Komisi IV Gelar RDP Bahas Isu Terkini Perkembangan Covid-19

- Periklanan -

PALU-Komisi IV DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), baru saja menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulteng, Palang Merah Indonesia (PMI) Sulteng, dan manajemen RSUD Undata, yang digelar di ruang sidang utama DPRD Sulteng, Rabu (21/7).

Kegiatan RDP dipimpin Ketua Komisi IV, Dr. Alimuddin Paada, didampingi anggota DPRD Sulteng I Nyoman Slamet, dan Faisal Lahadja. RDP berlangsung lancar, dihadiri Kepala Dinas (Kadis) Dinkes) Sulteng dr. H. I Komang Sujendra, Ketua PMI Sulteng Dr. H. Hidayat Lamakarate, dan dr. H. Abdullah dari RSUD Undata.

Kepada Radar Sulteng, Ketua Komisi IV Dr. Alimuddin Paada menjelaskan, digelarnya RDP kali ini adalah membahas berbagai isu dan perkembangan yang lagi hangat saat ini (trend) di tengah masyarakat. Antara lain, tentang penanganan Covid-19 oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng bersama tim Gugus Tugas Covid-19, banyaknya warga yang terpapar Covid-19 dan Covid-19 varian baru delta, banyaknya warga yang meninggal di rumah sakit, adanya isu peralatan canggih plasma konvalensen di RSUD Undata tetapi belum digunakan secara massif.

Selanjutnya, tentang strategi dan aksi pelaksanaan vaksinasi di Sulteng dan diseluruh 13 kabupaten dan kota di Sulteng, partisipasi TNI dan Polri dalam melakukan vaksinasi dengan strategi serbuan vaksinasi, lalu penggunaan vaksin yang kini diinfokan mulai menipis dan ada yang menyebutnya akan habis, serta penggunaan varian vaksin yang belum dicoba semisal Astra Zaneca, Moderna, Pfizer, plasma konvalensen melalui darah penyintas (korban Covid-19) selain vaksin Sinovac yang telah digunakan, dan mempertanyakan pula sudah beberapa warga yang terpapar Covid-19 bahkan hingga tiga kali tetapi masih juga terpapar.

Inilah isu-isu terkini yang dibahas mulai pukul 14.00 Wita hingga selesai, dan berlangsung dengan lancar saling tukar informasi hingga sepakat untuk menggunakan alat plasma konvalensen yang kini berada satu-satunya di Sulteng yaitu di RSUD Undata.

Dari perkembangan RDP, Kadis Kesehatan dr. Komang Sujendra menjelaskan sudah 26.500 orang divaksin baru-baru ini. Setelah TNI dsn Polri masuk. ” Kita terbantu, ” kata dr. Komang.

Dikatakannya, besok hanya masuk 2000 botol vaksin. Sementara semua kabupaten di Sulteng meminta bantuan vaksin, termasuk Kabupaten Sigi juga minta karena sudah jatuh tempo. Tapi masih kurang. “ Kalau mau kritikan. Yah memang lagi kurang vaksin kita, “ ucapnya.

Disebutkannya, populasi di bulan Juli sangat besar. Hari ini juga bisa habis. Rata-rata habis 50 botol per hari. Di Buol ada 8 Puskesmas. Di Tolitoli 25 botol. Satu botol untuk 9 orang saja, “jelasnya memberi contoh.

Anggota DPRD Faisal Lahadja mempertanyakan soal efisiensi vaksin yang bisa digunakan, terutama yang murah tetapi lebih efektif dan efisien, yakni vaksin Astra Zaneca, sistem vaksinasi yang sudah selesai. Hingga beberapa negara Eropa maupun Amerika Serikat dan Australia serta beberapa negara lainnya di Asia, tidak lagi menggunakan masker.

“Lihat saja pertandingan besar tennis, tidak ada lagi penonton yang pakai masker, seperti di Wimbeldon, maupun Rollan Gaross. Karena mereka semua menggunakan vaksin Astra Zaneca, “ ungkapnya.

Menjawab pertanyaan Faisal Dr. Komang kembali memberi sinyal hati-hati dan waspada satu. Di awal pandemik belum disarankan vaksin, tetapi dilakukan pengobatan bagi yang terpapar. Akhirnya ada vaksin, termasuk Astra Zaneca ini. Tetapi kemudian di beberapa negara juga sudah mulai terpapar, misalnya Italia dan India.

Menurutnya, mengapa Sulteng menggunakan vaksin Sinovac, karena gampang diakses untuk membantu penderita atau warga yang terpapar.

“ Ada 2,4 juta warga Sulawesi Tengah yang menjadi sasaran kita. Untuk menggarap itu kita baru 300 ribu. Nah jika kita kalikan dua kali vaksin, maka vaksin juga akan habis, “ sebutnya.

“ Sementara vaksin Pfizer, baru sebatas MoU. Sedang digarap. Kapan dikirim kita masih menunggu perkembangan, “ terang Komang lagi.

Ketua Komisi IV, Dr. Alimuddin Paada lalu menanyakan bagaimana dengan yang sudah vaksin kedua ? Dan bagaimana dengan alat yang kini sudah ada di RSUD Undata.

Pertanyaan ini dijawab dr. H. Abdullah dari RSUD Undata, selaku operator Undata, bahwa peralatan untuk plasma Konvalensen adalah metode yang mujarab. “ Penyakit apapun sering menggunakan teknik ini. Maka di seluruh dunia menggunakan plasma konvalesen, “ kata Abdullah.

