Kontraktor Lapangan Vatulemo dan Kadis PU akan Diperiksa

- Periklanan -

Inilah proyek dengan pagu Rp7 miliar lebih yang diselidiki pihak Kejaksaan Negeri Palu. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Dugaan atas tidak berbandingnya antara hasil dan nilai kontrak pekerjaan proyek taman Vatulemo yang terletak di depan kantor wali kota Palu, senilai Rp7 miliar lebih, sebagaimana penilaian masyarakat Kota Palu, mulai ada titik terang.

Bagaimana tidak, perencanaan dan finising pekerjaan proyek taman yang telah rampung dikerjakan dan telah selesai tahap masa pemeliharaan pada akhir Maret 2017 tersebut, dinilai tidak sesuai atau bisa dikatakan gagal perencanaan.

Atas hal itu, dugaan kasus yang saat ini juga ditangani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu, masih terus berlanjut. Bahkan, kalau tak ada aral melintang, sejumlah pihak terkait akan segera diperiksa.

“Rabu (19/4), kami akan panggil kontraktor, konsultan perencaan, konsultan pengawas, dan Kadis PU Palu,” kata Inspektur Inspektorat Kota Palu, Didi Bakran SH di ruang kerjanya, Senin (16/4).

- Periklanan -

Pemanggilan sejumlah pihak terkait tersebut, jelas mantan Kabag Hukum Sekretariat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi itu, tidak lain untuk memberikan keterangan terkait perencanaan dan kualitas finising pekerjaan proyek yang terkesan asal-asal.

“Mereka harus menjelaskan perencanaan dan finising pekerjaan yang sedikit keliru tersebut,” tegas Didi.

Lanjut dia katakan, menurut hasil pemeriksaan yang dilakukan lembaga yang dipimpinnya tersebut, dari segi letak titik perencanaannya yang terkesan sedikit keliru. “Misalnya, letak titik taman itu tidak mengikuti kondisi struktur tanah yang menurun. Sehingga, taman itu mudah digenangi air jika turun hujan,” tuturnya.

Intinya, sambungnya, pekerjaan proyek itu terkesan bermasalah perencanaannya. Jadi, pihak terkait harus dipertanggung jawabkan. “Selain itu, kalau dilihat dari sisi kualitasnya, hasil pekerjaan proyek itu tidak sesuai,” ucapnya.

Dia menambahkan, terkait kerugian yang terjadi dalam pekerjaan proyek tersebut, pihak rekanan (kontraktor) sebelumnya telah melakukan ganti rugi sebesar Rp 400 juta lebih. “Dalam masa pemeliharaan kemarin, ada juga beberapa kerugian yang telah diganti rugi. Namun, kami belum bisa menghitung secara total,” pungkasya.(sur)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.