Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Lelang Proyek di Morut “Beraroma” Kolusi

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Proses lelang Peningkatan Struktur Jembatan Yaentu II, Morowali Utara diduga sarat aroma kolusi. Pasalnya, salah satu peserta lelang yang disebut tidak memenuhi syarat, dimenangkan dalam lelang proyek tersebut, karena merupakan perusahaan yang digunakan orang dekat dari Bupati Morowali Utara.

Ilustrasi

Proyek dengan nilai anggaran sebesar Rp7,34 miliar ini, sudah dilelang sejak beberapa waktu yang lalu, dan pada tanggal 13 Juli 2018 seharusnya merupakan batas klarifikasi. Namun anehnya, pada tanggal 16 Juli 2018, diumumkan klarifikasi kembali dan langsung menetapkan pemenang lelang saat itu juga.

“Ini kan aneh sudah jelas-jelas yang memenuhi syarat administrasi dalam lelang ini adalah PT Latebbe Putra Grup, tapi yang dimenangkan malah PT Barata Tora Marindo, yang dari awal sudah tidak memenuhi persyaratan seperti KD (kemampuan dasar). Karena perusahaan ini juga yang menang lelang proyek yang sama namun beda lokasi di Putumbea, Morowali Utara dengan nilai anggaran juga Rp7 miliar, jadi dia tidak punya kemampuan lagi melakukan proyek yang serupa,” terang sumber yang meminta namanya tidak dikorankan.

Hal itu kata dia, jelas-jelas melanggar Perpres Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Lanjut sumber, begitu pula terkait tenaga teknis yang digunakan dalam proyek tersebut, merupakan tenaga teknis yang sama dengan proyek Peningkatan Struktur Jembatan Putumbea. “Ini memang sudah ada permainan dengan ULP (Unit Layanan Pengadaan) di dalamnya untuk sengaja mengarahkan agar perusahaan yang tidak memenuhi syarat yang menang, karena perusahaan itu dipakai orang dekatnya bupati,” tuturnya.

Saat penetapan pemenang pun, yang seharusnya dilakukan di kantor ULP, namun dilakukan di luar kantor, tanpa ada alasan yang jelas. Wajar kata dia, bila sejumlah pihak menduga bahwa proses lelang di pemerintah Kabupaten Morowali Utara memang sengaja diarahkan untuk orang-orang tertentu saja. “Ini proyek menggunakan DAK (dana alokasi khusus) yang anggarannya tidak main-main, dan itu uang rakyat, akan jadi sangat tidak bermanfaat proyek yang sudah dibangun pakai uang rakyat tapi dikerjakan oleh mereka-mereka yang memang tidak memenuhi syarat,” jelasnya.

Olehnya dia meminta, aparat penegak hukum dapat menyeriusi masalah ini, dengan membuka aturan main yang dilanggar ULP. Aroma kongkalikong antara pihak peserta lelang dan juga ULP, yang diduga sengaja memenangkan kerabat dekat bupati tersebut, sudah sering terjadi. Salah satunya kata dia, bisa dilihat dari proyek jalan di Putumbea yang juga memenangkan kerabat dari bupati dengan nilai anggaran sebesar Rp16 miliar. “Belum lagi beberapa proyek penting di Morowali, yang dapat orang-orang dekatnya, dengan mengenyampingkan sejumlah persyaratan lelang. Sudah saatnya penegak hukum masuk, kasihan Negara nantinya dirugikan,” tuturnya.

Bupati Morowali Utara, Aprtripel Tumimor yang coba dikonfirmasi tadi malam, terkait namanya disebut-sebut berperan dalam proses lelang proyek tersebut, belum berhasil dihubungi. Dihubungi di nomor ponsel pribadinya 0821939*****, terdengar pemberitahuan ponselnya sedang tidak aktif begitupun sms yang dikirimkan wartawan, hingga berita ini naik cetak belum juga dibalas orang pertama di Pemkab Morowali Utara tersebut. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.