Kurang Perhatian, Pedagang Tinggalkan “Kampung Kaili”

- Periklanan -

PALU – Kampung Kaili yang oleh Pemkot Palu akan dijadikan destinasi baru dengan menampilkan kegiata kebudayaan dan pariwisata sekaligus lokasi pedagang kuliner, kini sepi dari pedagang dan pengunjung.

Pantauan yang dilakuka, kondisi pondok-pondok tersebut sudah mulai miring serta sudah banyak para pedagang yang meninggalkan lokasi jualan tersebut. Alhasil pengunjung pun mulai mengurangi minatnya untuk mampir menikmati makanan yang disuguhkan para pedagang.

Bukan hanya itu penyebab utamanya kurang pengunjung juga karena kurangnya perhatian terhadap lingkungan, terlihat dari beberapa batang pohon yang kering dan berpotensi untuk patah dan jatuh menimpa pengunjung atau pedagang.

Leny, salah seorang pedagang di kampung kaili membenarkan hal tersebut, dirinya juga mengatakan, sebelum tahun baru banyak pedagang yang berjualan di sekitar Kampung Kaili. Namun beberapa bulan terakhir kata dia, para pedagang mulai meninggalkan lapaknya dan dibiarkan kosong, puncaknya pada awal bulan Februari 2018.

Beberapa faktor juga menjadi penyebab kurangnya pengunjung, mulai dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap tempat tersebut dalam hal ini Dinas Pariwisata selaku pengelola tempat tersebut.

“Kurangnya perhatian dari pemerintah khususnya Dinas Pariwisata sebagai pengelolanya serta lingkungan yang tidak terawat seperti beberapa tempat jualan yang sudah rusak,” katanya, Jumat (24/3).

- Periklanan -

Lanjut Leny, dirinya berharap agar dinas terkait fokus memperhatikan lokasi serta pedagang ini, karena Kampung Kaili merupakan destinasi tempat wisata yang harus juga menjadi prioritas pembenahan di Kota Palu agar tidak terkesan hanya awal-awalnya saja yang difungsikan.

“Tolonglah diperhatikan lingkungannya, jangan cuma pertama-pertama saja dirawat tapi perhatiannya kurang,” tutupnya.

Sementara itu Lurah Besusu Barat, Abdul Halim, mengatakan sepinya pembeli di Kampung Kaili, karena para pedagang, berjualan dengan harga yang tinggi, sehingga mengurangi minat pengunjung untuk datang.

“Mereka belum memahami bagaimana cara mencari pasar atau strategi pemasaran, mereka mungkin butuh pelatihan sehingga nantinya bisa membaca situasi pasar,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, dari 34 lapak yang disediakan hanya tersisa 11 lapak yang terisi. Halim juga tidak menyangkali, faktor-faktor pendukung seperti halnya lingkungan yang bersih belum terlalu diperhatikan. Terlepas dari masalah ini, pihak kelurahan berinisiatif melakukan kerja sama dengan pemilik elekton untuk mengisi acara hiburan.

“Sudah dua malam itu berlangsung kita kerja sama dengan pemilik elekton untuk buat acara hiburan dengan tujuan menarik perhatian publik untuk mampir di Kampung Kaili ini,” terangnya.

Lanjut Abdul Halim, terkait dengan beberapa masalah yang dikeluhkan para pedagang, dirinya akan kembali mengkoordinasikan mengenai hal ini dengan dinas yang terkait mulai dari kebersihan lingkungannya serta pemangkasan beberapa batang pohon yang mulai kering dan mengancam keselamatan para pengunjung serta pedagang di Kampung Kaili. (cr8)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.