Longsor, Jalan Walandano-Malei Donggala Putus

- Periklanan -

PUTUS : Akses jalan Desa Walandano dan Malei terputus akibat terjadi longsor yang menimbun badan jalan. (Foto: Ujang Suganda)

DONGGALA – Hujan lebat yang melanda beberapa daerah di Kabupaten Donggala belakangan ini  berdampak pada longsornya tanah di Desa Walandano dan Malei Kecamatan Balaesang Tanjung akhir pekan lalu.

Akibatnya jalan yang merupakan akses satu-satunya masyarakat Kecamatan Balaesang tersebut terputus. Dari pantauan Senin (27/2), sedikitnya ada 14 titik longsor yang menimbun jalan tersebut. Kondisi terparah berada di sepanjang Desa Walandano.

Banyak kendaraan roda empat yang tertahan di Desa Malei. Beberapa mobil pengangkut barang yang biasanya sering melintas terpaksa harus menunggu jalan tersebut di perbaiki. Untungnya kendaraan roda dua masih bisa melintas setelah masyarakat sekitar membuat jalan sementara. Banyaknya bebatuan yang jatuh ke badan jalan semakin memperparah kondisi jalan.

Sulitnya akses yang ditempuh, membuat semua pengendara yang berboncengan harus turun dari motornya jika ingin selamat. Tak satupun ada pengendara yang berani berboncengan ketika melintas di lokasi longsor terparah.

Pengendara pun harus ekstra hati-hati. Pasalnya selain tertimbun oleh longsor, jalan yang dilewati pengendara berada di pinggir jurang dengan kedalaman mulai 20 hingga 50 meter. Bahkan di salah satu ruas, jarak antara jalan yang dilalui dengan jurang hanya berkisar 30 senti meter.

- Periklanan -

Bukan hanya akses jalan saja yang putus. Dampak lain dari longsor tersebut membuat beberapa tiang listrik nyaris roboh. Kabelnya pun sudah ada yang putus akibat tertimpa pohon kelapa. Ternyata kondisi itu membuat warga Desa Malei tak teraliri listrik.

Sudah dua hari listrik di Desa Malei dan beberapa desa lainnya itu padam. Di malam hari, masyarakat sekitar hanya mengandalkan mesin genset sebagai penerangan. Ada pula yang menggunakan pelita.

Menurut Salah seorang tokoh masyarakat Malei, Israfil, longsor yang terjadi tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Intensitas longsor sudah mulai terjadi pada awal tahun 2017. Kondisi terparahnya terjadi pada Sabtu (26/2) malam akibat diguyur hujan lebat.

“Setiap ada hujan, pasti ada longsor lagi. Tapi yang parah itu ketika Sabtu malam kemarin,” ungkapnya.

Israfil mengakui, banyaknya jalan yang tertimbun longsor, membuat aktivitas warga sehari-hari sangat terganggu. Dia hanya berharap, Pemerintah bisa segera menanggulangi permasalahan tersebut agar masyarakat bisa menjalan aktivitasnya kembali. “Semoga saja cepat ditanggulangi,” harapnya.

Terpisah, kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Donggala, Daestambu, mengatakan, pihaknya akan segera membuka kembali akses masyarakat yang tertimbun longsor tersebut. Saat ini kata Daestambu sudah ada satu alat berat berada di Desa Walandano yang nantinya akan digunakan dalam proses penanggulangan longsor tersebut.

“Kita sementara perhitungkan volume longsor yang ada. Jika alat berat yang sudah ada tidak mampu, maka kita akan tambah. Untuk saat ini kita hanya bisa bantu dengan dana tanggap darurat dalam menanggulangi longsor itu,” ujarnya. (ujs)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.