Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Konsen dan Fokus pada Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Berbahaya Jika Tidak Segera Dilakukan (Perintah Presiden kepada para Menteri dan Kepala Daerah)

Oleh : Dr. Syarif Makmur, M.Si

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SAYA minta agar konsen dan fokus kepada dua hal yaitu penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi. Demikian perintah dan penegasan Presiden Jokowi kepada para Menteri dan para Kepala Daerah pada kamis, 29 April 2021.

Tinggal beberapa hari lagi kita akan menghadapi dan melaksanakan hari raya Idul Fitri 1442 H. Saya perintahkan untuk melarang mudik dulu. Dalam data yang ada kurang lebih 90-an juta penduduk Indonesia akan melaksanakan mudik lebaran tahun ini. Saya khawatir, jika hal ini terjadi Indonesia akan mengikuti apa yang terjadi di India bahkan akan melebihi India (tsunami covid tertinggi di dunia saat ini).

India pada bulan Februari 2021 mengklaim sebagai negara paling berhasil melakukan herd immunity (kekebalan komunitas) dalam penanganan Covid-19. Menteri Kesehatan India mengumumkan hal itu, dan disambut gembira oleh rakyat India dan mereka pun melakukan ritual sebagai hari kemenangan yang di laksanakan di sungai Gangga.

Dan apa yang terjadi !!! Hampir 400 ribu manusia di India terpapar Covid-19 pada hari itu, dan korban-korban pun berjatuhan di jalan-jalan protokol, mayat-mayat seperti tumpukan sampah, rumah-rumah sakit full dan kewalahan menangani, ekonomi India pun lumpuh total.
Indonesia pun bisa bahkan akan melebihi kasus di India jika kita tidak berhati-hati menangani virus ini. Hal ini sangat berbahaya, saya ulangi sangat berbahaya. Demikian pernyataan keras Presiden RI Joko widodo. Dari pernyataan keras Presiden itu, para kepala daerah untuk tidak ragu-ragu melakukan tindakan membatasi kegiatan masyarakat, baik sebelum Idul Fitri maupun setelahnya.

Disiplin merupakan kunci penting, jika Indonesia ingin menekan laju pandemi yang saat ini naik secara eksponensial, bukan kenaikan secara normal dan linear. Watak, kultur dan kebiasaan mayoritas warga yang menyepelekan disiplin protokol kesehatan menjadi biang terus bertambahnya angka kenaikan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Pemerintah dan seluruh Kepala Daerah harus tegas dan keras. Namanya Pemerintah, harus memerintahkan dan diperintahkan kepada seluruh jajaran di bawah Presiden yaitu Gubernur, Bupati/Walikota, Camat hingga Kepala Desa untuk menterjemahkan penegasan Presiden ini sebagai perintah tegas dan keras. Jangan dianggap biasa-biasa saja, ini kondisi yang luar biasa dimana seluruh pemangku kepentingan di negeri ini apalagi pemimpin di daerah harus mengambil jalan cepat dan cerdas dalam penanganan Covid-19.

Arahkan dan fokus kan segala pikiran, tenaga bahkan dana untuk hal yang satu ini. Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) pun diminta Presiden untuk membantu kepala daerah. Bagi daerah-daerah yang masuk kategori zona hitam dan merah diupayakan untuk diturunkan menjadi zona hijau. Yang zona hijau pun jangan terlena dan lengah, seperti kasus di India.

Hati hati dengan virus yang sangat misterius ini, karena ia tidak memandang usia, yang mudah belia, anak-anak di bawah umur dan para lansia ditularkan dan disikat habis. Semakin ketat kita mewaspadainya, semakin canggih pula virus ini bergerak dan menularkan. Paling tidak dengan program vaksinasi yang sedang berjalan saat ini ada penurunan angka pandemi walaupun tidak signifikan.

Beragam cara telah di lakukan oleh negara dan pemerintah, tetapi virus ini seperti air saja mencari jalan penurunan dan disitulah ia menghantam dan menyapu bersih manusia-manusia yang tidak berhati-hati dan tidak disiplin.

