Mantan Wartawan Radar Sulteng Biro Luwuk Tutup Usia

- Periklanan -

BANGGAI-Innalillahi wa inailaihi rojiun, selamat jalan kawan, kawan kita semua Suprianti Suni. Mantan wartawan Radar Palu dan Radar Sulteng yang ditugaskan di Biro Luwuk Kabupaten Banggai, sejak 2004 dan berhenti setelah dirinya diangkat sebagai CPNS. Meninggalkan suami, Erick Laguni, dan seorang anak perempuan, Aska Dina.

Usianya masih tergolong muda, 43 tahun. Lahir di Bonebobakal, Kabupaten Banggai, 5 Februari 1977. Sebelum meninggal dan dirawat di ruamh sakit, Suprianti Suni, S.Ag, adalah ASN di Pengelola Situs atau Web Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah.

Suprianti oleh kawan-kawannya akrab disapa Yanti. Pernah bekerja sebagai wartawan Radar Palu, media cetak group Radar Sulteng, yang didirikan H. Kamil Badrun, SE., M.Si, pada tahun 2003. Kemudian pada 2004, Yanti bersama kawan-kawannya wartawan Radar Palu diorganikkan menjadi wartawan tetap Radar Sulteng.

Untuk mengenang sosok Yanti, mantan wartawan Radar Palu dan Radar Sulteng, Yardin Hasan bercerita singkat kiprahnya bersama almarhumah, dan sahabat-sahabatnya yang lain saat di Radar Palu, yang dikomandani Andono Wibisono menjadi tim yang kompak. Bersama Indra Yosvidar, Abdee K. Mari, Aslan Laeho, Muchsin Siradjudin, Tasman Banto, Zainuddin Jacub, Misbachuddin Moh. Jaiz, Samsuria Tajang, Andre Sondeng, Ira dan Maslawati di posisi admin kita mampu menjadikan Radar Palu dengan format 16 halaman lalu berubah 12 halaman, sebagai koran rujukan alternatif di samping media yang sudah mapan saat itu, Radar Sulteng.

Kata Yardin, tim redaksi Radar Palu saban hari menggelar rapat, menentukan angle liputan dan menentukan artikel untuk halaman satu adalah santapan akrab kita di hari-hari nan berat itu. “ Sebagai reporter yang mengawal desk Kota, kamu (Yanti, red) diserahi tugas tambahan, mengetik naskah Surat Pembaca, “ tutur Yardin memulai kisahnya.

Pekerjaan di redaksi menuntut kecermatan yang tinggi, hingga menyortir rubrik Surat Pembaca yang menjadi andalan koran Radar Palu saat itu. Mengawal Surat Pembaca harus pandai berinovasi dan berkreasi. Hingga beberapa Surat Pembaca yang dikirim pembaca tak mencantumkan namanya, karenanya para redaktur dimana Yardin Hasan saat itu Redaktur Kota harus berkreasi dan membubuhkan nama tertentu di Surat Pembaca.

Sosok Yanti dan Yardin, memang kompak dan membuat ruang redaksi selalu “bernyawa”, ada semangat di dalamnya. Tentu setelah tidur pulang dari meliput. Ada-ada saja yang menjadi hiburan pelepas lelah. Tak terkecuali membuly almarhum Zainuddin Jacub, yang juga disapa pak Jai.

- Periklanan -

“ Di tengah keruwetan menyortir naskah, kami kadang membullymu dengan almarhum Zainuddin (pak Jai). Walau terus dirisak, kamu tak pernah sekalipun marah, selain tersenyum yang membuat kami makin kreatif mengeluarkan jurus bullyan baru, “ ungkap Yardin mengenang. “Maafkan kami Yanti, “ tutup Yardin.

Yardin juga menyebut, mereka pindah ke Radar Sulteng karena kebijakan manajemen yang menginginkan struktur perusahaan yang lebh ramping.

Setahun bersama di Radar Palu, kita pindah di ruang redaksi Radar Sulteng. Seiring dengan waktu, Yanti dipercaya menjadi Kepala Biro Radar Sulteng di Luwuk Banggai. Pilihan untuk menempatkannya sebagai Kepala Biro, agar lebih dekat dengan kampung kelahirannya di Desa Poro’an.

Saat menjadi kepala Biro itu, di Banggai sedang berlangsung suksesi (Pemilihan Kepala Daerah, red) Kabupaten Banggai yang salah satu kontestannya pamannya sendiri, Syahrain Suni berpasangan dengan Herwin Yatim.

Integritasnya sebagai jurnalis, teruji di sini. Beberapa kali tulisannya yang dikirim ke Redaksi Radar Sulteng, melalui faxmilie mengeritik pamannya yang mantan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Banggai itu.

“Saat itu, belum ada teknologi SMS Banking. Jika pun ada, belum banyak yang menggunakannya. Maka setiap bulan gajinya harus saya transfer di BNI Sudirman. Sebagai kompensasinya, Yanti mengirimkan saya keripik keladi. Kegemaran saya sama keripik ini bahkan terbawa hingga sekarang, “ sebutnya.

Setahun lebih menjadi kontributor di Banggai, Yanti pulang ke Palu. Saat itu ia sudah mengantongi gelar S1 Tarbiyah di STAIN Datokarama – kini IAIN Palu. Bekal itulah yang kemudian membuat ia mencoba peruntungannya sebagai ASN di BPG kini LPMP Palu. Dan lulus. Saat itu pun ia berhenti sebagai wartawan di Radar Sulteng. Sekaligus mengakhiri dua tahun karir jurnalistiknya 2003-2005.

“Seusai di Radar Sulteng, frekwensi pertemuan makin berkurang. Kesibukan masing-masing makin menjauhkan kita. Sesekali bertemu dan lebih sering bertegur sapa di sosial media. Hingga, pukul 20.03 tadi, Nyunyun Jo memberitahu kabar duka, setelah sehari dirawat di rumah sakit. Jenazahnya dikebumikan di Kampung kelahirannya, Desa Poro’an, dibawa malam ini juga.
Semoga husnul khatimah. Selamat jalan sahabat terbaik. Di sini kami memanjatkan doa untukmu, “ tutup Yardin.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.