Lansia Kakak Beradik Buol Tinggal di Gubuk Tua

Diduga Luput dari Perhatian Pemerintah Daerah

- Periklanan -

BUOL-Dua orang kakak beradik lanjut usia (lansia), Aminah (109) dan Rosmini (80), sudah 10 tahun tinggal di rumah gubuk beratapkan rumbia dan berdinding kayu di Desa Pajeko dusun 3 Kecamatan Momunu Kabupaten Buol. Sangat memprihatinkan hidupnya. Tak pernah mendapat perhatian serius, baik dari pemerintah desa maupun dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol untuk dibantu rumah layak huni.

Kehidupan sehari-hari dua lansia kakak beradik ini cukup memprihatinkan, rumah yang ditempati mulai miring dan terancam roboh. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup setiap hari, anak dan cucu nenek lansia itu membawakan makanan dan air minum, di samping itu tetangga di kampung juga turut membantu kebutuhan hidup hari-harinya.

“Saya tinggal di rumah gubuk ini sudah jalan 10 tahun lebih, ” ungkap Aminah nenek lansia Desa Pajeko¬†kepada Radar Sulteng, Selasa (3/1).

Ia menuturkan, faktor usia yang sudah seabad lebih ini hanya berharap jaminan hidup dari bantuan anak-anak, makan dan minum karena tenaga sudah tidak kuat bekerja seperti anak muda dewasa ini. Nenek ini tinggal di rumah gubuk tua yang mulai miring hanya ditopang dengan kayu, agar tidak roboh.

Ukuran rumah sekitar lebar 1,5 meter, panjang 5 meter dengan kamar tempat tidur  disekat dengan papan yang sudah lapuk. Lantai kayu dinding papan atap rumbia. Sebagian atap gubuk sudah bocor, apalagi penerangan listrik tidak ada. Setiap malam gelap, hanya mengandalkan lampu pelo dari bahan minyak kelapa, demikian juga tikar dan selimut tempat tidur. Benar-benar memprihatinkan, dan di mana nurani pemerintah daerah. Katanya sudah membangun, anggaran APBD II Pemkab Buol ada. Tetapi masih ada warganya yang miskin dan renta dibiarkan begitu saja ?

Tiap hari nenek ini turun naik tangga untuk mengangkut air yang akan dimasak ke dapur. Nenek ini tetap tegar menjalani hidup bersama saudaranya seorang, jauh dari sanak saudara dan anak-anak yang sudah berkeluarga. Nenek ini memliki anak 6 orang, kesemuanya tinggal berjauhan, ada juga di daerah lain.

“Kalau anak mantu saya¬†berangkat ke daerah lain untuk mencari nafkah. Saya sendiri tiap hari diantar makanan dari anak cucu yang dekat kampong, ” ungkap Aminah.¬†

- Periklanan -

Lain halnya sang adik Rosmini (80), yang tempat tinggalnya sekitar 300 meter dari rumah gubuk kakak kandungnya Aminah. Nenek Rosmini menuturkan keduanya sudah berkali-kali dilakukan pendataan dari dinas teknis maupun dari desa, dengan berharap dapat bantuan apa saja yang bisa bermanfaat. Namun hal itu tidak ada, yang justru sebelumnya mendapat bantuan beras sejahtera (rastra), sekarang ini sudah tidak diberi bantuan, alasannya karena sudah tua. Sehingga tidak wajib lagi diberi bantuan.

“Sejak meninggal suami, beginilah kehidupan saya. Tinggal digubuk yang tua untuk bertahan hidup setiap hari, ” tandas Rosmini.

Sementara itu, Hardi selaku tokoh pemerhati kesejahteraan di desa itu menyayangkan peran Pemkab, maupun dinas teknis dalam hal ini Dinas Sosial, serta pemerintah desa dalam memperhatikan lansia bersaudara yang sudah 10 tahun bertahan digubuk, tidak tersentuh dengan baik.

Pemkab dengan kekuatan OPD yang ada tidak berperan aktif, turun melakukan pendataan ke desa-desa untuk memprogramkan bantuan yang tepat sasaran. 
Dijelaskannya, miliaran dana desa yang dikelola di desa setiap tahun untuk memprogramkan bedah rumah bagi lansia tidak dilaksanakan. Hal ini dikarenakan kurangnya keseriusan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa.

“Kami minta perhatian serius dari pemerintah, baik di desa dan kabupaten untuk menjamin kelangsungan hidup para lansia untuk diberi fasilitas rumah yang layak, “tandas Hardi.¬†

Sulatri, selaku Kepala Bidang (Kabid) Fakir Miskin Dinas Sosial Kabupaten Buol mengatakan, untuk meminta data jumlah warga miskin harus para wartawan menyurat dulu ke bupati selaku Pengguna Anggaran (PA). Setelah mendapat respon, baru dinas itu bebas mengeluarkan data-data jumlah warga yang miskin termasuk di Desa Pajeko.

“Mohon maaf, bapak harus menyurat dulu ke Pemkab Buol Cq bupati. Kalau sudah direspon kita akan menyampaikan semua data yang dibutuhkan, “demikian Sulastri.(tam)¬†

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.