Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Melihat Kalamba Terbesar di Situs Pokekea Poso (1)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

JELASKAN: Juru pelihara Situs Pokekea, Sunardi Pokiro (kedua dari kiri) saat menjelaskan tentang megalit yang ada di Dusun Pendele, Desa Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso tersebut, kepada Ahmad Guntur Nanrang Jr (paling kiri), Avik Muh. Nur (kedua dari kanan) dan Muh. Aqshadigrama, Selasa (3/1). (Foto: Nursoima)

Di awal Tahun 2017, Radar Sulteng bersama dengan sekelompok siswa yang tergabung dalam komunitas Zetizen Radar Sulteng mengunjungi Situs Megalitik di Lembah Behoa dalam misi Megalit  Hunt, yang terletak di Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso.  Tujuannya mengisi liburan sekolah dengan aktivitas edukatif tetapi seru.  Seperti apa?

Laporan: Nur Soima Ulfa


TERAKHIR menginjakkan kaki di Lembah Besoa sekitar 6 tahun lalu. Tidak banyak kenangan yang tersimpan dari lembah purba ini. Kecuali kumpulan kalamba alias sarkofagus di situs megalitik Pokekea.Ya, di tempat ini, sebatas pengetahuan, terdapat lebih dari 6 batu raksasa yang dipahat menyerupai gentong air, berkumpul di tengah padang rumput yang dipangkas rapi. Sisanya, terpencar beberapa meter dari kumpulan kalamba ini. Ada juga 4 batu yang berupa patung menyerupai manusia.

Berkesempatan kembali lagi ke situs Pokekea pada 3 Januari 2017 lalu, terasa bernostalgia. Tidak ada yang berubah dari tempat ini. Tetap terjaga dan terawat. Itu bisa dilihat dari rapinya tempat ini. Rumput dipotong dan nyaris tidak ada sampah, meskipun di tempat ini anak muda dari Kota Palu tak jarang mendirikan perkemahan. Sama seperti yang kami lakukan.

Situs Pokekea menjadi situs megalitik pertama yang dikunjungi oleh Radar Sulteng bersama dengan empat anak muda anggota komunitas Zetizen Radar Sulteng (liputan mereka bisa dilihat di Halaman Zetizen Radar Sulteng hari ini, red). Mereka begitu bersemangat ikut serta dan tak sabar untuk flash back dan merasakan sensasi perabadan ribuan tahun sebelum masehi. Kurun waktu di mana megalit ini dibuat pada zaman periode Batu Besar (Megalitikum).

Pagi sekali saat kabut tebal masih mengantung dan udara begitu dingin, kira-kira pukul 07.00 WITA, seorang pria mendatangi perkemahan kami di situs Pokekea. Berbaju kaos hijau, bercelana puntung, dan memakai topi serta ransel. “Selamat pagi! Boleh isi buku tamu?” sapanya ramah, sembari meyodorkan buku album di tangan kanannya.

Dia kemudian memperkenalkan diri sebagai Sunardi Pokiro (38), seorang juru pelihara yang ditugaskan negara untuk merawat, memelihara dan menjaga benda megalit di Situs Pokekea, yang terletak di Dusun Pendele, Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso. Sunardi pun meminta maaf tidak bisa menemui kami lebih awal pada malam hari, karena mengikuti ibadah penutupan peringatan Natal dan Tahun Baru di gereja.

“Pak Sergius Mentara (koordinator juru pelihara, red) telepon saya, jadi apa yang bisa saya bantu?,” tanyanya lagi.

Setelah diutarakan maksud kedatangan kami, bak seorang profesional, Sunardi  langsung mencecar kami dengan berbagai informasi berharga, tentang megalit di Lembah Behoa secara umum dan tentunya di situs Pokekea tersebut.

Selama kurang lebih dua jam lebih, kami diajak untuk tur sembari mendengarkan penjelasannya satu per satu, sesuai jenis megalit dan kegunaanya. Baik versi hasil penelitian pun dengan mitologi yang dianut oleh masyarakat setempat.

Sunardi menjelaskan Situs Pokekea menurut masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat permandian putri raja tempo dulu. Itu karena terdapat batu-batu besar yang di tengahnya berlubang. Masyarakat langsung mengasumsikannya sebagai bak mandi.

Tapi pendapat itu kemudian terbantahkan dengan hasil penelitian para ahli arkeolog, yang menyimpulkan batu-batu besar berlubang itu adalah kalamba atau sarkofagus. Fungsinya adalah kuburan ke dua. Itu terbukti dari tulang belulang dan ratusan gigi manusia yang ditemukan di dalam kalamba. Di situs Pokekea ini ditemukan kalamba terbesar di dunia dengan motif gambar 8 dewa mata angin. Dewa yang disembah oleh masyarakat dahulu yang menganut animisme.

