alexametrics Masyarakat Adat Desa Lemeleme Darat Bangkep Terima Penghargaan Proklim Utama – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Masyarakat Adat Desa Lemeleme Darat Bangkep Terima Penghargaan Proklim Utama

Melihat Gerakan Masyarakat Adat Didampingi Ilmuwan Hasilkan Sebuah Penghargaan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TAHUN ini Sulawesi Tengah meraih dua penghargaan ProKlim. Kedua-duanya itu berasal dari Banggai Kepulauan (Bangkep), salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), yakni dari Desa Lemeleme Darat dan Desa Balayon.

Seperti apa proses dan likalikunya penghargaan itu disabet, berikut catatannya.

MUCHSIN SIRADJUDIN, BANGKEP

KEPALA Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Bangkep, Ferdy Salamat, yang dikonfirmasi mengenai penghargaan tersebut mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkep mengusulkan enam desa Proklim untuk diikutkan pada program nasional program Kampung Iklim ini. Dari enam desa tersebut yang diusulkan oleh lembaga-lembaga di desa itu ada tiga desa, yaitu Desa Lemeleme Darat, Kecamatan Buko, Desa Balayon dan Desa Boyomaute, Kecamatan Liang.

Setelah diverifikasi, maka diumumkan beberapa hari yang lalu, Jumat (15/10), keluarlah surat dari Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK bahwa Bangkep memperoleh penghargaan trofi dan sertifikat Proklim Utama untuk Desa Lemeleme Darat Kecamatan Buko yang diusulkan oleh lembaga adat Togong Tanga. Sedangkan sertifikat Proklim Utama diberikan kepada Desa Balayon yang diusulkan oleh perkumpulan Salanggar.

“ Dari kedua penghargaan ini merupakan penghargaan satu-satunya di Sulawesi Tengah. Hanya kami Banggai Kepulauan yang meraih penghargaan ini, “ tuturnya.

Terkait dengan peran Pemkab Bangkep, sebagai daerah kepulauan yang memiliki risiko tinggi terjadinya perubahan iklim, disadari perlu adanya partisipasi aktif dari seluruh masyarakat dalam menangani perubahan iklim.

Menurutnya, Pemkab akan sibuk memperbaiki, merecovery. Sebab, kalau sudah disibukkan dengan mengurus memperbaiki lingkungan anggaran Pemkab akan habis, dan diyakini tidak akan mencukupi untuk memperbaiki lingkungan.

“ Kami dari pemerintah daerah memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada semua pihak yang ingin berkontribusi bagi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, “ jelasnya.

Harapannya sebagai seorang Kadis, adalah sinergitas antara lembaga adat dan pemerintah. Karena yang lebih dulu ada adalah lembaga adat baru itu pemerintah. Sehingga apa yang sudah menjadi ketetapan adat, harus bersinergi dengan pemerintah.

“Karena lembaga adat itu punya peran yang sangat penting untuk menjaga hutan. Mereka punya kawasan adat yang sangat penting. Mereka masih konsisten dengan adat kami, “ tandasnya.

Dihubungi Radar Sulteng, salah satu pengusul Proklim Utama dari Banggai Kepulauan, Un Maddus dari masyarakat adat Togong Tanga, menjelaskan kegiatannya dibantu oleh teman-temannya sesama masyarakat adat di desanya, Lemeleme Darat.

“ Saya ini bekerja tidak sendirian. Kami ada delapan orang, “ sebutnya.

Mengenai konservasi lingkungan hidup, kata Un Maddus, untuk Bangkep. Kemudian melindungi sumber mata air, mempertahankan kepentingan anak cucu kita kedepan. Melakukan kegiatan konservasi di setiap desa untuk perlindungan satwa, sosialisasi anak-anak kita dari TK, SD, SMP, SLTA, dan sarjana S1.

