Lagi, Ratusan Anak Penyu Dilepas

- Periklanan -

TOLITOLI – Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, bersama Pokmaswas Usaha Bersama yang ada di Desa Sesse Kabupaten Tolitoli, pekan kemarin kembali melepas ratusan anak penyu atau tukik ke laut lepas. Ratusan tukik tersebut, merupakan hasil penangkaran yang dilakukan Pokmaswas Usaha Bersama.

Ratusan tukik atau anak penyu, kembali dilepas ke laut bebas. Suasana pelepasan tukik di Desa Sesse, yang dilaksanakan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, bersama beberapa kalangan lainnya, belum lama ini. (Foto: DKP)

“Pokmaswas Usaha Bersama itu, merupakan binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng. Dalam setahun ini, sudah tiga kali melakukan pelepasan anak-anak penyu yang jumlahnya selalu ratusan,”kata Malik Malasatu, SPi, staf Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, yang ikut melepas ratusan tukik tersebut di Pantai Desa Sesse.

Ikut menyaksikan pelepasan anak-anak penyu, pejabat dari Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, TNI AL Pangkalan Tolitoli, masyarakat di sekitar pantai, serta tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng. Termasuk pejabat dari UPT Wilayah I Kelautan, yang wilayah kerjanya mencakup Laut Sulawesi dan Selat Makassar.

Menurut Malik, jumlah tukik yang dilepas sekitar 210 ekor. Namun pelepasan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, dilepas 100 ekor dan pelepasan tahap II 110 ekor. Penyu yang dikembalikan ke habitatnya itu, adalah jenis penyu hijau.

- Periklanan -

“Umur penyu yang dilepas, sekitar 1 bulan setelah menetas. Ada beberapa teori yang menyebutkan berapa umur ideal untuk melepas tukik, namun kami selama ini, berdasarkan masukkan dari masyarakat yang cukup pengalaman dalam mengamati perkembangan penyu di wilayahnya, umur sebulan sudah pas untuk melepaskan kembali anak-anak penyu itu ke habitat aslinya di laut lepas,”kata Malik yang didampingi Rizal SPi, sesama anggota tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng.

Secara khusus, Malik yang mewakili pejabat di Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, memberikan apresiasinya kepada Pokmaswas Usaha Bersama yang dipimpin Edi. Pokmaswas yang berkedudukan di Desa Sesse itu, dinilai cukup aktif dalam melakukan upaya-upaya penangkaran penyu. Bantuan yang diberikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, benar-benar dimanfaatkan untuk membantu penyu dalam berkembangbiak.

Menurut Malik, penyu yang dilepas pekan kemarin, merupakan jenis penyu hijau yang dikenal merupakan hewan endemik di sekitar kawasan Desa Sesse hingga ke pulau Pasoso. Dari beberapa referensi, diperoleh informasi kalau penyu hijau yang memiliki nama latin, Chelonia mydas, adalah penyu laut besar yang termasuk dalam keluarga Cheloniidae. Hewan ini adalah satu-satunya spesies dalam golongan Chelonia.

Penyu ini, hidup di semua laut tropis dan subtropis, terutama di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik serta perairan di wilayah Indonesia. Dinamakan penyu hijau, karena ada lemak berwarna hijau yang terletak di bawah cangkangnya.

“Sayangnya, jumlah Penyu Hijau semakin berkurang karena banyak diburu untuk diambil pelindung tubuhnya (karapaks dan platron) sebagai hiasan. Telurnya juga sebagai sumber protein tinggi dan obat, juga dagingnya sebagai bahan makanan,”demikian Malik.(hnf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.