Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Mansur, Pengecer Koran yang Berjualan di Jalan Moh Yamin Sejak 2005

Sudah Lima Sepeda Motor Dibeli, Semuanya Tidak Pernah Dicicil

SETELAN pengecer ini juga cukup menarik perhatian orang. Memakai topi, kacamata hitam, kaos, celana pendek, ada satu buah tas kecil diselempangkan. Headset yang tak pernah lepas di kedua telinganya, agar tidak cepat bosan. Sosok ini tidak asing bagi pengendara yang kerap melintas di Jln. Prof. Moh Yamin (Jalur Dua). Siapa dia?

MUGNI SUPARDI, Tatura Utara

TUBUHNYA yang gempal dan bongsor sekilas tampak sangar, tapi hatinya lembut bagaikan es di kutub Selatan, selalu dan saban hari ketika menjual koran pasti menghadap ke arah Selatan. Masing-masing tangannya memegang dua buah koran lokal di Palu, diangkat sampai sebatas kepala. Kadang berdiri, kadang juga duduk jika memang capek menunggu pembeli. Posisi itu dia lakukan setiap kali menjajakan korannya kepada pengendara yang melintas di Jalan Moh Yamin, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Selatan.

“Sejak 2005 jualan koran,” kata Mansur kepada Radar Sulteng, Kamis (29/8).

Senin hingga Jumat, mulai pukul 07.00 sampai 13.00 wita adalah waktu kerja Mansur untuk mencari pundi-pundi rupiah. Jika tanggal merah dia absen dulu. Dulu lelaki jomblo ini menjajakan koran di depan SPBU Moh Yamin, tetapi sekarang posisi Mansur menjajakan koran tepat di depan Kantor Pos. Ada satu buah meja dan kursi, sebagai property pelengkap kerjanya.

Meja digunakannya untuk menaruh koran, kursi untuk dia duduk di atas trotoar jalan. Lokasi itu baru beberapa bulan ditempatinya. Karena sebelumnya titik dia menjual di dekat pintu SPBU Moh Yamin Palu. Setelah ada pekerjaan renovasi di SPBU, Mansur sedikit bergeser ke arah Utara.
“Kalau tidak salah bergeser ke sini tahun 2019 ini,” terang pria kelahiran 21 Oktober 1985 silam ini.

Perjalanan Mansur berjualan koran banyak suka-dukanya. Di tahun-tahun awal dia mengakui masih banyak orang yang membutuhkan koran. Dalam sehari dia bisa menjual dari 50 sampai 60 eksamplar. Keuntungannya dari koran lokal dari Rp 1000 hingga Rp 2500 per 1 eksamplar yang terjual. Jika dalam sebulan bisa mencapai Rp 3 juta.

Akan tetapi sekarang kondisi itu seakan berbanding jauh, keuntungannya hanya hampir Rp 1 juta. Koran yang dijualnya dari 30 sampai 40 eksamplar setiap hari. Kadang habis, kadang juga tidak. Apalagi kata Mansur saat ini masyarakat sudah banyak menggunakan handphone android yang serba canggih, sehingga daya beli koran menurun. Penjualan koran juga biasa tergantung pada tanggal tua dan muda. Jika pada tanggal muda, Mansur mengakui korannya kadang ludes terjual.

Awal mulanya juga dia memilik langganan sampai 60 orang. Namun berjalannya waktu sekarang hanya 20 an orang saja. Langganannya itu diperkirahkan ada yang sudah pindah, menghilang, berhenti dan menjadi korban tsunami. “Tetapi yang penting keuntungannya itu masih bisa pakai pembeli pulsa, makan dan bensin motor,” ungkap anak pertama dari empat bersaudara ini.

Mansur mendapat berkah jika saat ada pengumuman CPNS di koran. Pengumuman CPNS menurutnya sangat berpengaruh, ketimbang pengumuman seperti mahasiswa baru Universitas Tadulako (Untad). Kalau ada pengumuman CPNS, pembeli saling berebutan koran. Bahkan tak jarang dia memarahi pembeli yang saling berebut dan tidak sabar untuk mendapatkan koran.

“Langsung saya bilang pasti dapat semua,” singkatnya.

Keuntungan Mansur dari pengecer koran juga tidak main-main. Dari 2005 hingga sekarang Mansur sudah berganti sepeda motor hingga 5 kali. Motornya juga tak pernah dicicil, dia tidak mau mencicil karena mengaku pasti sangat memberatkan setiap bulannya. Motor pertamanya adalah Yamaha Jupiter Z, kemudian dijual kembali dan membeli Yamaha Jupiter MX. Di jual kembali lagi dan membeli Honda Blade dan akhirnya dijual. Motor ke empatnya masih ada sampai sekarang yaitu Honda Vario.

Bukan hanya itu, lelaki yang suka tersenyum kepada siapa saja ini memiliki empat unit handpone berbagai merek. Semuanya merek terkenal dan terbaru. Mulai dari Samsung, Oppo, hingga produk terkini buatan Cina, Xiaomi. Bukan untuk gagah-gahan belaka, namun perangkat ini digunakannya untuk bisnis. Penjual koran milenial kadang merangkap sebagai pebisnis di lahan lain.

Mengenai motor ada cerita sedihnya, kata Mansur, motor yang diberikan untuk sang ibu tercinta itu terseret gelombang tsunami saat digunakan adiknya pada 28 September 2018. Dan sekarang dia menunggangi Honda N Max yang dia cash Rp 26 juta pada tahun 2016. Itu hasil tabungannya sejak 2012. “Kalau Vario sudah rusak, sekarang ada di rumah, tidak bisa digunakan lagi,” sebut pria yang mengidolakan penyanyi Mansur S dan Rhoma Irama ini.

Sedangkan handphone yang digunakan, memang tidak bisa kalau hanya hanya satu bagi Mansur yang terlihat sangat enjoy hidupnya ini. Terlihat di kantong tasnya, ada Oppo V11 Pro dan Oppo A3S menemani saat bekerja. “Kalau lobet satu, pakai satu lagi,” ujar Mansur.

Mansur yang menetap bersama ibunya di Jalan Kasuari, Kelurahan Birobuli Utara rupanya tidak selesai pendidikannya di tingkat Sekolah Dasar (SD). Pasalnya dia mengaku saat duduk di kelas II dirinya terlibat perkelahian dengan teman sekelas. Yang membuat dirinya bersama dua orang anak lainnya harus dikeluarkan dari sekolah. Meski tak selesai, pekerjaannya sekarang ini dia syukuri. Habis atau tidak korannya tetap sabar, begitupun untuk menunggu pembeli. Kadang masih ada juga warga Kota Palu yang mencari koran lama atau terbitan kemarin kepada Mansur. “Hanya sabar menjadi kuncinya,” pungkas penggemar coto ini.(***)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.