Kolaborasikan Strategi Pembelajaran Berbasis Hormon Beta Endorfin

Tri Setyawati, Dokter Gigi yang Berhasil Raih Gelar Doktor Pendidikan

- Periklanan -

Minat mahasiswa atau pelajar dalam menyerap suatu pelajaran erat kaitannya dengan apa yang dirasakannya dalam diri sendiri. Bila perasaannya dalam keadaan senang maupun bahagia, maka pelajaran yang diterima pun semakin mudah diterima. Lewat disertasinya, Dr drg Tri Setyawati MSc, menawarkan solusi, agar para pelajar mampu memahami suatu pelajaran.

AGUNG SUMANDJAYA, Tondo

PELAN tapi pasti, Tri Setyawati mencoba mempertahankan disertasinya, dari sejumlah pertanyaan para penguji dalam sidang terbuka promosi doktor, yang berlangsung di Media Center, Universitas Tadulako (Untad), Kamis (9/1) kemarin. Tri saat itu duduk sebagai Promovenda berhadapan dengan Promotor, co-Promotor dan Penguji Eksternal maupun Penguji Internal dan Penguji Akademik.

Sidang sendiri dipimpin Prof Ir Mohammad Basir, yang juga Ketua Senat Universitas Tadulako. Tri Setyawati dalam disertasinya mengangkat judul ; Strategi pembelajaran problem base learning (PBL) berbasis hormon beta endorfin untuk meningkatkan minat dan hasil belajar mahasiswa kedokteran Untad pada mata kuliah biokimia.

Di hadapan para penguji, Tri mengungkapkan, PBL sendiri merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan pelajar untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga pelajar dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah. Dia pun telah menguji langsung, bahwa lewat model PBL ini, beta endorfin pun meningkat, dan pelajaran dapat diterima dengan baik. “Untuk melihat tingkat endorfin, beberapa mahasiswa kami tes darahnya juga,” kata Tri Setyawati, yang juga dokter gigi ini.

- Periklanan -

Hormon endorfin sendiri, kata dia, adalah zat kimia seperti morfin yang diproduksi sendiri oleh tubuh. Endorfin memiliki efek mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia. Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar hipofisis. Hormon Endorfin terdiri dari neuropeptida opioid endogen. Selama ini kata dia, pembelajaran khususu mata kulia bio kimia, memang kerap menggunakan pembelajaran konvensiaonal, dan belum menggunakan PBL. “Selama ini dosen mengajar dengan sistem teacher center learning saja. Tapi PBL bentuk pembelajarannya student centered learning, di mana mengarahkan mahasiswa lebih banyak berdiskusi dan menyelesaikan masalah,” sebutnya.

Masih menurut dia, meski begitu, baik tidaknya PBL ini, tergantung dari mentor atau dosen yang mengajar di ruangan. Begitu pun hormon endorfin, juga bisa meningkat jika dosen yang membawakan mata kuliah, dapat membuat mahasiswa senang dan bahagia. Penguji Eksternal dalam sidang promosi ini, Dr Minarni Nongtji Spd MSi sempat menanyakan, terkait metode ini apakah bisa diterapkan pada anak berkebutuhan khusus.

Sebab, sesuai dengan bidangnya, Minarni yang juga Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, berharap apa yang menjadi disertasi dari promovenda ini, bisa diterapkan dalam pembelajaran bagi anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB). “Saya berharap inovasi ini, bisa bermanfaat tidak hanya pada bangku kuliah saja namun juga pada tingkat sekolah dasar maupun sekolah luar biasa,” kata Minarni.

Menjawab hal itu, Tri mengungkapkan, hal ini bisa saja dilakukan, namun perlu diketahui, bahwa bagi siswa SLB yang mengidap autisme juga mengalami depersonalisasi, sehingga perlu guru atau tutor yang baik, agar hormon endorfinnya tetap terjaga. Terpisah, Ketua Penguji Promosi Doktoral, Prof Basir mengapresiasi disertasi yang dibuat oleh Tri Setyawati, yang mengkolaborasikan ilmu pendidikan dan ilmu kedokteran dalam disertasinya.

Dia juga berpendapat, bahwa memang saat ini sudah bukan zamannya lagi, dosen ketika masuk ruangan, harus menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa, sehingga menurunkan minat untuk belajar. “Saya mengapresiasi penelitian ini, dan kedepan perlu dikembangkan lagi dan sudah seharusnya memang model pembelajaran seperti itu yang bisa beri rasa nyaman peserta didik, agar memori mereka terbuka. Sudah bukan zamannya lagi dosen masuk dan seolah menakut-nakuti mahasiswa,” jelas mantan Rektor Untad ini.

Dalam sidang promosi ini, seluruh penguji sepakat memberikan nilai A atau sangat memuaskan bagi disertasi yang dibuat Tri Setyawati. Dia juga mendapat predikat cum laude, karena berhasil menyelesaikan kuliah di Prodi Pendidikan Sains Program Doktoral Pascasarjana Untad, tidak lebih dari 3 tahun. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.