Melasti, Momen Penyucian Diri Jelang Nyepi

- Periklanan -

Proses persembahyangan hingga melasti di Pantai Layana, Kecamatan Mantikulore, Kamis (15/3). Ratusan umat Hindu di Kota Palu memadati lokasi melasti mulai dari siang hari. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Ribuan umat Hindu di kota Palu melaksanakan ritual Melasti menyambut perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1940 yang dilakasanakan di pantai Dupa, Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikulore, Kamis (15/3) kemarin.

Ketua Parisada Hindu Dharma Kota Palu , I Nyoman Dwinda menerangkaan, arti dari kata Melasti adalah membuang mala atau membuang kotoran. Dia juga menerangkan, makna dari ritual ini untuk membersihkan diri baik dari penganut Agama Hindunya mau pun segala perlalatan dan lambang –lambang untuk upacara semuanya dibersihkan. “Melasti itu kalau kita liat dari makna kata-perkatanya, berawal dari kata Mala dan asti, mala itu artinya kotor kemudian  Asti itu artinya membersihkan dan intinya untuk mensucikan,” terangnya.

- Periklanan -

Lanjut Dwinda, ritual ini lakukan di laut karena dirinya dan umat Hindu meyakini bahwa air itu dapat mensucikan segala sesuatu yang kotor menjadi bersih serta meyakini bahwa sumber air yang paling baik adalah air laut sehingga pada ritual Melasti mereka pergi ke tengah laut untuk mengambil Air. “Di dalam Pustaka Sucinya itu disebutkan bahwa air itu bisa mensucikan segala sesuatu yang kotor, makanya kami mengambil air laut karena menurut kami sumber air paling baik adalah ari laut,” ungkapnya.

Dari pantauan koran ini, umat hindu yang mengikuti ritual menggunakan pakaian berwarna cerah dan di dominasi warna putih. Ritual yang digelar dua hari menjelang nyepi ini berjalan khidmat dan lancar. Ada pula beberapa warga sekitar berbondong-bondong datang ke lokasi ritual karena adanya suguhan music tradisonal yang mengiringi jalanya ritual tersebut dan menjadi daya tarik bagi warga sekitar.

Setelah melakukan ritual, panitia penyelnggara membagi-bagikan bingkisan yang berisikan snack kepada anak-anak yang tinggal di sekitar lokasi dilaksanakanya ritual melasti ini. Ditemui usai ritual Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Sulteng, Anak Agung Ananta Putra mengatakan, bagi umat Hindu perayaan nyepi  merupakan sebagian dari pada intropeksi diri selama satu tahun serta memulai kembali dengan hal-hal yang baik. “Sebagai intropeksi untuk diri kita, kalau saya katakana sebagai charge untuk men-cas diri kita supaya spiritual kita menjadi meningkat,”  tutupnya . (cr8)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.