LIPUTAN KHUSUS | Crane Pantoloan Bikin Ketar Ketir, Jadi Penghambat

- Periklanan -

Akibat alat-alat utama untuk proses bongkar muat peti kemas sering mengalami kerusakan berdampak pada pengiriman barang dan merugikan pengusaha di Kota Palu dan sekitarnya. (Foto: Radar Sulteng/Mugni Supardi)

YANG paling merasakan dampak kerusakan container crane (CC) peti kemas maupun Rubber Tyred Gantry (RTG) di Pelabuhan Pantoloan baru-baru ini, adalah pelaku bisnis di Kota Palu maupun sekitarnya. Alat yang menjadi penentu lancar tidaknya aktivitas bongkar muat kontainer tersebut, justru mendatangkan ras was-was bagi pelaku bisnis atau pengusaha yang menggunakan jasa Pelabuhan Pantoloan.

Pelaku bisnis menuntut adanya kepastian. Jaminan ini mesti mereka dapatkan ketika menggunakan jasa pelabuhan terbesar di Sulteng itu. Berapa hari barangnya sudah sampai. Jika hari ini dikirim, kapan sudah bisa diterima. Tapi apa, kepastian yang mereka tunggu bak fenomena fatamorgana di pagi hari. Bisa dilihat, tapi tidak bisa digenggam. Pelaku bisnis jadinya “panas dingin”.

Kerusakan crane di Pelabuhan Pantoloan baru-baru ini bikin ketar-ketir. Mulai dari pelaku usaha furniture, sepeda motor, kelapa, dan pelaku usaha lainnya yang mengandalkan kontainer untuk mengirim barang dari luar daerah, hampir semua geleng-geleng kepala.

Seperti yang dirasakan salah seorang pemilik usaha furniture di Jalan RA Kartini, Kota Palu. Keterlambatan bongkar muat di Pelabuhan Pantoloan, membuat spring bed merk King Koil yang telah dipesan oleh pelanggan tak kunjung tiba. Lambatnya hingga berhari-hari. Pelanggan pun komplain dan kecewa. Sebab barang tersebut belum dikirim di rumah, sedangkan waktu kredit dibayar sudah dekat. “Kami join dengan beberapa pembiayaan/leasing. Akibat keterlambatan ini, hampir setiap hari kami diprotes. Kadang telinga ini sudah kebal ditelepon-telepon terus oleh pelanggan maupun leasing,”ujar pemilik usaha furniture pekan lalu.

Pemilik usaha furniture ini sebut saja namanya Ayu. Dia mengaku, barang miliknya paling lambat datang seminggu biasanya. Akibat crane di Pantoloan rusak, hampir dua minggu barang yang dikirim belum juga tiba di toko. “Pelanggan menelepon. Katanya seminggu kok tidak ada barang?. Pelanggan pun meminta dispensasi atau potongan harga,” kisahnya.

Karena hal tersebut, Ayu terpaksa bernegosiasi dengan pihak leasing. Dan pihak leasing hanya memberi waktu hingga seminggu. Padahal belum ada kepastian kapan kontainer berisi spring bed miliknya akan dibongkar.

Ayu malah meminta kebijakan dari laesing, supaya pelanggannya diberi kelonggaran waktu untuk membayar cicilan. Sebab barang yang akan diakad kredit belum ada.

“Saya kirimnya dari Jakarta. Karena spring bed ini merek terkenal, maka banyak juga yang pesan. Kalau lambat begini terus, bisa-bisa mereka kesal dan tak mau lagi beli sama saya,” tegasnya.

Untuk kerugian yang dialami, tidak seberapa besar. Hanya ratusan ribu saja dalam beberapa hari. Sebab omzet tidak naik dan perputaran uang juga ikutan lambat. “Kalau ini terjadi dalam waktu berdekatan, wah akan mengancam kelanjutan bisnis ini juga,”khawatir Ayu.

