Lirik Sampah, Esar “Kepincut” Gaya Risma
Wacanakan Stuban ke Surabaya-Bandung, Siap Ajak Wartawan

- Periklanan -

- Periklanan -

IDOLAKAN RISMA : Wabup Tolitoli Moh Besar Bantilan wacanakan studi banding ke Surabaya untuk konsep penanganan sampah di Tolitoli. Ia berjanji sertakan wartawan.

TOLITOLI — Baru sepekan dilantik sebagai wakil bupati terpilih, Moh. Besar Bantilan tak ingin berlama-lama mencari solusi terkait penanganan sampah dan kebersihan.
“Persoalan sampah harus cepat ditangani jangan lagi berlarut-larut,” kata Esar di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kabinuang, belum lama ini.
Persoalan sampah dan kebersihan kota, dampaknya sudah bertahun-tahun dirasakan warga, khususnya di wilayah ibukota kabupaten, Kecamatan Baolan, paling momok adalah banjir.
Karena itu, lanjut Esar, konsep penanganan sampah perlu ada perubahan yang signifikan, boleh jadi copy paste pada daerah yang telah berhasil membawa perubahan, seperti Surabaya-Jawa Timur atau Bandung, Provinsi Jawa Barat.
“Saya lebih suka konsep ibu Risma. Caranya bagus, tegas dan punya kemampuan untuk membawa perubahan dalam penanganan sampah dan kebersihan. Karena itu, saya ada rencana untuk mengambil konsep Risma melalui studi banding ke Surabaya dan Bandung, mudahan bisa diterapkan di Tolitoli. Wartawan insyaallah bisa ikut,” janji wabup saat sidak TPA di hari pertama berkantor.
Untuk diketahui, konsep mantan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam menangani sampah dan kebersihan kota sebenarnya cukup sederhana tapi jitu. Contohnya seperti, memanfaatkan sampah dengan cara daur ulang menjadi kompos, dan kompos digunakan untuk menyuburkan tanah taman kota, untuk bahan pembangkit listrik, dan sebagian lagi direproduksi menjadi bahan yang bernilai ekonomis.
Pengolahan sampah menjadi sumber tenaga listrik sudah dimulai, yakni sampai diubah menjadi daya listrik berkekuatan 40.000 watt di tiga kecamatan. Selain itu, untuk memanfaatkan sampah agar bernilai ekonomis, Risma menggelontorkan program dan anggaran untuk mendidik fasilitator lingkungan, kaum ibu, remaja dan anak sekolah agar bisa membuat kerajinan daur ulang yang bisa menambah pundi penghasilan keluarga.
Di tempat yang sama, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Sudirman mengakui, armada pengelolaan sampah di Tolitoli saat ini belum memadai. Rinciannya, 10 mobil dump truck—2 unit rusak, sisa 8 unit beroperasi. Kemudian, kendaraan Bentor 10 unit hanya bisa beroperasi di wilayah kota.
“Tapi truk kita ini sisa 8 yang beroperasi, itu pun semuanya “kelahiran” tahun 70-an, sudah tua, sering rusak. Sering dioperasikan malah bengkak biaya karena berkutat pada perbaikan saja,” beber Sudirman saat mendampingi kunjungan kerja wabup.
Selain dump truck dan bentor, untuk petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup hanya memiliki 225 pasukan kuning. Jumlah tersebut belum bisa meng-cover seluruh titik yang harus dibersihkan di Kecamatan Baolan dan Galang.
Di hadapan wabup, Sudirman curhat terkait perlunya penambahan armada pengangkut sampah. Kalkulasinya, 1 unit dump truck itu mencapai Rp 450 juta lebih, dikali 10 unit maka total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 4,5 miliar.
“Lebih baik beli baru untuk menghemat anggaran, terus perbaikan justru lebih besar anggaran yang dibutuhkan,” sarannya. 
Selain mengenai armada, Sudirman juga mengakui, tingkat kedisiplinan warga Tolitoli untuk membuang sampah tepat waktu dan tepat tempat, masih jauh dari harapan. Padahal, dalam perda kebersihan, sudah ada sanksi tegas, seperti denda minimal Rp 300.000 hingga maksimal Rp 25 juta.
Dalam perda ditegaskan pula waktu membuang sampah, yakni pukul 07.00 Wita, sampah sudah harus berada di depan rumah masing-masing, kemudian dijemput oleh petugas pengangkut sampah, sedangkan di lorong-lorong pemukiman dijemput petugas sampah bentor.
“Tapi, kenyataannya tidak, masih banyak warga yang belum paham aturan, buang sampah seenaknya, di parit, selokan, sungai, akibatnya tumpukan sampah penyebab banjir. Nah, edukasi kepada warga juga sangat penting,” harapnya. (dni)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.