“Arkeolog kita menyatakan  kalamba ini paling besar sedunia. Sayangnya, sudah terkelupas sejak dilakukan pembersihan dengan bahan kimia. Tidak cocok rupanya,” ungkap Sunardi.

Menurut Sunardi, pernah ada pihak konservasi Candi Borobuddur yang datang dan meneliti kekerasan batu megalit di Pokekea. Termasuk mencari bahan kimia yang cocok sebagai pembersihnya. Namun, cairan kimia pembersih yang digunakan tidak cocok dan malah berdampak negatif.

Sunardi mengungkapkan ada 103 benda cagar budaya berupa megalit baik berukuran besar maupun kecil di Situs Pokekea. Jumlah itu kemungkinan besar bertambah di masa depan karena  sejatinya memiliki luas 30 hektare sesuai dengan pemetaan. Namun yang dirawat dan terbuka untuk dikunjungi barulah 4 hektare. Artinya, masih banyak tempat di Pokekea yang belum digali dan berpeluang besar menyimpan megalit di dalamnya.

Ke-103 megalit yang  disebutkannya ada di Pokekea, dalam berbagai macam dan fungsi. Selain kalamba yang digunakan sebagai tempat kuburan ke dua, ada pula patung yang diasumsikan sebagai ketua suku dan meratapi kematian istrinya. Patung istrinya berbaring tepat di hadapannya. Hanya sekitar setengah meter dari patung istri kepala suku yang terbaring itu, ada dua patung yang diasumsikan sebagai anak-anak mereka.

Disekitar patung tersebut juga ditemukan batu papan dakon, yang berfungsi sebagai kalander kuno. Dakon berfungsi sebagai pemandu untuk menentukan posisi matahari, bulan dan bintang, sebagai bahan rujukan dimulainya musim tanam dan sebagainya.

Sekitar 50 meter dari patung kepala suku dan kumpulan kalamba tersebut, di Situs Pokekea juga ditemukan sejumlah batu yang digunakan sebagai tempat duduk. Diasumsikan, sebagai tempat pertemuan dan juga ada beberapa batu berupa meja persembahan atau ritual. Ada pula batu lumpang seperti halnya yang ditemukan di Situs Vatunonju.

“Jadi dengan semua penemuan ini, dulunya 2.700 tahun sebelum masehi di Pokekea ini diduga adalah tempat pemukiman ramai penduduk. Tempat ini di ketinggian dan tempat rendah di sekeliling Pokekea ini dulunya adalah danau. Menurut penelitian, baru pada abad ke 5 masehi danau itu berubah jadi daratan seperti ini,” jelas Sunardi.

Dia mengungkapkan di sekitar area Pokekea juga sering ditemukan peninggalan belanga tanah yang terkubur. Belanga itu kerap ditemukan oleh peneliti yang datang. Termasuk mahasiswa yang melakukan penelitian. Menurut Sunardi aktivitas penelitian sempat surut alias sepi pada saat Operasi Tinombala gencar pada 2016 lalu. Namun akhir 2016 hingga pergantian tahun, aktivitas kunjungan di Lembah Behoa, kembali naik.

Lebih lanjut, Sunardi mengatakan Situs Pokekea selama ini lebih populer di antara pengunjung meskipun menurutnya ada banyak megalit yang lebih unik di situs lain. Mengapa begitu? Situs Pokekea lebih mudah dijangkau dan megalitnya berkumpul dengan jarak yang dekat satu sama lain.

”Padahal ada banyak situs di Lembah Behoa ini dan megalitnya lebih unik. Misalnya, di (Desa) Lempe, ada tiga situs di sana. Megalitnya ada patung ibu hamil, ada juga patung yang menyerupai wajah burung hantu. Unik di sana, tapi tidak sebayak orang yang datang ke Pokekea,” ungkapnya.

Sunardi menyebut ada 28 situs yang tersebar di 8 desa di Kecamatan Lore Tengah, yang bisa dijelajahi. Untuk bisa ke semua situs itu, bisa memakan waktu paling sedikit 1 minggu. Menyadari jika tim Radar Sulteng dan Zetizen Radar Sulteng hanya memiliki waktu kurang dari 12 jam untuk menjalankan misi Megalit Hunt, maka Sunardi lantas menyarankan agar tim mencari megalit di 5 situs saja. Yakni Situs Pokekea, Situs Bangkeluo, Situs Lempe, Situs Tadulako dan Situs Padang Masora.(bersambung)

 

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.