Keluhan yang sama disampaikan pelaku usaha sepeda motor. Juga dikeluhkan motor pesanan yang lambat hingga dua atau tiga hari baru sampai di toko. Akibatnya, banyak pelanggan yang bertanya-tanya kenapa motor yang dipesan belum ada juga hingga berhari-hari. Dampaknya terhadap kualitas pelayanan yang ikut terpengaruh.

“Saya jadi tidak enak janji-janji terus. Karena sering tak ada kepastian, kapan akan dibongkar barang kami dari kontainer,” ucap salah seorang public relatoin dealer ternama di Kota Palu.

Pihaknya berharap, kondisi ini cepat diantisipasi, karena kelancaran usahanya tergantung crane di Pelabuhan Pantoloan dalam kondisi “sehat atau justru sakit”.

Begitu juga yang dirasakan Weleam (22), pengusaha hasil bumi di Kelurahan Mamboro, Kota Palu. Dia mengakui, usahanya terkena dampak akibat kerusakan crane di Pantoloan. Hasil bumi yang dibelinya antara lain biji kemiri, coklat, cengkeh, buah kelor, kayu manis, biji mente, dan beberapa komoditi lainnya. Komoditi-komoditi itu paling sering dia kirim melalui jalur penyeberangan Pelabuhan Pantoloan menggunakan jasa peti kemas.

“Hasil-hasil bumi ini saya kirim ke Surabaya, lewat Pelabuhan Pantoloan. Kontainernya kalau bukan saya kirim via Temas atau Meratus, tergantung kapal mana yang cepat berangkat,” ujarnya kepada Radar Sulteng, Kamis (10/8).

Weleam saat itu sedang mengawasi pemuatan biji kemiri ke dalam kontainer. Dia menggunakan jasa perusahaan Meratus. Total kemiri yang dikirim ke Surabaya kurang lebih 20 ton. Hasil penjualan kemiri-kemiri baru akan diterimanya setelah barang sampai di tempat pembeli di surabaya. “Kita harap pengiriman selalu berjalan normal. Tidak sering terlambat. Karena barang saya dibayar ketika sudah sampai,” tuturnya dengan mimik serius.

Dia menceritakan, pernah bisnisnya kena dampak rusaknya crane di Pantoloan. Tepatnya Ramadan 2017 lalu. Hasil bumi yang akan dikirim kla itu yaitu kemiri dan beberapa komoditi lainnya.

Karena alat pengangkut rusak, kontainer yang berisikan hasil bumi terbengkalai begitu saja di pelabuhan. Kurang lebih sebulan berada di terminal penampung peti kemas Pantoloan. Untung saja, kontainer yang dipakai menyimpan barangnya masih baru, sehingga biar hujan tidak masuk air. Sebab tak sedikit kontainer yang sudah rusak dan bocor di Pantoloan.

“Rekan bisnis di Surabaya, terus menelepon menanyakan barangnya. Dikira kita dari Palu tidak kirim. Biasanya kalau normal, paling cepat empat atau lima hari sudah sampai barangnya,” ujar pengusaha muda warga Tionghoa berkebangsaan Indonesia ini.

Terbengkalainya pengiriman ketika itu, tak bisa dihindari berdampak pada omzet atau pendapatan. Karena, nilai jual hasil bumi yang dikirim ke Surabaya mencapai ratusan juta. Dan hasil dari pengiriman, kata Weleam, akan diputar kembali untuk membeli hasil-hasil bumi dari masyarakat.

“Saya hanya bisa sabar. Jasa ekspedisi mau dikeluhkan, mereka juga ternyata bergantung pada alat crane di Pantoloan yang “panas dingin” kondisinya,” tuturnya.

“Yang lebih kasihan akibat kerusakan crane, mereka yang mengirim sayur atau buah. Kalau sebulan terbengkalai, pasti kerugian besar terjadi. Karena semua sayur dan buah akan membusuk,” tambahnya.

