Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Larangan Kontainer Masuk Kota Mulai 1 September

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Salah satu kontainer saat melintas di ruas Jalan Kota Palu, Jumat (25/8). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Mulai 1 September mendatang, mobil kontainer hanya bisa melintasi dua jalur di dalam Kota Palu. Pertama, jika tujuannya ke arah Kabupaten Donggala, maka jalur yang dilintasi mulai dari Jalan Trans Sulawesi menuju areal penggaraman Talise hingga Jalan Cumi-Cumi. Lalu terus ke arah Tipo menuju Donggala.

Kedua, jika tujuannya ke wilayah Kabupaten Sigi, maka jalur yang dilewati ialah Jalan Soekarno Hatta (juga bisa lewat Jalan Hangtuah kemudian ke arah STQ tembus Soekarno Hatta). Kemudian ke arah Jalan Sisingamangaraja dan Moh Yamin hingga Jalan Dewi Sartika menuju Sigi.

Bukan itu saja. Waktu beroperasinya pun dibatasi, mulai pukul 00.00 malam hingga pukul 06.00 pagi. Di luar jam itu tidak boleh mobil kontainer melintas di jalur-jalur itu tadi.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palu, Setyo Susanto menjelaskan, pihaknya sudah menyurat ke ekspedisi-ekspedisi dan pemilik kontainer terkait aturan main ini. Surat itu bertujuan sebagai tahap sosialisasi pemberlakuan aturan tersebut.

“SK Wali Kota juga sudah terbit. Terbitnya SK ini, tidak serta merta kita langsung menindak jika kita temukan. Aturan ini berlaku mulai 1 September,” ujar Setyo kepada Radar Sulteng di ruang kerjanya kemarin (25/8).

Surat Keputusan Wali Kota Palu yang dimaksud Setyo adalah, surat bernomor 551.2/549/DISHUB/2017 tentang Pengoperasian dan Lintasan Angkutan Peti Kemas di Wilayah Kota Palu. SK itulah menjadi acuan Dishub dalam memberlakukan aturan tersebut.

Kata Setyo, selain angkutan kontainer atau peti kemas, yang juga terkena pemberlakuan aturan ini ialah truk yang beratnya melebihi 8 ton. Kemudian angkutan yang panjangnya lebih dari 8 meter, juga dilarang memasuki jalur dalam kota.

“Aturan ini akan didukung dengan pemasangan rambu-rambu nantinya. Sehingga dalam waktu dekat, kita akan pasang rambu-rambu terkait larangan melintas,” jelas sang kadis.

Aturan ini, ujar kadishub lagi, sama sekali bukan bertujuan menghambat pendistribusian barang ke konsumen yang dilakukan pengusaha yang menggunakan jasa kontainer. Namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dengan makin padatnya arus kendaraan di dalam Kota Palu.

Dulunya atau beberapa tahun silam, kata Setyo, kendaraan berat masih bisa masuk di jalan-jalan dalam kota. Karena memang kondisi kendaraan saat itu belum sepadat sekarang ini. “Dalam SK Wali Kota terkait pelarangan mobil kontainer, ruang bebas atas kontainer harus 5 meter. Selain itu, lalu lintas kontainer juga tak boleh bercampur dengan aktivitas kendaraan lain serta aktivitas kegiatan sosial lainnya,”kata kadishub.

Ada beberapa aturan-aturan terkait lalu lintas kontainer. Namun di sisi lain, ada juga aturan yang menyatakan lintasan kontainer harus menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi antardaerah. “Makanya, dengan terbitnya aturan ini (SK Wali Kota), tidak memblokade daerah, namun hanya memberi batasan saja,”demikian Setyo. (saf)

1 Komen
  1. Nixon Komentar Pengunjung

    Yth Pemda Palu,

    Pertanyaan saya, bagaimana kota Palu mau berkembang kalau pendistribusian barang di Larang, yang ada kota Palu hanya stuck (tidak berubah atau berkembang) begitu saja tanpa ada kemajuan yang signifikan, expedisi juga kan harus bayar pajak ke pemda bagaimana usaha expedisi, jadi mati dong usahanya.
    Umumnya kalau pendistribusian barang dengan truk/container pada suatu daerah maka kota tersebut akan semakin ramai dan pendapatan masyarakat juga meningkat melalui pajak expedisi, perdaganagn.

    Kalau boleh saya kasih kasih saran, untuk pendistribusian barang melalui truk dan trailer harusnya masuk jalur tertentu dan jam tertentu jadi masyarakat terbantu dengan pasokan barang dari luar daerah.

    Terima kasih, semoga Pemda Palu terbuka mata hatinya.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.