Membangun Ketahanan Kesehatan Bangsa, Melawan Covid-19 (Memaknai Hari Bakti Dokter Indonesia)

Oleh : Dr. dr. Ketut Suarayasa, M.Kes *)

- Periklanan -

Pendahuluan

Covid-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. Sampai tanggal 31 Maret 2020 kasus terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dengan 136 kasus kematian, dan menjadi tingkat kematian tertinggi di Asia Tenggara saat itu (CFR = 8,9%). Angka ini sempat menimbulkan keresahan di masyarakat dan mempertanyakan kemampuan layanan kesehatan memberikan terapi yang adekuat. Sampai tanggal 20 Mei 2020 kasus terkonfirmasi Covid 19 sudah mencapai angka 19.189 dengan 1.242 kasus kematian (CFR = 6,47 %).

Di Sulawesi Tengah sendiri, kasus konfirmasi Covid-19 pertama dilaporkan pada tanggal 26 Maret 2020 sebanyak 1 kasus (di Kota Palu). Sejak saat itu new case terkonfirmasi covid-19 bertambah meskipun kurva-nya tidak meningkat signifikan. New Case tertinggi dilaporkan terjadi pada tanggal 2 Mei 2020 (12 kasus) dan tanggal 12 Mei 2020 dengan jumlah yang sama (12 kasus). Sampai tanggak 20 Mei 2020 jumlah kasus terkonfirmasi covid-19 berjumlah 115 kasus dengan jumlah kematian 4 orang (CFR = 3,47%), sebagian besar (57,39%) pada golongan umur 25 – 49 tahun, disusul golongan umur > 55 tahun (18,26%).

Transmisi

Saat ini, penyebaran Covid-19 dari manusia ke manusia (direct transmission) menjadi sumber transmisi utama sehingga penyebaran menjadi lebih agresif. Transmisi Covid-19 dari pasien simptomatik terjadi melalui droplet yang keluar saat batuk atau bersin. Beberapa laporan kasus menunjukkan dugaan penularan dari carier asimtomatis (OTG) namun mekanisme pastinya belum diketahui. Kasus-kasus terkait transmisi dari carier asimtomatis umumnya memiliki riwayat kontak erat dengan pasien Covid-19.

Metode transmisi lainnya adalah indirect transmission, misal percikan droplet saat batuk atau bersin tersebut menempel di benda lain seperti meja, gagang pintu, handphone, dll. Benda tersebut bisa menjadi media penularan. Setelah ada medianya, syarat penularan tentu harus ada port de entry atau pintu masuk virus ke tubuh penderita baru. Covid-19 memilih 3 (tiga) pintu masuk yang paling potensial yakni : mulut, hidung dan mata.

Beberapa studi menyebutkan bahwa Covid-19 telah terbukti menginfeksi saluran cerna (berdasarkan hasil biopsi pada sel epitel gaster, duodenum, dan rektum), dimana virus dapat terdeteksi di feces. Studi yang dilakukan oleh Xiao.F, dkk di China bahkan menemukan bahwa terdapat 23% pasien yang dilaporkan virusnya tetap terdeteksi dalam feses walaupun sudah tak terdeteksi pada sampel saluran napas. Kedua fakta ini menguatkan dugaan “kemungkinan” transmisi secara fekal-oral. Eksperimen yang dilakukan van Doremalen, dkk menunjukkan Covid-19 lebih stabil pada bahan plastik dan stainless steel (>72 jam) dibandingkan tembaga (4 jam) dan kardus (24 jam). Studi lain di Singapura menemukan pencemaran lingkungan yang ekstensif pada kamar dan toilet pasien Covid-19 dengan gejala ringan. Virus dapat dideteksi di gagang pintu, dudukan toilet, tombol lampu, jendela, lemari, hingga kipas ventilasi, namun tidak pada sampel udara.

