhadapan dengan selera pelanggan. Alat perasa setiap orang pasti berbeda-beda, meski menu yang disajikan di mana-mana sama. Apalagi bergenre warung kopi (warkop), tirai depannya harus menyajikan kopi dengan racikan berkelas.

LAPORAN : Muchsin Siradjudin

DI USAHA warkop dan nasi kuning Kota Palu yang kini menjamur dan menjadi trend warga kota, mengandalkan menu dan penyajian tidak selalu menjadi prioritas, tetapi pelayanan. “Kami menjaga bisnis kami ini dari sisi pelayanan. Penyajian menu saja tidak cukup, tetapi kekuatannya ada pada pelayanan,“ cerita Rudy Tan Akui (61), owner atau pemilik Warkop Harapan Cemerlang, yang bermarkas di Jalan S Parman, mengungkap sedikit rahasia bisnisnya.

Rudy Tan mulai membangun usaha Warkop Nasi Kuningnya di Jalan S Parman sejak tahun 2011 lalu. Sejak saat itu, ketika warga Kota menyebut S Parman, jalan itu kini identik dengan ikon barunya yaitu nasi kuning. Yah nasi kuning pak Rudy. Namun, bukan tahun 2011 lah yang menjadi ukuran suksesnya pak Rudy. Sebelumnya lelaki yang memiliki tiga putera dan satu puteri ini tidak langsung ‘tenar’ seperti sekarang. Sama dengan pengusaha lain, dia juga punya pengalaman bisnis yang mumpuni dan pernah jatuh bangun.

- Periklanan -

Sebelum tahun 2011, Rudy muda pernah berdagang bahan campuran di sebuah toko miliknya yang dibangun bersama isteri tercintanya di Jalan Jati Kelurahan Nunu, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. Seiring dengan pesatnya perkembangan Kota Palu dan kompetitifnya dunia usaha, Rudy pun mulai melirik usaha bisnis kuliner. Dari Nunu dia bergeser ke S Parman, yang memiliki nilai strategis untuk pengembangan usahanya.

Hanya dalam tempo setahun, kuliner nasi kuning asuhannya ‘ngetop’. Pelanggannya dari berbagai kalangan, mulai dari anggota Polisi, politisi, tentara, pengusaha, PNS, akademisi, wartawan, hingga aktivis LSM.

Bakat dagang kuliner, khususnya nasi kuning dan warkop didapatnya secara turun temurun. Sejak tahun 1950-an orang tuanya, Tan Akui, sudah dikenal memiliki tangan dingin usaha nasi kuning dan warkop di Kota Palu. “Orang lihat saja wajah saya, orang sudah bisa tebak dengan benar saya anaknya Tan Akui,“ tuturnya, seraya menyebut ayahnya Tan Akui yang membuka warkop yang sudah melegenda di kompleks pertokoan Jalan Gajah Mada Kota Palu hingga kini.

Tetapi, selain kekuatan menjaga kepuasan pelanggan, rahasia suksesnya adalah pada sosok sang isteri (pak Rudy enggan menyebut nama isterinya).   Menurutnya, isterinyalah yang menjadi kekuatan sesungguhnya di bisnis yang digelutinya itu. Isterinyalah yang menjaga dan memasak agar makanan tetap bersih dan diracik dari bumbu yang berkualitas. “Ini semua isteri saya yang masak dan jaga. Dia tidak sembarang kasih orang lain yang masak dan jaga. Semua harus dijamin kebersihannya. Kebersihan menjadi hal yang utama menu kami ini,“ ungkap Rudy, yang telah mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi orang lain.

Bahkan untuk urusan kopi saja, Rudy tidak sembarang menyajikannya, dicarikan kopi yang berkualitas. Hebatnya lagi, kopi itu berasal dari tanah Kaili. Dia sendiri tidak pernah mencari kopi lain walaupun sudah beredar kopi dari Toraja maupun Aceh di kota ini. Tetap kopi Harapan. “Yah kopi saya namanya kopi Harapan, kopinya orang Palu,“ sebutnya.

Untuk usahanya sendiri, Rudy Tan sudah punya semacam group atau jejaring pedagang nasi kuning dan warkop di Kota Palu. Sedikitnya ada 20 Warkop yang ada di Kota Palu memiliki kekerabatan sedarah dengannya. Misalnya pemilik Warkop Aweng, Rudy Tan memiliki hubungan kekeluargaan yang kuat dan dekat. Di bisnis Warkop mereka tetap menjalin silaturahmi yang erat.**

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.