Lebih Dekat dengan Kearifan Adat Budaya Suku Bada dalam Memelihara Perdamaian (1)

- Periklanan -

Kondisi jalan berlumpur di Tanjakan Anjing jalur Tonusu-Bomba pada Tahun 2013 silam. Sementara foto lain, adalah kondisi terkini jalur Tonusu-Bomba dengan aspal hot mix yang mulus pada 8 September 2017. (Foto: Nursoima Ulfa)

Pada Mei 17 Tahun silam, kerusuhan di Kota Poso, Kabupaten Poso dan sekitarnya pecah. Konflik horizontal yang memecah dua belah komunitas berbeda agama membuat perdamaian di Bumi Sintuvu Maroso itu pun terkoyak. Permusuhan begitu sengit aromanya kala itu. Namun harumnya harmoni beragama justru datang dari Lembah Bada. Bertahan kekal hingga saat ini.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa

LEMBAH Bada secara admistratif terletak di Kabupaten Poso. Ada dua kecamatan di lembah ini; Kecamatan Lore Selatan dan Kecamatan Lore Barat yang mekar pada 6 Februari tahun 2006. Secara geografis, lembah ini merupakan lembah yang terletak di paling selatan wilayah Provinsi Sulawesi Tengah dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.

Jika dilihat dari peta, Lembah Bada sejatinya sejalur dengan Lembah Behoa, yang secara admistratif masuk dalam Kecamatan Lore Tengah. Artinya, apabila negara membuka jalan beraspal, maka akan mudah mengaksesnya dengan berkendara dari ibukota provinsi Kota Palu. Waktu tempuh juga menjadi lebih singkat karena sejatinya hanya berkendara lurus ke arah selatan melewati Kabupaten Sigi.

Satu-satunya jalur kendaraan yang bisa masuk dan keluar lembah saat ini berada di jalur Tonusu-Bomba. Desa Tonusu berada di Kecamatan Pamona Pusalemba, Kabupaten Poso.  Sementara Desa Bomba adalah desa pertama yang ditemui ketika memasuki lembah ini setelah berkendara turun naik pegunungan selama berjam-jam.  Tonusu dan Bomba memang dipisahkan oleh pegunungan yang berlapis-lapis.

Untuk mencapai Lembah Bada melalui jalur ini, bisa menggunakan kendaraan mobil atau sepeda motor. Jika start dari Kota Palu, perlu memutar jauh ke arah Timur  dahulu kemudian ke Selatan ke arah Kota Poso. Harus melewati Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong sebelum akhirnya bisa sampai di Kota Poso. Perlu waktu tempuh selama 6 jam perjalanan dengan jarak 213 kilometer.

Di Kota Poso ini bisa menjadi tempat persinggahan sementara melepas penat. Tapi bila diburu waktu bisa lanjut perjalanan ke Tentena selama 2 jam melewati jajaran pegunungan mengingat kondisi jalan sangat layak.

Kota Tentena, ibukota Kecamatan Pamona Pusalemba, Kabupaten Poso boleh jadi pilihan terbaik untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan sejauh ¬†60 kilometer ke Lembah Bada. ¬†Pilihan ini akan sangat masuk akal bila berbicara kondisi jalur Tonusu-Bomba dua tahun ke belakang hingga masa kolonial. Radar Sulteng pernah ‚Äúmenikmati‚ÄĚ bagaimana susahnya jalur ini pada Tahun 2013 silam.

Saat itu kunjungan pertama ke Lemba Bada dan langsung merasakan sensasi jalanan off road. Ya, jalan aspal kerikil kasar hanya bisa bersentuhan dengan roda kendaraan sejauh lebih kurang 10-15 kilometer dari Desa Tonusu memasuki hutan lebat di atas pegunungan. Itu pun aspal tidak selalu mulus karena banyak yang bolong-bolong. Sisanya adalah jalan tanah, yang akan berubah jadi lumpur liat ketika terkena air hujan.

Ada satu guyonan di antara para driver di Tentena soal mobil angkutan umum yang melayani rute ini, baik berupa mini bus atau kendaraan roda empat pribadi yang dialihfungsikan sebagai mobil rental. ‚ÄúKalau mau lihat mobil Bada, lihat saja bumper depannya. Kalau ¬†keropeng (baret, red), so pasti itu dia. Biar mo mobil baru kek, semuanya pasti begitu. Ada satu lagi, sebersih apapun mobil ke sana (Lembah Bada) pasti kotor pulangnya. Tidak ada yang mulus, ‚ÄĚ kata Ete (42), seorang driver rental kepada Radar Sulteng.

Beratnya medan juga mengharuskan sopir menyediakan rantai dengan mata besar. Rantai ini akan menjadi penyelamat jika tiba di satu titik paling krusial di jalur Tonusu-Bomba: tanjakan anjing. Terdengar kasar, tapi sesungguhnya bukan makian. Hanya menggambarkan beratnya tanjakan ini. Lumpur liat akan menenggelamkan ban mobil tanpa ampun saat berusaha menanjak.

Nah, rantai besar tadi berfungsi layaknya rantai pada mobil tank. Rantai dililit ke sekeliling ban dengan harapan bisa melewati lumpur dengan baik dan lolos hingga ke atas. Masalah teratasi?  Belum tentu. Sebab mobil harus ditarik oleh mobil lain yang lebih dulu survive alias lolos. Pernah harus mendatangkan mobil hard top dari Lembah Bada untuk menarik mobil yang ada. Karena itu, di tanjakan ini tidak pernah sepi pada waktu-waktu jam sibuk kendaraan.