- Periklanan -

Faktor Risiko

Dari 115 kasus terkonfirmasi Covid-19 di Sulawesi Tengah, sebagian besar (76%) adalah laki-laki. Demikian halnya dengan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), sebanyak 57% dari 94 kasus PDP adalah laki-laki. Distribusi jenis kelamin yang lebih banyak pada laki-laki diduga terkait dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes melitus, diduga ada peningkatan ekspresi reseptor ACE2. Pasien kanker dan penyakit hati kronik lebih rentan terhadap infeksi Covid-19.
Beberapa faktor risiko lain yang ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah kontak erat, termasuk tinggal satu rumah dengan pasien Covid-19 dan riwayat perjalanan ke area terjangkit. Berada dalam satu lingkungan namun tidak kontak dekat (dalam radius 2 meter) dianggap sebagai risiko rendah. Tenaga medis merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular. Di Italia, sekitar 9% kasus Covid-19 adalah tenaga medis. Di China, lebih dari 3.300 tenaga medis juga terinfeksi, dengan mortalitas sebesar 0,6%. Di Indonesia sendiri, persentase kematian tenaga kesehatan sebesar 6,5%, jauh diatas rata-rata global sebesar 0,37%. Namun demikian, dokter bersama tenaga kesehatan lainnya tetap memberikan kemampuan maksimalnya untuk membangun Ketahanan Kesehatan Bangsa, sebagaimana tema Hari Bakti Dokter Indonesia yang ke-112 tahun 2020 ini.

Pencegahan

Kunci pencegahan adalah memutus mata rantai penularan dengan 3 (tiga) aktivitas : melakukan proteksi dasar, deteksi dini dan isolasi. WHO sendiri merekomendasikan Proteksi dasar untuk menghadapi wabah Covid-19 berupa : cuci tangan secara rutin dengan alkohol atau sabun dan air, menggunakan masker, menjaga jarak, melakukan etika batuk atau bersin, dan berobat ketika memiliki keluhan yang sesuai kategori suspek.
Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup untuk menghilangkan coronavirus karena virus tersebut merupakan virus RNA dengan selubung lipid bilayer. Sabun mampu mengangkat dan mengurai senyawa hidrofobik seperti lemak atau minyak. Selain menggunakan air dan sabun, etanol 62-71% dapat mengurangi infektivitas virus.

Beberapa literatur menganjurkan untuk memperbaiki kualitas tidur serta mengkonsumsi suplemen yang dapat memperbaiki daya tahan tubuh terhadap infeksi saluran napas. Anti-oksidan, vitamin D dan pro-biotik adalah bentuk suplementasi yang dianjurkan karena memberi efek positive terhadap respons imun. Beberapa perilaku yang disarankan untuk dihentikan adalah merokok dan konsumsi alkohol. Merokok menurunkan fungsi proteksi epitel saluran napas, makrofag alveolus, sel dendritik, sel NK, dan sistem imun adaptif. Merokok juga dapat meningkatkan virulensi mikroba dan resistensi antibiotika. Suatu meta-analisis menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berhubungan dengan peningkatan risiko pneumonia komunitas. Konsumsi alkohol dapat menurunkan fungsi neutrofil, limfosit, silia saluran napas, dan makrofag alveolus.

Penutup

Karena Covid-19 merupakan penyakit baru yang telah menjadi pandemi dengan penularan yang relative cepat, tingkat mortalitas yang tidak dapat diabaikan serta belum ditemukannya terapi definitif, maka kita perlu tetap waspada. Masih banyak “gap” pengetahuan tentang virus ini yang membutuhkan studi-studi lanjutan. Semoga “wabah” ini cepat berlalu, sehingga kita bisa “bangkit” kembali, sebagaimana value Hari Kebangkitan Nasional yang kita peringati setiap tanggal 20 Mei, yang juga menjadi Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI).

*) Penulis merupakan Dosen Fakultas Kedokteran Untad dan Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.