Melihat Lebih Dekat Kereta China Peninggalan Belanda di Donggala

- Periklanan -

PENINGGALAN BERSEJARAH: Inilah kereta pengantar jenazah yang sering disebut sebagai kereta china oleh masyarakat donggala. Kereta ini masih tersimpan rapi di area pemakaman tionghoa Donggala. (Foto: Ujang Suganda)

SIAPA sangka peninggalan bersejarah yang tersimpan di kota tua Donggala hanya sebatas pelabuhan dan bangunan rumah saja. Di Kabupaten tertua di Sulteng ini masih cukup banyak menyimpan benda-benda bersejarah lainnya. Salah satunya adalah kereta china atau kereta pengantar jenazah.

LAPORAN : Ujang Suganda

KABUPATEN Donggala dikenal sebagai kota tertua di Sulteng. Julukan itu memang pantas disematkan pada Kabupaten Donggala. Donggala bukanlah sekedar nama tempat di pesisir barat pulau Sulawesi, tapi juga merupakan penanda dalam sejarah nusantara.

Jarak Kabupaten Donggala dengan kota-kota perdagangan di jalur selat Makassar itu menjadi posisi donggala yang berada di tengah menjadi sangat strategis sebagai wilayah penghubung. Tak heran, Dongggala menjadi salah satu daerah yang disinggahi  banyak Negara termasuk colonial belanda.

Ratusan tahun silam, donggala sangat kental akan suasana perdagangan berbagai macam rempah-rempah. Bukti sejarah bahwa Kabupaten Donggala menjadi tempat strategis bagi angsa asing yaitu dengan banyaknya peninggalan bersejarah di kota tua tersebut.

Mulai dari pelabuhan hingga gudang dan bangunan yang ditempati sendiri oleh kolonial belanda. Bahkan kereta pengantar jenazah pun ternyata masih ada di Donggala. Kereta itu berada di sekitar dataran tinggi yang berjarak beberapa kilo meter dari pusat pelabuhan tepatnya di sekitar pemakaman etnis tionghoa.

- Periklanan -

Kereta tua tersebut di simpan di sekitar pemakanan karena memang hingga saat ini masih digunakan sebagai kereta pengakut jenazah bagi etnis tionghoa. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama kereta china. Nama itu identik karena memang selalu digunakan oleh ras china.

Dilihat lebih dekat, kereta itu tampak masih sangat bagus dan kokoh. Balutan cat warna hitam menandakan warna yang menjadi cirri khas kereta tersebut. Sebagian konstruksi kereta terbuat dari kayu jati yang perkuat oleh besi.

Roda penggeraknya pun terbuat dari besi. Kecuali jeruji roda yang hanya terbuat dari kayu. Di sisi kanan dan kirinya terdapat kaca transparan tepat di dalam kotak penyimpanan peti jenazah. Salah seorang tokoh masyarakat sekitar, Daeng Suaib, yang juga pengurus pemakanan tionghoa,  menuturkan, tak diketahui secara jelas tanggal pembuatan kereta china tersebut. Namun pada intinya kereta itu sudah ada sebelum Indonesia Merdeka pada tahun 1945 dan dibuat oleh orang belanda. Diperkirakan kereta itu sudah ada sejak tahun 1930. Hal itu berdasarkan keterangan dari pengurus pemakanan sebelum dirinya. “Tahun 1970 saya menjadi pengurus pemakaman dan kereta ini memang sudah ada,” ungkap Suaib.

Masih menurut Suaib, hingga saat ini kereta china tersebut masih digunakan untuk ritual pemakaman jenazah ke pekuburan yang berjarak ratusan meter dengan berjalan kaki. Pada umunya kereta itu memang digunakan para etnis tionghoa. Penggunaannya bukan hanya bagi etnis tionghoa yang beragama budha saja tetapi yang beragama Kristen pun turut menggunakannya. “Intinya yang menggunakan adalah etnis tionghoa,” jelas Suaib.

Kata Suaib, ada beberapa kisah menarik dari benda tua peninggalan belanda tersebut. Kereta china yang diyakini menjadi satu-satunya yang tersisa di Sulawesi itu pernah ditawar oleh kalangan etnis tionghoa dari daerah tetangga yaitu Provinsi Gorontalo. Nilai tawarannya pun lumayan fantastis yakni menjadi Rp250 juta. “Karena benda ini menjadi peninggalan yang sangat langka,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh tokoh pemuda sekaligus ketua RT setempat bernama Indra Alfian. Kata dia, meski ditawar ratusan juta, kereta tersebut tidak akan dijual. Selain menjadi bukti bahawa Donggala adalah kota sejarah, kereta tersebut sebuah benda yang dgunakan sebagai tradisi etnis tionghoa. Peninggalan maupun kebudayaan dan tradisi seperti itu menurut Indra harus dipertahankan. “Inilah bukti bahwa Donggala adalah kota sejarah,” serunya.

Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Donggala, Muhammad, menegaskan, bahwa peninggalan sejarah maupun tradisi dahulu kala memang perlu dipertahankan. Hal itu bertujuan agar generasi saat ini maupun kedepannya akan tetap mengetahui puing-puing sejarah yang ada di Donggala. “Kalau tradisi dan peninggalan bersejarah ini hilang, anak cucu kita nantinya sudah tidak akan tahu lagi sebagian sejarah di Donggala,” tukasnya. (***)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.