Akibat gangguan di Pelabuhan Pantoloan, dia pun kini lebih jeli dalam mengirim hasil bumi. Sekarang ini sebelum mengirim, dia lebih dulu menghubungi jasa ekspedisi guna menanyakan pelayanan yang cepat, serta kapal ekspedisi mana yang berangkat duluan. “Supaya barang yang dikirim bisa cepat sampai. Dan cepat dibayar, lalu uangnya diputar lagi,” katanya lagi.

Sekarang ini, Weleam sudah berpindah hati. Lantaran tak mau merugi dan bergantung pada Pantoloan, dia kerap menggunakan jasa ekspedisi Samas yang ada di Desa Loli, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Walau tarif sewanya ada selisih lebih tinggi, dia harus menggunakan jasa Samas. Tujuannya mendapat kepastian supaya barang kirimannya lebih cepat tiba di tempat tujuan. Saat ini, aktivitas di Pelabuhan Pantoloan terkait bongkar muat peti kemas, menjadi kewenangan penuh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Cabang Pantoloan sebagai pemegang konsesi.

Tidak berhenti di Weleam saja. Kerusakan crane juga dialami perusahaan bahan makanan yang menerima kiriman barang dari Pulau Jawa. Seperti kecap, kopi, gula, teh, dan susu. Pihak perusahaan yang berkantor di kompleks pergudangan Kelurahan Tondo Jalan Trans Sulawesi, juga sedikit kesal dengan PT Pelindo IV.

Perusahaan yang menggunakan jasa ekspedisi Temas ini menyatakan, kerusakan alat crane di Pantoloan baru-baru ini jangan dianggap masalah biasa. Ternyata kerusakan itu berdampak pada penerimaan barang dari Pulau Jawa. “Ya berpengaruh sekali. Kadang kapalnya sudah masuk, tapi barangnya lambat turun dari atas kapal,” kesal salah satu sumber di perusahaan itu yang sempat ditemui koran ini.

Ditanya berapa besar kerugian akibat keterlambatan masuknya barang, menurut dia tidak begitu besar sih. Hanya ketika stok barang yang lain habis, begitu dipesan lagi tak datang-datang. “Kerugian tetap ada, hanya tidak dalam jumlah yang terlalu besar,” terangnya.

- Periklanan -

Pihak perusahaan juga mengakui, jasa ekspedisi sudah memberikan pelayanan terbaik. Namun perusahaan jasa pengiriman peti kemas juga bergantung pada alat crane yang ada di Pelabuhan Pantoloan. “Kalau Pelindo yang bertanggung jawab, ya diperbaikilah. Ini-kan untuk pelayanan dan kebaikan Pelindo juga,” ujarnya.

 

Alat PT Pelindo Sering Trouble

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Cabang Pantoloan, belakangan sempat menjadi sorotan. Karena alat-alat utama untuk proses bongkar muat peti kemas sering mengalami kerusakan. Dan terhitung sejak Januari 2017, Container Crane (CC) sudah beberapa kali mengalami trouble.

Informasi terpercaya yang didapatkan koran ini, kerusakan terparah pernah terjadi awal Februari 2017. Kerusakan CC pada saat itu menyebabkan crane sama sekali tidak bisa difungsikan hingga awal Maret. Padahal, CC merupakan alat utama untuk melakukan bongkar muat kontainer.

CC merupakan alat yang terletak di dermaga, tempat kapal sandar. Fungsi CC yakni mengangkat peti kemas dari kapal ke darat, begitu pun sebaliknya jika ada peti kemas yang akan diangkut ke kapal, menggunakan CC. Alat yang berfungsi untuk mengangkut peti kemas dari kapal ke darat milik PT Pelindo IV, sebenarnya ada 2 alat. Yakni CC dan luffing crane. Hanya saja, dalam kerjanya, luffinng crane tidak seoptimal CC. Bahkan untuk beberapa kapal khususnya milik Temas, luffing crane tidak bisa menjangkau sepenuhnya. Sehingga trouble pada CC merupakan hal yang fatal.