Dalam kesehariannya, aktifitas penting Un Maddus adalah melakukan sosialisi untuk menghentikan penggunaan senjata-senjata burung. Dengan sasaran tiga desa, yakni Desa Lalengan, Desa Oluse, dan Lemeleme Darat.
Inilah yang dijaga oleh Un Maddus, dan menjadi salah satu perhatian dunia untuk penelitian. Semua kegiatan masyarakat adat ini didampingi ilmuwan peneliti Dr. Mochamad Indrawan dari Pusat Penelitian Perubahan Iklim – Universitas Indonesia.

Un Maddus juga mengaku dia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya sebagai aktivis lingkungan selalu bersentuhan dengan Mochamad Indrawan, yang pada tahun 2015 diminta masyarakat bertindak sebagai penasihat lembaga adat Togong Tanga.

“ Bapak Mochamad Indrawan ini adalah guru saya untuk meneliti dari tahun 2004 sampai sekarang tahun 2021, “ ungkapnya.

Keberhasilan trofi ProKlim Utama sebenarnya tidak terlepas dari perhatian dan pendampingan dari peneliti ekologi yang telah menjadikan Kabupaten Bangkep sebagai laboratorium penelitiannya. Misalnya yang dilakukan oleh peneliti senior Mochamad Indrawan peraih penghargaan Kalpataru tahun 2018 ini, yang sejak 1991 melakukan penelitian ilmiah dan penjangkauan masyarakat di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) sehingga memasuki kurun 3 dekade mendedikasikan dirinya terhadap lingkungan alam di daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar di Provinsi Sulawesi Tengah ini.

Indrawan, tak henti-hentinya melakukan pendampingan dan memberikan arahan serta petunjuk kepada para aktivis lingkungan yang juga aktif di lembaga adat Togong Tanga Desa Lemeleme Darat. Dalam posisinya sebagai pendamping mengarahkan masyarakat adat ini mengikuti program Iklim. Dengan memberikan pemahaman, dan memfasilitasi bolak balik hingga mereka bergerak.
Tak mengherankan bila hasil pendampingannya itu diganjar penghargaan bergengsi Proklim Utama dari pemerintah pusat bagi pengabdi lingkungan Desa Lemeleme Darat, yang diperkuat oleh Un Maddus, Erton Pongalek, dan Frengki Balugi.

“ Penghargaan Proklim Utama ini juga sangat luar biasa. Di dokumen Proklim itu dijelaskan bahwa yang mengusulkan adalah masyarakat adat Togong Tanga. Yang bekerja sangat keras adalah tiga orang pendekar lingkungan dari Desa Lemeleme Darat yaitu Un Maddus, Erton Pongalek, dengan Frengki Balugi, “ ungkap Mochamad Indrawan.

Mereka para aktivis masyarakat adat ini, ujar Indrawan, telah bertahun-tahun berinisiatif melakukan kegiatan terkait konservasi termasuk penanaman pohon, melakukan pengembalian ekosistem atau restorasi ekosistem, menghidupkan Taman Kehati sebagai bentuk Kawasan ekosistim esensial, serta menghidupkan tanaman pekarangan dan obat-obatan. Kegiatan-kegiatan demikian sudah memenuhi berbagai kriteria untuk program Kampung Iklim (Proklim).

“ Sosok Erton Pongalek, misalnya, seorang diri menanam 500 bibit pohon hutan alami di sekeliling kebun garapannya. Frengki Balugi begitu semangat untuk menghidupkan kembali mata air dan mencegah perburuan satwa di desanya. Ini keistimewaan dari swadaya masyarakat adat. Apalagi ketika mereka didampingi untuk jangka waktu yang lama, “ terangnya.

Indrawan juga mengapresiasi peran pemerintah daerah, “ Trofi utama merupakan hasil perjuangan maupun kerjasama masyarakat adat beserta unsur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkep yang memasukkan data-data meskipun harus begadang sampai tengah malam, ” bebernya.

“Proklim kunci pembangunan lokal yang lebih baik dan manusia beserta ekosistem yang lebih sehat dan berkualitas. ProKlim bukanlah suatu beban, melainkan sebagai suatu kesempatan yang luar biasa, ” pungkas Indrawan.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.