Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Lumpur Industri Nikel Cemari Rumput Laut

Petambak Solonsa Blokade Jetty PT Bumanik

MORUT – Warga petambak rumput laut Desa Solonsa, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali meblokade akses di areal jetty PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) menggunakan puluhan spedamotor, Kamis (24/10) kemarin.

Berdasarkan informasi diterima Radar Sulteng, aksi spontanitas kelompok warga tersebut dipicu oleh perubahan baku mutu air laut di sekitar jetty Bumanik. Fakta tersebut dikemukakan Wati, satu dari 25 warga Solonsa yang menggelar aksi itu.

Wati menyebutkan, kondisi air sudah berwarna merah bercampur lumpur. Hal itu katanya dapat dibuktikan ketika mereka memanen rumput laut.

“Rumput laut itu mengandung lumpur. Kondisi ini menjadikan kualitas rumput laut kami menurun 30-50 persen,” ungkapnya.

Ia juga memberkan fakta terkait pertumbuhan budi daya rumput laut yang terganggu akibat tidak lagi mendapat pasokan air tawar yang cukup dan bersih akibat adanya aktivitas pertambangan nikel.

Wati memastikan keluhan petambak ini dapat dibuktikan dengan warna rumput menjadi pucat dan kotor. Akibatnya, waktu panen antara 22 sampai 28 hari kini menjadi jauh lebih lama.

Selain dampak di atas, keberadaan jetty Bumanik beserta segala aktifitas di atasnya juga mengakibatkan hasil produksi rumput laut petambak menurun per hektar.

“Saat ini hasil produksi hanya mencapai 1 hingga 1,5 ton per hektar atau menurun dari 2 hingga 3 ton per hektar,” tandasnya.

Aksi warga yang menuntut solusi akibat menurunnya produksi rumput laut, akhirnya direspon manajemen PT Bumanik.

Dalam dialog yang ditengahi pemerintah desa dan pihak keamanan itu, Kapolres Morowali Utara AKBP Bagus Setiawan SH SIK memberikan pemahaman kepada warga bahwa pemalangan adalah kegiatan yang melanggar hukum pidana.

“Saya akan mencari solusi terbaik, bukan dengan pemalangan tetapi diskusi atau dialog,” ujar kapolres.

Bagus lantas menyarankan Kades Solonsa untuk melaporkan permasalahan desa kepada Bupati Morowali, sekaligus mengundang kepala daerah menghadiri dialog yang dijadwalkan Senin (28/10) mendatang.

“Saya akan menghadap Bupati Morowali, dan berikan waktu saya dua hari untuk komunikasi guna menyelesaikan masalah atau tuntutan saudara sekalian,” pungkasnya.

Upaya damai yang dilakukan Kapolres Morut itu direspon baik pengunjuk rasa. Mereka berterimakasih sekaligus meminta maaf sekaligus. Apa yang mereka lakukan merupakan akumulasi kekesalan terhadap perusahaan dan pemerintrah daerah.

“Terimakasih karena pak Kapolres mau membantu dan memfasilitasi terkait permasalahan ini. Mohon maaf karena kegiatan kami memalang melanggar hukum, karena kami sudah menyurat ke Pemda tetapi tidak ada tanggapan.” Sebut Wati.

Masih dalam dialog itu, Kades Solonsa Sadam sepakat dengan saran Kapolres Morut. Menurutnya, Bupati Morowali pasti punya solusi terbaik untuk para pihak terkait.

“Saya setuju kalau permasalahan ini dibawah ke Bupati Morowali. Saya yakin Bupati Morowali mempunyai solusi terbaik untuk masyarakat dan pihak perusahaan,” tandas Sadam.

Sementara itu, Humas Eksternal PT Bumanik Coy dihubungi Radar Sulteng melalui pesan whatsapp di nomor 082190624*** tidak merespon. Pesan tersebut hanya terncentang biru.

Budidaya rumput laut sudah lama berlangsung di Solonsa. Di sana terdapat berbagai kelompok penambak, di antaranya Mata Puteh, One Tolawa, dan Cakrawala.

Permasalah besar dihadapi warga itu adalah lokasi tambak mereka berada di antara jetty PT Bumanik, PT IMIP dan PT Alaska Dwipa Perdana.

PT Bumanik adalah perusahaan tambang mineral yang beraktifitas di Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara. Di daerah ini, Bumanik juga menuai banyak persoalan akibat ketidakjelasan ganti rugi lahan milik warga. Akibatnya, warga Desa Molores memblokir jalan houling Bumanik. (ham)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.