Dia lalu menjelaskan teknik penggunaannya, yakni darah diambil dari penyintas, selama 14 hari lalu disuntikan kembali. Sangat banyak antibody-nya, sehingga dia bisa hidup. Diambil di tubuh penderita, hingga bisa selamat.

“Di Indonesia dipakai di pulau Jawa. Di Sulawesi Tengah, dari enam rumah sakit tapi belum memenuhi syarat. Syaratnya harus lakilaki, diutanakan penyintas itu adalah pendonor darah aktif, “ urainya.

- Periklanan -

Dijelaskannya vaksin Sinovac itu 65 persen sukses, gagal 35 persen.
Virus itu benda mati yang menumpang sama orang hidup. Selama 2 minggu. Kalau tidak ada tempat tumpangan virus itu mati dengan sendirinya.

Faisal Lahadja pun mengemukakan tentang her imunity, Indonesia harus vaksin. Akar permasalahan sudah didapat. Yaitu datangkan vaksin yang bagus. Ada vaksin yang murah.

Ketua Komisi Alimuddin Paada juga bertanya bagaimana dengan yang sudah tiga kali kena Covid, dan bagaimana masa inkubasinya ? Dijawab dr Abdullah, Sinovac itu harus 90 persen orang Indonesia harus divaksin.

“Harus dilakukan cross, disilang, dengan suntikan merek lain. Suntikan ketiga misalnya disuntik dengan vaksin lain, misalnya moderna, “ kata Abdullah

Sementara itu, Ketua PMI Sulteng Dr. Hidayat Lamakarate mengatakan pihak PMI Sulteng telah melakukan berbagai program kerjanya terutama di masa pandemik Covid-19, yakni memberikan fasilitas Ambulans. Menyiapkan masker. Menyiapkan dan mendistribusikan handsanitaizer. Bersama tim internasional melakukan promosi kesehatan bagaimana menangani Covid-19.

“ Saat ini, kami dari PMI Sulawesi Tengah juga telah membantu alat dengan nama plasma. Tetapi dari pusat diinformasikan untuk sementara belum bisa diadakan, dengan alasan tertentu, “ jelasnya, kepada Komisi IV.

Selanjutnya, tambah Hidayat, PMI Sulteng telah mendistribudikan masker sebanyak 2.500 masker untuk tenaga kesehatan. Pihaknya rajin berkomunikasi dengan PMI Pusat. Meminta PMI pusat untuk membantu penanganan Covid-19 di Sulteng.

“ Melakukan komunikasi yang intens dan telah terbangun dengan baik bersama Ketua PMI Pusat bapak H. Jusuf Kalla, begitu juga dengan Palang Merah Internasional, dan Bulan Sabit Merah dari Turki dalam rangka mendukung penanganan Covid-19 di Sulteng, “ tegas Hidayat.

” Dimanapun alat itu ditempatkan, kita bisa bekerjasama. Kita tinggal mengirim tenaganya, “ tambahnya.

Dikatakannya alat ini sangat mahal. Tapi alat ini bisa menyembuhkan orang yang terkena Covid-19. Alat ini terkoneksi dengan darah. “ Mengenai darah yang ada di PMI Sulteng, karena pandemi sangat sulit untuk mencari pendonor lagi. Tetapi ini tetap akan diupayakan agar ketersediaan darah di PMI tetap ada, “ ucap Hidayat.

Hidayat pada kesempatan itu, mempersilakan kepada warga Sulteng yang membutuhkan darah untuk menghubungi pihaknya.

“ Kalau ada kesulitan warga tentang kekurangan darah, tolong disampaikan secepatnya kepada kami. Memang ada prosedur. Tetapi, jangan sampai jiwa seseorang itu tidak tertolong, “ tandasnya.

Sementara dr Abdullah mengungkapkan penyebab kekurangan darah karena pandemi. Dulu sebelumnya bisa memproduksi 1.300-1.500 kantong. Bahkan saat pandemi produksi darah tinggal 800 kantong. Sekarang instansi kurang melakukan donor darah. Sejauh ini yang membantu donor darah adalah TNI dan Polri.

“ Dibeberapa tempat sering dilakukan donor darah, salah satunya di Vatulemo. Tapi saat ini masih kurang, “ sebutnya lagi.

“Tapi sekarang sudah bisa capai 1.000. Mudah-mudahan pandemi ini usai akan pulih juga penyediaan darah, ” papar Abdullah.

Mengenai penggunaan alat semua peserta RDP sepakat dan merasa optimis untuk menggunakannya demi kesehatan rakyat Sulteng secara keseluruhan.

“ Kita optimis alat dipakai. Memang Rumah Sakit kita, tidak didesain untuk penanganan Covid. Tetapi ada kelompok yang rentan terpapar Covid yaitu lansia, pengidap jantung, dan diabetes, “ urai dr. Komang lagi.
Hidayat Lamakarate menyarankan alat itu bisa digunakan, supaya tidak mubasir. Karena ada alat plasma ini.

Diakhir RDP anggota DPRD I Nyoman Slamet, sempat mempertanyakan strategi apa yang akan dilakukan oleh Pemprov Sulteng untuk menangani berbagai perkembangan Covid-19 dengan varian barunya terkini, sehubungan dengan akan digunakannya alat plasma konvalensen, jika melihat data daftar pendonor darah di Sulteng sebanyak 6.000 orang.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.