Selain CC, alat lain PT Pelindo IV Cabang Pantoloan yang pernah mengalami trouble ialah Reach Stacker (RS) dan Rubber Tyred Gantry (RTG). RS merupakan alat yang mobile di darat untuk mengangkat peti kemas. Untuk RS, PT Pelindo IV Cabang Pantoloan memiliki 1 buah. Sementara RTG merupakan alat dengan fungsi yang sama, namun tidak semobile RS.

RTG sudah memiliki jalur garis lurus tersendiri sedangkan RS, seperti mobil angkutan berat yang bisa berpindah-pindah. Saat RS milik PT Pelindo IV Cabang Pantoloan mengalami trouble (7/6), Manager SDM dan Umum PT Pelindo IV Cabang Pantoloan, Aminullah mengatakan, hal tersebut tidak mengganggu kinerja dan masih bisa disiasati dengan memaksimalkan RTG.

“Seandainya RS dan RTG rusaknya bersamaan. Itu yang baru mengganggu kinerja. RS  ini juga sudah ditangani teknisi, dan dalam waktu yang tidak lama bisa kembali berfungsi,” kata Aminullah saat kerusakan RS ditemui di ruang kerjanya.

Tidak berselang lama dari situ, koran ini mendapat informasi bahwa CC milik PT Pelindo IV Cabang Pantoloan kembali mengalami trouble. Tepatnya pada 13 Juli 2017. Saat itu, Aminullah mengatakan bahwa itu bukanlah kerusakan yang terjadi pada CC, melainkan ada alat yang diganti. Namun yang disayangkan ialah penggantian alat tersebut tidak diganti saat tidak ada kapal yang sandar.

“Dua hari kemarin kita kosong di dermaga. Tidak ada kapal. Kita tahu ada alat yang mau diganti setelah mendapat laporan dari operator bahwa ada bagian CC yang berbunyi. Untuk menghindari kerusakan makin parah, makanya kita ganti alatnya,” jelas Aminullah yang saat itu memaksa kapal milik Meratus harus dipindahkan proses bongkar muatnya menggunakan luffing crane.

Sementara terkait RTG, salah satu RTG milik PT Pelindo IV Cabang Pantoloan, sempat lama tidak digunakan karena mesinnya yang terlalu cepat panas. PT Pelindo IV Cabang Pantoloan mengantisipasi mesin yang cepat panas tersebut dengan menggunakan mesin pendingin. Sekali pun demikian, upaya tersebut, tidak terlalu optimal karena belakangan RTG tersebut kembali tidak berfungsi normal.

 

Tambah Alat Demi KEK

Manager Operasional PT Pelindo IV Cabang Pantoloan, Hamsah mengatakan, pihaknya belum bisa melakukan penambahan alat dengan jumlah kontainer yang saat ini. Dalam hitungan pihaknya, alat CC bisa ditambah jika kontainer per tahun mencapai 100.000 kontainer. Dan saat ini, jumlah tersebut menurutnya belum tercapai dan masih berkisar diangka 70.000-an kontainer per tahun masuk Pantoloan.

Hamsah mengatakan, dengan alat yang ada saat ini, bisa melayani dua pelayaran yang ada yakni Temas dan Meratus. “Investasi untuk CC itu sekitar 100 M (Rp100 Miliar, red). Jika kita mau investasi kalau masih kondisi seperti ini, kan rugi,” kata Hamsah saat diwawancara bersama Manager SDM dan Umum, Aminullah di ruang Manager SDM dan Umum, Kamis (13/7).

