Menakar Janji Pemerintah untuk Penduduk Ta Wana

Saat Jalur Ekstrim Lemowalia - Salubiro Berubah Mulus

- Periklanan -

EMPAT tahun silam, penulis gagal bercengkrama dengan warga Salubiro. Niat itu akhirnya tercapai kemudian. Apa penyebabnya, berikut ulasannya.

ILHAM NUSI, MOROWALI UTARA

SALUBIRO merupakan desa terujung di Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah. Disana bermukim ribuan jiwa suku Wana. Akses terbatas penyebab wilayah pedalaman ini lambat berkembang.

Medan ekstrim menuju Salubiro, sulit dibayangkan. Tak satu pun kendaraan roda empat bisa menembus kesana. Warga yang tak punya trail, terpaksa memodifikasi motor bebeknya. Maklum jalannya hanya setapak, lumpur dan berbatu.

2015 silam, wartawan Radar Sulteng nekat berkunjung kesana. Bermodal motor pinjaman, gas pun digeber. Tak sampai belasan kilometer, trail rakitan ngadat di sungai, kemudian mati total sebelum dituntun balik ke Lemo. Sejak itu, tak lagi niat kesana.

Namun pengalaman di atas hanya cerita lama. Kini jalurnya sangat berbeda. Jalan setapak di lereng-lereng gunung menjadi lebar. Tentu saja mobil bisa santai meliuk. Meski di beberapa titik masih tak mudah dilewati. Setidaknya ini fakta yang penulis buktikan sendiri, medio Desember 2019.

Saat itu, rombongan Pemkab Morut dijadwalkan berkunjung ke Salubiro. Agenda bersama rombongan pejabat Pemkab ini untuk menghadiri Natal Oikumene. Mereka menumpang kendaraan dinas roda empat. Penulis yang hendak ke Desa Momo, Kecamatan Mamosalato akhirnya mengikutinya. Tak ada undangan liputan kala itu.

Rupanya, kunjungan Pemkab untuk membuktikan randisnya bisa tembus ke Salubiro. Sekaligus membalut derita yang pernah dirasakan saat pertama mengendarai sepedamotor ke sana, empat tahun lalu. Pada kunjungan itu, ruas jalan Lemo-Lemowalia masih dalam pengerjaan. Sementara pembentukan ruas jalan Lemowalia-Salubiro sudah selesai.

Sepanjang menyusuri dua ruas jalan tersebut, penulis yang meminjam trail milik wartawan senior Yesiah Ery Tamalagi, menemui sedikit kendala. Pasalnya di beberapa lokasi berlumpur tebal. Bahkan dua unit mobil rombongan harus ditinggal. Satu tak kuat mendaki, satunya lagi terbenam lumpur. Maklum daerah itu baru diguyur hujan.

Tak sampai tiga jam, kami akhirnya tiba di Salubiro. Waktu tempuh ini, kata penduduk setempat jauh lebih cepat ketimbang tahun sebelumnya. Rombongan Pemkab selanjutnya menuju gereja tempat Natal dirayakan. Usai acara, rombongan berkumpul di rumah Kades Salubiro, Rahmat Tamsur.

Dalam diskusi itu, banyak warga berterimakasih. Mereka bersyukur jalan menuju salubiro akhirnya laik lintas. Warga berharap, desa yang berbatasan dengan Kabupaten Tojo Unauna ini perlahan berkembang setara daerah lainnya.

“Terima kasih pak. Semoga pemerintah daerah tetap memperhatikan nasib warga desa-desa pedalaman seperti kami,” ujar salah seorang warga.

Pembuatan jalan ini, katanya hanya satu dari banyak bukti perhatian pemerintah untuk masyarakat. Ia juga meminta warga bersabar, sebab pembangunan memerlukan biaya besar dan waktu yang panjang.

Jajaran Pemkab Morut nampak tak bisa menyembunyikan bahagianya. Banyak yang berucap tak percaya jika Salubiro bisa dikunjungi mengungganakan mobil. Kondisi itu jelas jauh berbeda dari sebelumnya.

