Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Kisah Laskar Pelangi dari Desa Kali Buru Donggala (1)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Libur Bila Turun Hujan, Daun Kelapa Jadi Pelindung Kelas

PEJUANG PENDIDIKAN : Andre saat mengajarkan anak-anak kelas jauh yang berada di Dusu IV, Desa Kaliburu, Kecamatan Sindue Tambusabora, Kabupaten Donggala. (Foto: Alex via Radar Sulteng)

Keterbatasan bukan jadi penghalang untuk menuntut ilmu. Ini juga yang ditunjukkan sejumlah siswa kelas jauh SDN 2 Tambusabora, yang merupakan anak-anak suku terasing. Meski belajar di tempat seadanya dan diajar oleh dua orang guru honorer, tidak menyurutkan niat menuntut ilmu.

Laporan : Agung Sumandjaya


WAKTU menunjukkan pukul 06.30 wita. Hujan deras yang turun sejak subuh, tidak menyurutkan untuk menuju ke arah Utara Kota Palu. Jaraknya sekitar kurang lebih 50 kilometer. Memakan waktu satu jam hingga sampai di Desa Kali Buru, Kecamatan Sindue Tambusabora, Kabupaten Donggala.

Berbekal informasi dari sejumlah pihak, wartawan  koran ini akhirnya bisa bertemu dengan Sudarman, guru yang mengajar di kelas Jauh SDN 2 Tambusabora. Rencananya, Sudarman akan mengantarkan Radar Sulteng ke tempat kerjanya di kelas jauh, yang berada di Dusun IV, Desa Kaliburu. Namun kondisi cuaca ketika itu memang kurang bersahabat. “Mohon maaf, ini kan hujan, jadi jalan menuju ke atas (Dusun IV) sedang becek dan susah dilalui kendaraan. Anak-anak juga sudah tahu, kalau hujan begini pasti libur,” ucap Sudarman ditemui di Desa Kaliburu, Senin (9/1) lalu.

Dirinya bersama Salma, yang juga guru di tempat tersebut, mempunyai kesepakatan dengan para orang tua siswa yang ada di kelas jauh. Jika hujan tiba, maka guru tidak datang untuk mengajar, dan anak-anak pun libur. “Jalan ke atas kalau hujan, walaupun dilewati sepeda motor setengah mati untuk tembus ke sana. Kondisi tempat anak-anak belajar juga tidak memungkinkan jika hujan turun,” kata Sudarman, meyakinkan wartawan.

Memang tempat belajar tersebut terlihat jelas hanya berdinding dan beratap daun kelapa dari sejumlah foto yang diunggah di media sosial. Foto keberadaan tempat belajar itu sudah tersebar di jejaring sosial facebook, diunggah oleh beberapa mahasiswa, yang pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Mereka datang saat kondisi cuaca cerah dan tanah di jalan yang menuju ke Dusun IV sedang kering. “Jaraknya dari desa induk (Kaliburu) 7 kilometer. Tapi hanya sekitar 4 kilo jalan bagus, selebihnya jalanan tanah dan menanjak, kalau sepeda motor biasa-biasa pasti tidak tembus. Kalau cuaca normal saja bisa sampai satu jam perjalanan,” ungkap Darman lagi.

Dia pun bercerita, jika kelas jauh tersebut sudah berdiri sejak tahun 2013 silam. Dirinya baru mengajar di tempat itu sekitar setahun yang lalu. Siswa di kelas jauh ini, ada sekitar 19 orang. 9 laki-laki, dan 10 perempuan. Mereka merupakan anak-anak dari warga suku Da’a, yang bermukim di Dusun IV, Desa Kaliburu. Dusun ini sendiri, dihuni oleh 32 kepala keluarga, yang merupakan warga asli suku da’a. “Dulu mereka belajar di sabua (pondok) milik warga, tapi karena sudah dipakai untuk tempat tinggal, jadi orang tua mereka bangunkan lagi tempat baru namun hanya pakai daun kelapa untuk dinding dan atapnya,” sebutnya.

Untuk tempat duduk dan meja pun, anak-anak ini menggunakan kayu bekas tebangan pohon, yang dibuat oleh para orang tua. Meski begitu, lanjut Sudarman, semangat para murid di kelas tersebut, untuk menuntut ilmu sangat tinggi. Mereka tidak ada sekalipun mengeluh dengan kondisi yang ada. “Anak-anak ini semangatnya untuk belajar sangat besar,” katanya.

Memang, apa yang diajarkan oleh Sudarman dan Salma di sekolah itu, tidak sama dengan anak-anak yang ada di sekolah pada umumnya. Mereka hanya diharuskan mengajar, agar anak-anak suku Da’a tersebut bisa membaca, menulis serta berhitung. “Jadi sekarang sudah ada yang kelas lima, tapi untuk belajarnya biasa kita gabung dari kelas satu sampai kelas lima,” tutur pria 32 tahun ini.

Dirinya bersyukur, kini para siswa di kelas jauh tersebut, sudah lancar berbahasa Indonesia dan membaca serta berhitung. Namun, satu yang menjadi kesedihan Sudarman, dirinya belum bisa menjadikan anak-anak tersebut menjadi anak yang percaya diri dan terbuka dengan dunia luar. “Mereka ini kasihan masih suka minder. Kalau ada orang baru yang datang saja mereka lari, begitu juga ketika kita ajak untuk turun upacara ke sekolah induk di SDN 2, mereka masih malu,” terang Sudarman.

Semangat anak-anak suku da’a di Desa Kaliburu itu, membuat Sudarman dan Salma, juga ikut semangat mengajar di dusun tersebut. Hanya hujan saja kata Sudarman, yang kerap menghambat dirinya bertemu para murid. Meski hanya berstatus sebagai tenaga honor dengan gaji Rp1juta perbulan, tidak lantas membuat Sudarman dan Salma, berkecil hati. “Kami senang bisa mengajar anak-anak ini yang juga mendapat dukungan dari orang tua mereka. Namun dukanya, yah kalau dalam perjalanan ke atas, harus lewati medan yang berat,” ujarnya, sembari tersenyum.

Wartawan media ini, masih penasaran untuk berkunjung langsung ke kelas jauh, yang sepintas ceritanya hampir sama dengan novel Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Namun Sudarman berjanji, menginformasikan kembali bila cuaca telah mendukung dan kondisi jalan sudah benar kering dan bisa dilintasi kendaraan.

Perjuangan murid kelas jauh dan gurunya ini, telah mengundang perhatian sejumlah relawan. Salah satunya dari Treveler Berbagi. Komunitas yang anggotanya didominasi mahasiswa ini, menggalang bantuan untuk perlengkapan para siswa dan juga kelas jauh tersebut. “Kami sudah pernah kesana, dan memang tempat mereka belajar sungguh sangat memprihatinkan,” ucap Axel, salah satu anggota dari Treveler Berbagi. (bersambung)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.