Kisah Menegangkan di Pesawat Wings Air yang Meledak Sayapnya

- Periklanan -

SANTAI : Korban kecemasan di pesawat Wings Air, Abdul Rasyid (kanan), saat santai dengan salah seorang kerabatnya. (Foto: Uajng Suganda)

PERISTIWA seperti kecelakaan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Seperti insiden pesawat Wings Air jenis IW 1156 ATR 72-500 PK WFK yang mengalami kecelakaan penerbangan, Sabtu (14/1).

LAPORAN : UJANG SUGANDA


PESAWAT yang dipiloti Capten Djoko Sriyono ini take off pada Sabtu sekitar pukul 06.05 wita, dari Bandara Mutiara Sis Aljufrie Palu menuju Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk. Tiba-tiba bagian engine yang berada di sayap sebelah kanan tersebut meledak dan mengeluarkan percikan api.

Di dalam pesawat tersebut terdapat 64 penumpang. Sontak puluhan penumpang yang akan menemui keluarganya hari itu langsung histeris. Bagaimana tidak, usai ledakan terjadi bagian sayap sebelah kanan pesawat yang sudah mengudara sekitar 5 menit lamanya itu mengeluarkan api, dan baling-baling pesawat kemudian mati. Suasana kepanikan penjadi haru biru di pesawat buatan Perancis itu.

Untungnya insiden memilukan itu tak semakin parah. Dengan tenang, pilot yang memiliki kaulifikasi 1000 kali jam terbang itu bersikap tenang, dan mampu menguasai kemudi, bahkan dengan keberanian yang tinggi dan perhitungan yang matang pilot Djoko Sriyono mendaratkan kembali pesawat yang juga mengambil rute Palu-Tolitoli-Buol-Luwuk itu di landasan pacu bandara Mutiara SIS Aljufrie.

Dari kejadian itu ada kisah menarik dari salah seorang pejabat publik Donggala, Abdul Rasyid. Jabatan sehari-harinya adalah Wakil Ketua II DPRD Donggala, bagaimana perasaannya saat menghadapi situasi darurat seperti itu, seperti yang dituturkannya kepada harian ini.

- Periklanan -

Abdul Rasyid masih tak habis pikir, insiden yang tidak pernah dibayangkannya itu nyaris merenggut nyawanya dan penumpang lain. Keberangakatan Rasyid menumpangi pesawat tersebut bukan tanpa sebab. Dirinya secara mendadak mendapat kabar duka dari keluarga istrinya. Ya, orang tua dari istrinya telah meninggal dunia di Luwuk Kabupaten Banggai.

Pergi melayat ke kediaman mertua menjadi sebuah kewajiban, dan harus dilakukan meski jaraknya cukup jauh. Oleh karena itu untuk mengejar waktu, Rasyid berinisiatif berangkat melalui jalur udara. Maksud hati ingin cepat sampai dan bisa menghadiri pemakaman mertua berbicara lain. Kecelakaan akibat kerusakan mesin tak bisa dihindarkan.

Akibatnya Rasyid shock berat (trauma) seperti penumpang lainnya. Niat pergi melayat justru membuat dirinya nyaris tewas. Dia tidak menyangka insiden itu nyaris merenggut nyawanya. Tetapi kejadian itu memberi hikmah, Rasyid sangat bersykur insiden itu tak sampai menimbulkan korban jiwa.

“Saya sudah tidak mau lagi ingat-ingat kejadian kemarin itu, sangat menakutkan,” ungkap pria berkacamata ini.

Rasyid juga mengatakan, insiden itu menjadi catatan penting bagi maskapai penerbangan dan pihak-pihak terkait karena keselamatan penumpang harus menjadi prioritas dalam dunia penerbangan. “Jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” harap Rasyid.

Padahal waktu itu, kata Rasyid, cuaca sedang bagus-bagusnya. Oleh karena itu insiden tersebut kata Rasyid perlu diinvestigasi lebih dalam. Apakah ada human eror di dalamnya atau lainnya. “Kita berharap sebagai pengguna jasa ada evaluasi demi perbaikan selanjutnya,” tuturnya.

Setelah kejadian itu Rasyid kemudian tetap melanjutkan niatnya untuk pergi melayat ke kediaman almarhum mertuanya, walau terlambat. Kali ini Rasyid memilih menggunakan jalur darat bersama sanak keluarga lainnya. “Kejadian kemarin benar-benar membuat saya sangat shock. Jadi saya harus menggunakan jalur darat dengan menggunakan mobil. Meskipun membutuhkan cukup banyak waktu untuk tiba di kabupaten yang dijuluki Kota Berair ini,” tandasnya. (***)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.