Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Longsor Walandano Donggala Semakin Parah

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SEMAKIN PARAH : Kondisi longsor di Desa Walandano Kecamatan Balaesang Tanjung, beberapa hari yang lalu. (Foto: Mugni Supardi)

DONGGALA-Masyarakat di wilayah Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten Donggala dan sekitarnya, kini semakin was-was dengan terjadinya longsor di Desa Malaei dan Desa Walandano. Selain longsor yang terjadi sebelumnya, kini wilayah itu semakin parah diakibatkan adanya aktifitas galian C yang dilakukan oleh sebuah perusahaan di sana.

Menurut Syaifudin, tokoh masyarakat dari Desa Malei, tetangga Desa Walandano, bahwa ratusan kendaraan yang terdiri dari roda maupun roda empat, baik yang keluar maupun masuk ke wilayah Kecamatan Balaesang Tanjung sekarang tertahan (terisolir), akibat tumpukan material dari hasil Galian C berupa tanah, pasir, batuan yang bercampur lumpur dari salah satu perusahaan Galian C yang ada di Desa Walandano.

“Sekarang material tersebut menutupi jalan poros menuju Tanjung. Hal ini terjadi disebabkan masih adanya proyek tahun kemarin, yang kelihatannya melompati lokasi, yang dilakukan pihak kontraktor dengan menggunakan anggaran APBN. Pemilik usaha beralasan lokasi yang dilompati pekerjaannya itu adalah area perusahaan tambang, “ paparnya.

Menurut dia, izin usaha tambang tersebut dikeluarkan oleh Bupati Donggala Drs Kasman Lassa, dan dilanjutkan dengan izin yang diperoleh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng karena peralihan kewenangan.

“ Kalau sudah begini kejadiannya. Pertanyaan yang muncul, siapa yang bertanggungjawab. Masyarakat tidak dapat menerima manfaat, tapi bencananya sudah jelas, “ tandasnya.

Ia juga mempertanyakan kepedulian anggota DPRD Donggala dan DPRD Sulteng, sebagai lembaga pengawas atas kebijakan Pemkab DOnggala. Mereka sebagai wakil rakyat, kata dia, telah terpilih dan dipilih oleh masyarakat di Balaesang Tanjung. “Apakah hanya sibuk bagi-bagi vocer untuk kepentingan pribadi. Nah ini ada fakta nyata, ada bencana alam. Dipertanyakan pula keberadaan perusahaan Galian C, sama sekali tidak melibatkan masyarakat dari desa-desa tetangga, tiba-tiba Perusahaan tersebut sudah beroperasi, “ tandasnya.

Karena itu, dengan semakin parahnya fasilitas jalan masyarakat yang ada di wilayah itu, Syaifudin meminta kepada Gubernur Sulteng untuk meninjau kembali izin operasional perusahaan tambang tersebut.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.