Melihat KRI Dewaruci, Kapal Latih Legendaris yang Berlabuh di Palu

- Periklanan -

Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci yang berusia 65 tahun kini bisa dilihat langsung dengan mata telanjang di Dermaga Pangkalan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (Lanal) Palu, di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ini untuk yang pertamakalinya dermaga tersebut di singgahi KRI Dewaruci, dengan membawa 42 taruna AAL yang akan mengikuti Latihan Ketangkasan Navigasi Astronomi di Kota Palu.

Laporan: Adi Nur Alim dan Taswin, Palu

KRI Dewaruci yang memuat 42 Taruna TNI AL dalam rangka letak Astronomi Taruna ALL tingkat II tiba di dermaga TNI AL Lanal Palu, Selasa (29/5). (Foto: Wahono)

KRI Dewaruci sendiri merupakan kapal pelatihan bagi taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) TNI Angkatan Laut. Kapal ini bermarkas di Surabaya dan merupakan kapal layar terhebat dan terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci.

Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Waluyo SH MTrHanla menjelaskan bahwa kapal yang telah berlayar sejak tahun 1953 ini sudah berkeliling dunia sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1964 dan 2012. Pada pelayaran 1964 KRI Dewaruci membawa 78 orang Taruna AAL dan 32 Anak Buah Kapal (ABK) untuk mengarungi tujuh samudra serta lima benua.

“Pelayaran kedua dilaksanakan 48 tahun kemudian, tepatnya tahun 2012. Pada pelayaran keliling dunia kedua ini, KRI Dewaruci membawa 101 orang Taruna AAL dan 77 ABK. Selain menjadi legenda dalam hal pelayaran, KRI Dewaruci pun kerap meraih berbagai prestasi bertaraf internasional. Salah satu penghargaan internasional paling bergengsi yang pernah diraih oleh KRI Dewaruci adalah Cutty Shark Thropy saat Tall Ships Race di Australia tahun 1998,” katanya.

Kapal berukuran 50 meter lebih dan lebar hingga 10 meter ini dibuat di Jerman atas pesanan presiden pertama Republik Indonesia (RI) Ir Soekarno. Sebenarnya, pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena saat perang dunia kedua karena galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952 dan diresmikan pada tahun 1953.

Dewaruci yang dibuat pada tahun 1952 tepatnya di Jerman Barat ini, pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953, dan pada bulan Juli dilayarkan ke Indonesia oleh taruna AAL dan kadet Angkatan Laut Republik Indonesia. Setelah itu KRI Dewaruci yang berpangkalan di Surabaya, ditugaskan sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan juga ke luar negeri. KRI Dewaruci sampai saat ini mengelilingi dunia sebanyak 2 kali.

Waluyo menerangkan bahwa setiap tahunnya, kadet AAL berlayar dengan Dewaruci ke berbagai belahan dunia dengan tujuan utama adalah latihan pelayaran bintang atau disebut Kartika Jala Krida. KRI Dewaruci juga sering mengikuti lomba kapal layar di berbagai tempat di dunia. Kapal ini juga memiliki marching band sendiri, yaitu marching band taruna Akademi Angkatan Laut yang biasa dikenal dengan nama Gita Jala Taruna.

“Kapal Dewaruci sendiri memiliki panjang total 50 meter lebih, Lebar lambung hingga 10 meter, Bobot mati 850 ton. Kapal ini juga memiliki 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna serta memiliki 16 layar yang biasa disebut dengan Layar Barquentin, 16 layar dengan luas total 1000 lebih meter persegi,Tiang depan dengan tinggi 35 meter, Tiang Utama 36 meter dan Tiang akhir 33 meter. Selain menggunakan layar, KRI Dewaruci juga menggunakan mesin 986 PK Diesel sebagai alat gerak. Kecepatan penuh 10,5 knot dengan mesin, 9 knot jika memakai layar,” terangnya.

- Periklanan -

Komandan kapal legendaris ini melanjutkan bahwa di kapal Dewaruci sendiri ada keunikan tersendiri yang terpasang di tiap tiang kapalnya yang berasal dari beberapa daerah yang ada di Indonesia.

“Di tiang pertama atau Bima ada ornamen khas dari daerah Toraja, di tiang Yudhistira terpasang ornamen khas dari Jepara, dan di tiang Arjuna terpasang ornamen dari Papua,” lanjutnya.

Dia mengungkapkan bahwa terdapat tradisi yang turun temurun dilaksanakan KRI Dewa Ruci ketika melintas di selat antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera tersebut. Melaksanakan upacara tabur bunga untuk menghormati arwah Komandan KRI Dewa Ruci yang pertama, yaitu Kapten Pelaut August Friederich Hermann Rosenow. Tradisi ini selalu dilaksanakan oleh seluruh prajurit KRI Dewa Ruci sebagai penghormatan, karena atas permintaan beliau agar abu jasadnya di tabur di Selat Sunda.

“Saya berharap kapal ini bisa berlayar 100 tahun lagi baru boleh dimuseumkan dan bisa kembali ke Kota Palu untuk pelayaran selanjutnya jika diberi kesempatan, karena ada satu hal yang sangat saya rindukan dari kota lima dimensi ini yaitu Kaledo yang membuat saya ketagihan,” ungkapnya.

Kapal yang membuat nama Indonesia terkenal di bidang kemaritiman di tingkat internasional ini, tepatnya sekitar pukul 08.30 Wita pagi bersandar di dermaga pangkalan TNI Angkatan Laut Palu dengan memperlihatkan atraksi parade rol yang dimana tiga tiang kapal tersebut dinaiki para taruna dengan formasi khusus.

“Untuk parade rol sendiri itu biasanya kami laksanakan pada saat kapal kami sudah mulai berlayar dan ketika kapal kami sudah mau sandar ke dermaga,” ungkap Sersan Taruna (P) Abednego Simanjorang

Pengalaman tersendiri bagi Abednego Simanjorang, saat diperintahkan untuk naik kepuncak tiang kapal Dewaruci kata dia awalnya merasa tegang karena harus naik di ketinggian 35 hingga 50 meter. “Karena sudah terbiasa jadi sudah tidak tegang lagi diatas juga kami ada safety tali jiwa,” kata Abednego Simanjorang

Sementara itu dalam rangka event Kartika Jala Krida (KJK) merupakan pengalaman pertama bagi para taruna-taruni angkatan ke 65 ini berlayar ke luar negeri dengan berbagai persiapan seperti mempelajari letak navigasi astronomi  dan gendrang suling dan budaya-budaya di Indonesia yang nantinya akan ditampilkan diluar negeri. “Untuk bulan Agustus awal ini adalah pengalaman pertama bagi kami keluar negeri dan kapal yang kami naiki nanti adalah kapal Bimasuci,” lanjutnya.

Sama halnya dengan Sersan Taruna (P) Eka Rohana Lahaya. Taruni yang berumur 21 tahun ini mengaku memilih ingin menjadi angkatan laut karena memiliki jiwa penantang dan penasaran dengan kegiatan yang didominasi kaum pria ini.

“Tentunya merasa tertantang, kami yang biasanya di sekolah mayoritas perempuan dan di sini kami bisa melaksanakan langsung kegiatan yang didominasi laki-laki ini. Apalagi kapal Dewaruci yang menjadi impian saya untuk bisa berlayar dengan kapal legenda ini,” ujarnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.