Peningkatan akses darat itu, tak semata untuk bisa dilewati. Lebih dari itu guna membuka jalur perekonomian warga seperti menjual hasil perkebunan ke luar desa.

- Periklanan -

“Nanti biaya ojek tidak lagi mahal. Sayur dan buah-buahan juga bisa di jual ke luar. Intinya saya ingin penduduk di sini berkembang menjadi lebih sejahtera,” harap Bupati.

Bupati juga meminta maklum kepada warga, sebab proyek pembangunan rumah sosial di Salubiro baru bisa dianggarkan 30 unit. Sayangnya, proyek senilai Rp1,3 miliar tersebut gagal. Sekarang hanya terbangun sekira 28 unit. Hanya belasan yang laik huni. Demikian juga pembangunan gedung sekolah yang tidak tuntas. Akibatnya, gedung tersebut tidak bisa digunakan.

“Gagalnya dua proyek itu adalah catatan untuk pemerintah benahi. Semoga kedepan kita bisa bermitra dengan penyedia jasa yang lebih professional,” tegasnya.

Bukan hanya penduduk asli, Aco, salah seorang petugas kesehatan di Salubiro juga mengaku kerja-kerja lebih mudah sekarang. Terlebih ia sudah menerima bantuan randis roda dua untuk melancarkan tugasnya sebagai mantra desa.

“Saya sudah lima tahun tugas disini. Alhamdulillah sekarang keadaannya sudah lebih baik,” ungkap Aco.

Dalam perjalanan pulang, penulis bertemu kontraktor jalan Lemo-Lemowalia di lokasi proyek. Menurutnya, tidak mudah membentuk ruas jalan tersebut. Selain harus membongkar gunung berbatu, cuaca yang selalu berubah menjadi kendala serius.

“Hujan selalu menghalangi pekerjaan kami. Tetapi alhamdulillah progresnya sudah mencapai 97 persen,” katanya.

Dari sejumlah item pekerjaan, menurutnya pembangunan jembatan utama yang paling rumit. Pasalnya mereka harus menurunkan elevasi jalan sekira dua meter. Sementara pekerjaan itu diluar pendanaan alias tidak masuk bobot hitungan.

“Saya tidak lagi memikirkan untung ruginya. Yang penting saya bisa menjaga kepercayaan yang diberikan. Sekarang kita tinggal menunggu pengerasan lantai jembatan ini,” beber Ketua Gapeksindo Morut ini.

Kepala Bagian Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Daerah Kabupaten Morut,  Destuber Mato’ori, ditemui terpisah mengatakan ruas jalan Lemo-Lemowalia adalah DAK Penugasan 2019 senilai Rp12,8 miliar.

Anggaran tersebut digunakan untuk pembentukan jalan sepanjang 13,5 kilo meter yang dilapisi penetrasi macadam atau Lapen sepanjang 2,25 kilometer dan urugan pilihan sepanjang 9 kilometer.

Selain itu, di dalamnya ada pembuatan delapan buah deker plat, tiga box culvert dengan bentang 5,8 satu buah dan bentang tiga meter dua buah, serta satu jembatan dengan bentang 25 meter dan lebar tujuh meter.

“Hanya ruas Lemo-Lemowalia yang ditangani PUPR, kalau ruas Lemowalia-Salubiro melekat di Dinas Nakertrans,” jelas Destuber.

Berdasarkan informasi di LPSE Morut, ruas jalan Lemowalia-Salubiro senilai Rp1,32 miliar bersumber APBD 2019. Sementara ruas jalan Lemo-Lemowalia dikerjakan PT Barata Tora Morindo.

Selain Salubiro, ruas jalan di Lijo, Kecamatan Mamosalato juga dianggarkan dalamAPBD Morut 2019. Wilayah pedalaman itu juga dikenal memiliki jalur ekstrim di sejumlah desa di sekitarnya. Daerah itu juga didominasi penduduk asli Ta Wana. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.