Hal tersebut juga diakui Manager SDM dan Umum PT Pelindo IV Cabang Pantoloan, Aminullah. Menurutnya, untuk investasi saat ini dengan jumlah kontainer yang ada masih belum memungkinkan. Sekali pun demikian, Aminullah mengatakan, pihaknya sudah mengajukan penambahan alat ke Pelindo pusat yang ada di Makassar. Aminullah mengatakan pembahasan terkait diamini pengajuan tersebut masih akan panjang karena setelah dikaji di Pelindo pusat yang ada di Makassar, pengajuan tersebut akan kembali dikaji di tingkatan Kementerian yang membidangi hal tersebut.

“Masih akan lama kajiannya itu. Tapi kita sudah ajukan permohonannya ke pusat. Kita juga tidak bisa jamin apakah permohonan penambahan alat diberikan atau tidak, tergantung hasil kajian,” jelas Ullah sapaan akrab Aminullah.

Di waktu yang terpisah, ditemui di ruangannya, Kamis (27/7, Hamsah mengatakan upaya penambahan alat bisa segera direalisasikan jika Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terletak tidak jauh dari PT Pelindo IV Cabang Pantoloan sudah berfungsi optimal.

“Jika KEK berfungsi tentu akan ada peningkatan jumlah kontainer baik yang bongkar maupun muat. Jika KEK sudah berfungsi, maka alat pasti akan ditambah,” pungkasnya.

 

Sudah Normal tapi Masih Lambat

Kembali pada keluhan pelaku bisnis. Salah seorang pedagang kelapa biji antar pulau, H Muhammad Haikal mengakui, sejak awal 2017 terjadi kelambatan pengiriman kelapa miliknya hingga tiga hari dari jadwal yang ditentukan. Ini akibat alat crane di Pelabuhan Pantoloan yang rusak, sehingga aktivitas bongkar muat barang jadi terlambat.

“Bongkar barang yang biasanya sehari, jadinya memakan waktu lebih lama. Ini yang membuat lambat pengiriman barang. Karena nanti selesai membongkar baru bisa lagi memuat. Akhirnya, barang yang hendak mau masuk Palu atau yang mau dikirim keluar Palu, jadi bergeser jadwalnya,”ujar Haikal.

Diakuinya, keterlambatan pengiriman seringkali terjadi di Pantoloan. Secara langsung tidak ada kerugian yang dirasakan. Hanya saja, gara-gara lambatnya pengiriman berakibat perputaran modal tidak lancar. “Barang saya dibayar ketika sampai di tujuan. Akibat penundaan pengiriman, jadinya pembayaran dari pembeli tertunda. Belum lagi ketika kelapa panas disimpan di kontainer hingga berhari-hari, berpotensi jadi rusak,”tambahnya.

Pada dasarnya, biarpun pengiriman kelapa biji tidak lambat, tetap ada yang rusak. Apalagi ketika pengirimannya lambat. Untung sudah ada kesepakatan dengan pihak pembeli. Kerusakan tiga persen ke bawah masih ada toleransi.

Pedagang kelapa biji lainnya adalah Amar. Dia mengatakan, memasuki Ramadan 2017 lalu, baru terasa sekali keterlambatan pengiriman terhadap bisnisnya. Hingga pertengahan puasa, dia berhenti dulu membeli kelapa biji karena ada alat rusak di Pelabuhan Pantoloan.

“Sempat dua minggu tidak ada jual beli kelapa. Karena pada saat itu tidak ada aktivitas bongkar muat barang di Pantoloan karena alat crane rusak,” aku Amar.

Lanjut dia, nanti mendekati lebaran, waktu di mana petani dan masyarakat betul-betul butuh uang, pada saat yang bersamaan Amar kembali memutuskan membeli kelapa biji. ”Banyak petani yang meminta kelapanya dibeli,” jelasnya.

Menurut Amar, nanti sesudah lebaran, barulah dia kembali melakukan jual beli kelapa. Walaupun alat crane sudah mulai normal, tapi masih terjadi keterlambatan pengiriman hingga tiga hari. “Mudah-mudahan ke depan semua kendala dapat tertangani secepatnya,” harap Amar. (saf/umi/cdy/cr4)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.