- Periklanan -

Semua kendaraan antri di bawah tanjakan dan semua sopir wajib keluar dari kendaraannya dan membantu mobil lain untuk lolos. Yang menakjubkan adalah sopir yang melayani jalur ini sudah siap dengan alat-alat ‚Äútempur‚ÄĚ seperti linggis, skop, hingga balok kayu. Alat ini sangat penting untuk menyingkirkan lumpur atau menggali batu untuk membuat landasan solid.

Para sopir maupun pemilik kendaraan bergotong-royong menyelamatkan mobil lain, sebelum mobil sendiri. Yang membuat takjub, tidak ada yang mengeluh, menggerutu atau tergesa-gesa ingin mendahulukan diri sendiri. Semuanya tenang dan fokus. Ada pantangan bagi sopir dan diyakini sebagai sesuatu yang sakral. Tidak boleh dilanggar.

‚ÄúDi sini tidak boleh ada sopir yang sombong. Sekali kamu sombong, maka kamu tidak akan selamat. Pernah ada sopir Avanza dari Palu, dia maunya menang sendiri. Eh, tidak lama dia jatuh di jurang pas penurunan di Malei,‚ÄĚ ungkap Ete, ada kesan mistis di dalam perkataannya.

Menurutnya, orang Bada yang lalu lalang di jalur ini maupun sopir angkutan, sudah hatam untuk urusan sulit seperti ini. Gotong-royong tanpa harus egois, menjadi solusi terbaik di tengah kesulitan yang mereka hadapi. Dulunya, kondisi bisa lebih sulit lagi di jalanan. Sebab sebelum tahun 80-an, jalur ini hanyalah jalur pencari rotan dan hanya bisa dilewati oleh kuda atau berjalan kaki.

Setelah jalur kendaraan baru terbuka sekitar tahun 1984. Saat itu jalur ini hanya bisa dilalui mobil hard top  milik pejabat pemerintah atau juragan desa. Warga biasa bisa mengakses mobil jika membayar.  Uniknya, bukan membayar untuk tempat duduk tapi membayar untuk jatah tempat pegangan di atas kap  mobil hard top.

Di saat Radar Sulteng kembali ke Lembah Bada pada pekan kedua September 2017  belum lama ini, terbayang kondisi pada 2013 silam. Masih terngiyang jawaban saat bertanya kepada seorang teman staf Wahana Visi Indonesia (WVI)  soal berapa lama waktu tempuh dari Tentena ke Lembah Bada.

‚ÄúPaling secepat 4 jam, paling lama tak terhingga. Bisa jadi, kalau kondisi jalan tidak bersahabat, tidur satu malam dulu di hutan bersama pencari damar,‚ÄĚ jawabnya menggambarkan sulitnya medan. Padahal Tentena ke Lembah Bada hanya berjarak 60 kilometer.

KONDISI JALUR TERKINI

Sabtu pagi (9/9), setelah menginap semalam di Tentena, mobil Suzuki Carry milik Radar Sulteng siap berkendara. Tim merasa percaya diri bisa menaklukan jalur Tonusu-Tentena lebih cepat dari Tahun 2013 silam. Ini bukan sikap takabur, tapi hasil riset.

Ete, yang kembali ditemui di Tentena, menyakinkan bahwa jalur Tonusu-Tentena tidak lagi ‚Äúsejahat‚ÄĚ dulu dan¬† mobil keluarga sekelas Suzuki Carry pasti bisa survive. Tak perlu mengandalkan hard top lagi untuk menarik saat di tanjakan anjing. ¬†Tidak perlu lagi membawa rantai, sekop, linggis dan balok kayu.

‚ÄúJalan sudah bagus bos. Aspal mulus, jadi so pasti bisa itu,‚ÄĚ ungkap Ete, yang kini ternyata beralih menjadi sopir truk Tentena-Bada.

Dia sudah tidak lagi mengantar penumpang maupun turis ke Lembah Bada. Pasalnya, memuat material selama proyek pengerjaan jalan jalur Tonusu-Bomba, dia rasakannya lebih menguntungkan. Apalagi menurutnya, pasca jalananan mulus pembangunan di Lembah Bada diperdiksi akan pesat. Bangunan rumah dari tembok maupun toko atau Ruko sekalipun, bisa jadi muncul di Lembah Bada karena akses keluar masuk sudah begitu mudah.

Kesaksian Ete  tentang kondisi jalan, lantas benar adanya. Setelah berkendara keluar dari Tentena dan memasuki pos Dinas Perhubungan di Tonusu, aspal hot mix menyambut. Meski pun tidak selebar dan selandai kelokan jalur Kebun Kopi Palu-Parigi, namun kondisi jalan jauh-jauh meningkat pesat.

Percaya atau tidak, tanjakan anjing sudah tidak ada lagi. Lenyap. Berganti dengan tanjakan landai lurus ke atas bukit savanna dengan aspal mulus membelah di tengahnya. Sebuah kemajuan dan kesyukuran. Tapi, sayang lokasi ini menjadi sepi.(bersambung)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.