Koalisi LSM Desak Penegak Hukum Tutup Tambang Poboya

- Periklanan -

Inilah salah satu kolam rendaman material emas yang menggunakan bahan kimia jenis Sianida di kawasan tambang emas ilegal Poboya. (Foto: Radar Sulteng)

PALU – Fakta pencemaran lingkungan akibat penggunaan zat berbahaya jenis Merkuri di tambang emas Poboya sangat memprihatinkan.

Beberapa Civil Society Organization (CSO/LSM) seperti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulteng, Karsa Institut, Awam Green, Yayasan Merah Putih, dan Komunitas Muda Peduli Hutan berjanji akan mendesak Pemerintah dan penegak hukum untuk segera melakukan tindakan yang secepatnya untuk menghentikan aktivitas tambang emas Poboya karena kondisinya sudah sangat merusak lingkungan, mencemari air sungai, dan udara yang semakin parah di seluruh kota Palu.

“Walhi menyebut yang terjadi di Poboya saat ini merupakan kejahatan lingkungan,” ujar Kepala Departemen Riset dan Advokasi Walhi Sulteng, Freddyanto Onora, dihubungi Selasa (11/4).

Freddy sapaan akrabnya juga menyampaikan bahwa yang terjadi di Poboya sudah merupakan permasalahan yang sangat serius makanya kata dia, pada Minggu (16/4) perwakilan dari CSO yang mengawal kasus Poboya tersebut akan ke Jakarta untuk melakukan pertemuan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Hari Minggu kami akan ke Dirjen Gakkum (Penegakkan Hukum, red) KLHK untuk melaporkan hal ini, sehingga ada penanganan secara khusus serta riset yang mendalam terkait pencemaran Merkuri akibat aktivitas tambang emas Poboya,” tutupnya.

- Periklanan -

Sementara pantauan Radar Sulteng Aktivitas tambang emas Poboya masih berjalan. Selasa (11/4) pada pukul 11.41 dua mobil tangki yang sedang mengisi air di Jembatan yang terletak tidak jauh dari Kantor Kelurahan Poboya. Tidak lama berselang, ada lagi tiga mobil tangki lain yang juga datang mengisi air yang kemungkinan akan dibawa ke lokasi tambang.

Terpisah Kepala Seksi Sosial Kemasyarakatan Kelurahan Poboya, Ismail mengakui bahwa dengan aktivitas tambang, ekonomi masyarakat sekitar meningkat dengan drastis. Namun tidak dipungkirinya juga bahwa dengan tetap beraktivitasnya tambang, akan berbahaya bagi kesehatan warganya.

“Sebelum ada tambang disini, jarang di wilayah sini yang bisa sarjana. Jarang yang punya motor. Tapi sekarang, anak mereka bisa kuliah hingga sarjana serta memiliki kendaraan pribadi,” ucap Ismail saat ditemui di Kantor Kelurahan Poboya, Selasa siang (11/4).

Diakuinya peran pertambangan sangat meningkatkan perekonomian warga di wilayahnya. Namun, setelah mengetahui hasil penelitian Rektor Untad. Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio SE MS serta akademisi Fakultas Pertanian Untad, Dr Isrun SP MP bersama 3 Profesor asal Jepang yang ternyata sangat membahayakan kesehatan, Ismail mengatakan bahwa memang jika harus memilih antara keuntungan dengan kesehatan, tentunya kesehatan lebih di atas segalanya.

Namun lanjut Ismail, pihaknya juga memerlukan bantuan pihak-pihak terkait lainnya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan dampak bahaya dengan tetap melakukan aktivitas tambang.

Senada dengan itu Sekretaris Lurah Poboya, Ardin A Tolaba mengatakan siap mendukung jika seandainya pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu ingin melakukan sosialisasi terkait kesehatan kepada warga yang berada di wilayahnya tersebut.

“Jika ada sosialisasi dari Dinkes, tentunya kita akan sangat mendukung,” pungkasnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.