Antara penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi saling mempengaruhi dan memiliki korelasi yang sangat signifikan. Pemulihan ekonomi di tengah pandemi, disatu sisi mutlak harus dilakukan agar roda perekonomian berjalan, namun di sisi yang lain berbenturan dengan pembatasan kegiatan masyarakat dalam penanganan Covid-19. Tampaknya ada benturan, namun hal ini dapat disiasati secara cerdas, kreatif dan inovatif.
Dibutuhkan inovasi dan kreasi kepala daerah menghadapi situasi ini. Kepala daerah segera meninggalkan cara kerja yang biasa-biasa saja menuju cara kerja yang luar biasa, dengan meninggalkan rutinitas dan kerja-kerja linear.

Diibaratkan seseorang yang tengah dikejar anjing galak, maka ia akan berlari kencang dan akan melompat tembok tinggi untuk menyelamatkan diri, dan hal itu sangat bisa dilakukan dengan menggunakan otak kanan (Ippo Santoso, 2013).

Kebiasaan menggunakan otak kiri (linear) inilah yang membuat manusia ragu-ragu, penakut dan merasa tidak mampu, padahal Allah SWT memberikan otak kanan (bawah sadar) yang justru cara kerjanya sangat luar biasa seperti di katakan Ippo Santoso ( 2013) , hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, hal yang tidak bisa menjadi bisa. Mengapa manusia tidak menjadi cerdas padahal ada miliaran sel otak yang bisa digunakan manusia untuk menjadi cerdas.

Mengapa kita menjadi manusia yang tidak inovatif, padahal ada sekian miliar sel yang belum digunakan untuk berinovasi. Mengapa kemampuan mengingat manusia rendah dan lemah, padahal Allah SWT memberikan ratusan juta sel untuk digunakan mengingat yang dapat mengalahkan kekuatan dan kemampuan mengingat sebuah computer.

Albert Einstein saja seorang ilmuwan baru menggunakan sel otaknya 1 (satu) persen, sementara 99 persen otak Einstein belum digunakan. Inovasi dan kreativitas para Menteri dan para kepala daerah dituntut dan dibutuhkan saat ini. Tanpa ada inovasi dan kreativitas, sangat sulit Indonesia dapat menanggulangi pandemi dan melakukan pemulihan ekonomi, karena kedua hal ini saling mempengaruhi dan saling berkorelasi.

Kecerdasan para Menteri dan kecerdasan kepala daerah menjadi kunci utama. Kecerdasan yang dimaksudkan disini tidak saja kecerdasan intelektual (IQ) tetapi membutuhkan kecerdasan-kecerdasan lainnya seperti kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (EQ) (Ginanjar, 2000).

Alquran-pun telah memberi signal bahwa dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran bagi orang-orang yang berpikir (Ulil albab). Hanya para Menteri dan para kepala daerah yang selalu berpikir yang akan menghasilkan inovasi dan kreativitas.

Jika para kepala daerah tujuannya hanya menjadi Gubernur dan Bupati, maka sudah dapat dipastikan tidak akan terjadi inovasi dan kreativitas di daerah. Jangankan inovasi dan kreativitas, APBD 2021 saja sampai hari ini (akhir April) masih kurang lebih 180-an triliun yang belum dibelanjakan. Ini bagaimana mau memulihkan perekonomian Indonesia. Uang ada, kewenangan dan kekuasaan ada kok APBD tidak bisa dibelanjakan.

Kembali lagi seperti argumentasi di atas, bahkan dibutuhkan kerja-kerja yang inovatif, dan kerja-kerja yang luar biasa untuk mendorong APBD 2021 segera dibelanjakan.
Jika 180-an triliun APBD dibelanjakan utamanya belanja modal dan belanja barang dan jasa dipastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang (4–5) persen dapat dicapai, dan penanganan pandemi pun dapat secara efektif dilakukan. Fokus dan konsen pada penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi, hati-hati jika tidak dilakukan akan sangat berbahaya.

*) Penulis adalah alumni Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogyakarta.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.