Manusia Khilaf

Oleh : Muhammad Khairil *)

- Periklanan -

Jelang Idul Fitri, diantara tradisi dan budaya maaf, selalu saja kita saling mengirim pesan, baik secara personal melalui sms atau sekarang cenderung melalu whatsapp, salah satu media sosial yang saat ini banyak digunakan sebagai media komunikasi antar manusia. Apapun media yang kita gunakan, prinsipnya adalah pengakuan bahwa sebagai manusia khilaf, rasanya wajib hukumnya kita menyampaikan maaf terhadap sesama.

Namun lebih dari itu, memberi maaf adalah kemuliaan manusia di atas manusia lainnya.
Bahasa yang begitu umum seringkali kita dengar, bahwa tidak satupun manusai sempurna. Setiap manusa diberi kelebihan namun juga dilengkapi dengan kelemahannya. Ada manusia yang seolah disempurnakan fisiknya, cantik, putih dan tinggi semampai namun sayang, ia cenderung angkuh dan merasa diri lebih cantik dari yang lain. Sebaliknya, rasanya penuh haru, ada orang yang lemah fisik bahkan terbatas dengan hanya punya tangan namun ia lebih bermanfaat dari begitu banyak manusia yang sempurna fisiknya.

“Saya lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan Adam hanya dari tanah”, demikian penggalan dialog di antara Tuhan dan iblis, yang menyiratkan juga menyuratkan kedalaman makna akan arti sebuah kesempurnaan diri. Ibadah dan ketaatan sang iblis seketika teruji ketika Nabiullah Adam AS tercipta. Sirna bahkan sia-sia sudah nilai ketaatan sang Iblis dan seketika berubah sebagai makhluk pembangkang yang diutus sebagai penggoda alam syahwat manusia.

Bukankah Qarun adalah manusia yang taat ketika miskin ? Namun seketika ia berubah karena kekayaan yang telah Allah SWT berikan. Qarun adalah manusia khilaf yang tenggelam dengan harta bendanya. Ia menjadi manusa dengan segala keangkuhan lalu ditenggelamkan dengan seluruh kekayaannya hingga menjadi legenda yang dicari oleh para manusia penikmat harta sebagai harta qarun.

Sifat sombong (al-kibr) dan menyombongkan diri (al-takabbur) merupakan penyakit hati yang melambungkan seseorang seolah menjadi manusia paling hebat.

Kesombongan, menurut Ghazali, bermula dari kekaguman seseorang kepada diri sendiri, lalu memandang rendah orang lain. Disinilah sebagai cikal manusia mulai lalai dan khilaf akan kemanusiaannya, bahkan dihadapan Tuhannya.

Menarik untuk menjadi ibrah bagi kita semua, bagaimana Tuhan memberikan hikmah kepada Nabiullah Musa AS. Dalam satu pernyataannya, Musa AS pernah menyampaikan bahwa “Ana a`lam al-qaum”, akulah orang yang paling pandai di negeri ini. Lalu Nabiullah Musa dipertemukan oleh seorang alim namun begitu sederhana, dialah khidir. Secara filosofis, kisah khidir dan Musa AS diabadikan dalam Al Quran Surah Al Kahfi. Pembelajaran yang kemudian menyadarkan Musa AS bahwa “Tuhan memberikan Ilmu-Nya hanya sedikit”, begitu luas pengetahuan dan Ilmu yang ada dimuka bumi. Kita mungkin hanya satu diantara sekian ribu ilmuan yang pandai namun bukan berarti kitalah yang paling hebat dan dengan angkuh menafikan keilmuan orang lain.

- Periklanan -

Lalu bagaimana dengan kekuasaan ? Siapa yang tak mengenal Raja Namrud ? Ia memiliki harta karun yang luar biasa. Cadangan makanannya berlimpah, bala tentaranya banyak, serta istana yang megah bersama menara babel Raja Namrud. Namun sangat menyedihkan karena ia tidak hanya mengakhiri kekuasaannya namun juga hidupnya berakhir dengan sangat tragis hanya oleh seekor nyamuk. Lalu apakah kekuasaan masih menjadikan kita begitu sombong dan seolah tahta itu abadi ? Sebuah renungan untuk tidak “menuhankan” jabatan, terlebih jangan hanya karena jabatan, silaturrahim terputus, persaudaraan terlukai, dengan mudah melupakan kebaikan orang lain terlebih jasa mereka yang telah “mendudukan” kita pada jabatan itu.

Begitu banyak catatan sejarah yang telah menghempas para penguasa dari kekuasaannya. Legenda yang telah jadi cerita turun temurun bagaimana seorang Fir’aun yang berkuasa selama 760 tahun. Menurut salah satu sumber nama asli Fir’aun adalah Al-Walid bin Mush’ab. Namun, dari sumber lain disebutkan nama Fir’aun adalah Qabus bin Mush’ab. Ketika Nabiullah Musa diminta untuk mengingatkan Fir’aun, lalu Musa AS berdoa “Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”.

Doa Nabiullah Musa AS, kemudian menjadi doa sejuta ummat, khususnya bagi mereka yang terdzalimi oleh kekuasaan. Berhadapan dengan para penguasa yang dzalim, bagai berhadapan antara Musa AS dan Fir’aun.

Jelang kematiannya, ketika ia menyadari telah berada di tengah gelombang samudera laut merah, Fir’aun memohon ampun kepada Allah. Perkataan taubat Fir’aun ini terekam jelas dalam Al-Qur`an surat Yunus ayat 90, “Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercaya Bani Israel dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Refleksi juga introspeksi diri, akan menjadikan kita manusia khilaf yang sadar. Nilai-nilai Ibadah kita dihadapan Tuhan, tidaklah bernilai Ibadah andai kita lalai dan sombong. Seolah dengan sujud, kita menjadi manusia paling taat. Seolah dengan Khutbah, kita menjadi manusia paling suci. Seolah dengan pengetahuan agama yang setitik bahkan mungkin masih dangkal, kita begitu mudah saling mengkafirkan satu dan yang lain, padahal rujukan kita sama, Al Quran juga Sunnah.

Muhasabah diri, akan melahirkan manusa yang sadar atas kemanusiaannya. Diri kita sungguh terbatas dan jauh dari sempurna. Kita akan sangat membutuhkan orang lain bahkan andai kita sadari, betapa banyak dari kesuksesan hidup kita termasuk jabatan yang kita emban adalah karena jasa dan kebaikan orang lain. Kesadaran ini akan mengantarkan kita bahwa jangan sampai kita menjadi manusia yang bagai kacang lupa akan kulit. Sebelum bertahta, sungguh ramah dengan senyum yang mengembang, setelah meraih kuasa, seolah lupa akan janji, kawan pun jadi lawan, bahkan kuasa seolah menjadi abadi.
Jelang hari nan fitri, seperti kata para bijak, kita kembali pada kesucian diri. Suci karena kita menyadari bahwa kita adalah manusia khilaf dan karena khilaf, dengan tangan terbuka, kerendahan hati dan tidak perlu malu, kita mengulurkan tangan, kita menyampaikan kabar maaf melalui sms, whatsapp, bahkan mungkin kita saling menghubungi satu dan yang lain.

Mulia karena memaafkan tapi akan jauh lebih mulia dengan kebesaran hati, kita menyampaikan permohonan maaf karena kita adalah manusia khilaf.

*) Penulis merupakan dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNTAD dan Wakil Ketua Himpunan Dai Muda Sulawesi Tengah.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.