Koko dan Cici Sulteng Lakukan Tradisi Cheng Beng

- Periklanan -

Koci Sulteng saat melakukan ziarah di pekuburan warga Tionghoa, di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Talise, Kemamatan Mantikulore, Kota Palu. (Foto: Umi Ramlah)

PALU – Koko dan Cici (Koci) Sulteng melakukan ziarah sekaligus bersih-bersih di makam yang paling lama, atau dianggap orang paling tua di kompleks pekuburan warga Tionghoa di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Talise, Kemamatan Mantikulore, Kota Palu, Selasa (4/4).

Dari pantauan Radar Sulteng, dengan membawa sapu dan karung, para Koci Sulteng membersihkan makam. Mereka juga membawa bunga dan dupa untuk mendoakan arwah leluhur agar tenang dan damai.

- Periklanan -

Fonder Koko Cici, Fatir Muhamad mengatakan, kegiatan yang mereka lakukan adalah ziarah kubur leluhur. Itu sebagai bentuk penghormatan para kaum muda kepada orang tua, yang dalam bahasa China (Tionghoa, red) disebut Cheng Beng. “Ziarah kubur leluhur tradisi China (Tionghoa, red) Indonesia, merupakan tradisi sembahyang kepada leluhur orang tua yang sudah mendahului kita. Cheng Beng merupakan kata yang berasal dari bahasa Hokkien juga merupakan festival Qing Ming,” jelasnya.

Sementara kata dia, sembayang yang dilakukan pada awal April ini disebut Ching Ming. Sembayang ini juga sebagai bentuk penghormatan kaum muda kepada orang tua yang telah mendahului. Saat ziarah, harus membawa uang emas, uang perak, membawa minuman, dan makanan. Agar arwah yang ada di alam kubur sejahtera, tidak susah. “Kami memperlakukan arwah ibarat masih hidup, jadi kami kasih semua itu agar mereka tidak kesusahan dan kekurangan,” sebutnya.

Fatir menjelaskan, sebelum ziarah kubur juga dilakukan bersih-bersih makam, agar terlihat lebih indah, karena kewajiban orang yang masih hidup menjaga makam leluhur terutama keluarga. “Setelah itu berdoa bersama, karena Koci banyak yang bukan keturunan Tionghoa jadi kami berdoa sesuai keyakinan masing-masing,” jelasnya. (umr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.