Kloter 07/BPN Survei Armuzna

Katering dan Bus Salawat Disetop Sementara  

- Periklanan -

MAKKAH – Sejak kemarin (5/8), para pimpinan rombongan termasuk tim kesehatan diberikan kesempatan meninjau lokasi Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Seperti yang dilakukan Kloter 07/BPN yang dipimpin Koordinator Lapangan (Korlap) H Mustamin Umar membawa para Karom (kepala rombongan) ke lokasi yang akan dijadikan puncak haji yakni wukuf di padang Arafah, mabit di Muzdalifah dan  Mina sekaligus lontar jumrah.

Menurut H Mustamin Umar didampingi TKHI Antoni, lokasi tenda yang akan dijadikan tempat wukuf di Arafah sudah dilakukan survei bersama para pimpinan rombongan maupun regu. Tujuannya kata Mustamin, para pimpinan rombongan dan regu bisa mengarahkan anggotanya setibanya di Arafah, Muzdalifah dan Mina. ‘’Lokasi tenda kloter 07/BPN mudah dijangkau dan dicari karena sudah dipasangi spanduk dengan warna kontras,’’ kata Mustamin seraya menyebut, para jamaah membawa perlengkapan dan makanan secukupnya.

Ditambahkan TKHI Antoni, bukan hanya tenda yang disurvei, kamar mandi dan dapur juga dicroschek kesiapan di lapangan. Bahkan lokasi Mabit di Muzdalifah dan Mina juga dilakukan peninjauan lapangan. ‘’Tiap tahun selalu ada perbaikan pelayanan termasuk bidang kesehatan. Tugasku adalah ibadahku,’’ demikian kata Antoni.

Sementara  sesuai jadwal dari otoritas Arab Saudi, layanan katering dan bus salawat dihentikan mulai hari ini (6/8). Jamaah harus mencari makan sendiri selama di hotel. Layanan katering baru diberikan kembali pada 15 Dzulhijjah atau 16 Agustus.

Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong menuturkan, sebaiknya jamaah berkoordinasi dengan ketua kloter masing-masing. Tujuannya agar bisa dikoordinasikan urusan makan dengan pihak hotel. Jadi, selama katering dihentikan, jamaah bisa mendapat katering dari pihak hotel.

’’Koordinasikan itu (urusan katering, Red) supaya jamaah tidak sampai kehabisan makanan,’’ jelasnya di Makkah kemarin (5/8). Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu berada di Makkah bersama sejumlah anggota DPR lainnya dalam rangka misi pengawasan penyelenggaraan ibadah haji.

Ali Taher mengakui bahwa pemerintah sudah mengupayakan supaya jamaah mendapatkan katering selama di Makkah. Namun ternyata kondisi dan situasi di Makkah yang tidak memungkinkan. Ia menuturkan bahwa seluruh dapur penyedia katering haji berada di ring 1 makkah.

Nah pada 6 Agustus tersebut sejumlah akses di pusat kota Makkah ditutup. Sehingga truk-truk pengangkut makanan dari dapur menuju hotel tidak bisa beroperasi. Sehingga diputuskan tidak ada penyediaan katering pada tanggal-tanggal tersebut. Begitu pula dengan layanan bus salawat dari hotel ke Masjidilharam juga berhenti sementara mulai hari ini.

- Periklanan -

Ali Taher menjelaskan bahwa jamaah tahun ini tetap mendapatkan uang saku atau living cost 1.500 riyal atau sekitar Rp 5,7 juta. Uang tersebit menurutnya, diantaranya bisa digunakan untuk membeli makan selama ada penghentian layanan katering.

Sejumlah kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) sudah siap terkait dengan penghentian katering itu. Diantaranya yang dijalankan oleh rombongan KBIH Babussalam, Palu. Ketua KBIH H Mustamin Umar mengatakan jamaahnya akan memasak di dapur hotel.

’’Di hotel Safa ada tempat masak, semacam dapur mini,’’ tuturnya. Selain memasak di hotel katanya, jamaah bisa juga membeli makanan siap saji yang banyak di jual di sekitaran hotel. Yang jelas, jamaah yang memasak sebagian sudah membawa beberapa peralatan masak dari tanah air.

Ketua Daerah Kerja (Daker) Makkah Subhan Cholid menuturkan, jamaah mendapatkan 40 kali makan siang dan malam selama 20 hari di Makkah. ’’Sedangkan jamaah tinggal di Makkah selama 25 hari,’’ jelasnya.

Jadi ada lima hari jamaah tidak mendapatkan konsumsi di Makkah. Subhan menegaskan, tidak ada katering selama lima hari itu karena kesulitan distribusi. Dia menjelaskan, katering yang sudah diproduksi, tetapi tidak bisa didistribusikan sampai ke jamaah nanti malah mubazir.

Subhan menuturkan sedang mengkaji pada saat penghentian katering tersebut, disiapkan katering menu cepat saji. Namun, harus ada perusahaan katering yang siap dengan jumlah jamaah begitu besar. Dia mengatakan jamaah haji reguler mencapai 214 ribu orang. Jadi setiap hari harus disiapkan 428 ribu porsi katering untuk makan siang dan malam. ’’Ini tidak sedikit,’’ tuturnya.

Dia berharap tidak adanya katering selama lima hari jamaah di Makkah, bisa ada solusinya tahun depan. Subhan bahkan mengatakan pemerintah terbuka kepada perusahaan tanah air yang bersedia menyediakan katering pada masa-masa puncak ibadah haji itu. Caranya adalah dengan menyediakan tempat masak atau dapur di dalam kota Makkah. Sehingga tetap bisa dengan mudah mendistribusikan ke hotel-hotel yang dihuni jamaah.

Meskipun layanan katering dihentikan selama lima hari, Subhan optimistis jamaah tetap bisa survive. Caranya mereka bisa membeli makanan secara sendiri-sendiri. Atau juga bisa menggunakan layanan di dapur listrik yang disiapkan oleh hotel.(hilmi/oni/lib/jpg)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.