Kisah “Laskar Pelangi” dari Desa Kali Buru (3/Habis)

- Periklanan -

Liliyanti Ingin Jadi Dokter, Harapkan Ada Bangunan Sekolah Permanen

SERIUS BELAJAR : Anak-anak suku da’a di Dusun IV, Desa Kaliburu, Kecamatan Tombusabora saat mendengarkan guru menerangkan di tempat belajar, yang hanya berdinding dan beratap daun kelapa. (Foto: Agung Sumandjaya)

Meski tidak mendapatkan fasilitas belajar yang layak, anak-anak suku da’a yang bermukim di Desa Kali Buru ini, memiliki cita-cita yang tinggi. Ternyata tidak hanya fasilitas pendidikan, fasilitas lain, seperti listrik, air bersih bahkan rumah ibadah pun, belum dirasakan masyarakat yang ada di Dusun IV, Desa Kali Buru, Kecamatan Sindue Tombusabora, Kabupaten Donggala.

LAPORAN : AGUNG SUMANDJAYA


CUACA di sekitar dusun IV, tempat belajar anak-anak suku da’a mulai mendung. Angin kencang juga bertiup. Namun proses belajar mengajar masih tetap berlangsung. Tidak ada raut kekhawatiran dari wajah murid-murid di kelas jauh ini, kalau-kalau tempat mereka belajar akan hancur diterpa angin.

Mereka masih nampak serius mendengarkan apa yang disampaikan oleh Sudarman dan Salma, guru di tempat tersebut. Beberapa pertanyaan yang diajukan sang guru, juga antusias dijawab. Selang beberapa saat, anak-anak ini diberikan waktu untuk beristirahat sejenak, layaknya murid-murid di sekolah.

Waktu istrirahat ini, dimanfaatkan Radar Sulteng untuk berbincang dengan beberapa anak. Salah satunya adalah Bimo (10). Awalnya dia ragu untuk mendekat. Setelah bungkusan permen ditunjukkan, Bimo akhirnya datang mendekat. Meski sudah berusia 10 tahun, namun Bimo mengaku baru dua tahun mengikuti proses belajar di kelas jauh SDN 2 Tombusabora. “Sedikit-sedikit saya sudah tahu membaca,” ujar Bimo, yang diakui gurunya termasuk murid yang cepat tanggap.

Tinggal di daerah terpencil, bukan menjadi alasan untuk tidak bercita-cita. Bimo sendiri, bercita-cita ingin menjadi seorang anggota Polisi.  Dia ingin menjadi polisi, agar bisa melindungi masyarakat, terutama bagi orang-orang yang tidak mampu seperti di kampungnya. “Mau jadi polisi biar bisa tolong orang,” katanya.

Meski belajar di tempat yang kurang layak, Bimo mengaku sangat senang, bila kedua gurunya tersebut sudah datang untuk mengajar. Boleh dikata, dia salah satu murid, yang tidak pernah absen. Dia juga berkeinginan, bila lulus nanti bisa diberikan kesempatan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (SMP). “Iya kalau lulus mau juga sekolah di SMP,” ujarnya.

- Periklanan -

Lain lagi dengan Liliyanti. Bocah 6 tahun ini, lebih memilih menjadi seorang dokter. Profesi dokter dipilihnya, karena di kampung tersebut, belum ada orang yang bisa mengobati seperti dokter. “Mau jadi dokter biar bisa obati mama dengan papaku,” ujarnya polos.

Baik Bimo dan Liliyanti memang mengaku sangat senang bila belajar di tempat tersebut. Namun, gigitan semut yang ada di lantai tanah tempat mereka belajar ini, kerap mengganggu konsentrasi saat Salma maupun Sudarman memberikan materi. “Kita mau tempat belajar di sini bangunan yang bagus,” singkat Liliyanti.

Yang juga patut diacungi jempol adalah para orang tua murid-murid sekolah jauh ini. Meski berada di daerah terpencil, namun pemikiran mereka tentang pentingnya pendidikan bagi anak, sudah terbuka. Contohnya Ranja, yang ketika melihat guru telah tiba di dusun mereka, langsung cepat-cepat menyuruh anaknya pergi untuk belajar. “Kami sangat dukung sekali adanya tempat belajar di sini. Tapi kasihan tempatnya seadanya,” ujar pria 30 tahun ini.

Tidak hanya fasilitas pendidikan yang minim. Fasilitas umum lainnya, seperti listrik maupun air bersih belum dirasakan Ranja dan warga lain di Dusun IV, Desa Kaliburu. Anak-anak di dusun ini, sebenarnya bisa belajar lebih maksimal, namun fasilitas yang minim mengharuskan mereka hanya belajar pada siang hari. Sedangkan di malam hari, karena tidak adanya penerangan seperti listrik, anak-anak tidak bisa belajar di rumah. “Susah kami di sini tidak ada listrik. Mau pakai lampu pelita saja butuh minyak tanah, sedangkan minyak tanah sekarang sudah mahal dan sulit kami dapati,” keluh Ranja.

Dusun IV sendiri dihuni sekitar 32 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa sekitar 100 orang. Mayoritas warga berkebun di lereng-lereng gunung yang ada di sekitar dusun. Seluruh warga suku da’a yang bermukim di daerah ini, memeluk agama Islam. Namun sayangnya, di dusun ini belum ada rumah ibadah seperti mushola, bahkan masjid. Ustad yang mengajari ilmu agama bagi anak-anak maupun warga dewasa di dusun ini juga tidak ada. Besar keinginan Ranja dan warga lainnya untuk memperdalam ilmu agama Islam. Sebab, warga di desa ini hanya mengetahui mereka memeluk agama Islam, sementara untuk beribadah mereka seolah tidak ada yang menuntun.

Sejak tinggal di Dusun IV, Ranja mengakui memang belum ada bantuan yang diberikan untuk dusun mereka terkait fasilitas umum. Jalan pun sebagian menuju ke dusun ini, masih sangat rusak. Namun, dirinya meminta, jika memang kelak ada bantuan yang diberikan, yang paling utama adalah bangunan tempat belajar serta masjid atau mushola.

Salah seorang warga yang dituakan atau kepala suku da’a yang ada di dusun itu, Nae, mengungkapkan, keberadaan masyarakat suku da’a di Desa Kali Buru ini, sudah dari beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya, mereka bermukim di wilayah Desa Soi, Kecamatan Pinembani, Kabupaten Donggala, yang jaraknya sekitar ratusan kilometer dari desa saat ini.  “Kita dulu dari sana semua, pindah kemari,” terang Nae, yang kini telah berusia sekitar 70an tahun.

Namun Nae enggan bercerita lebih lanjut, mengapa mereka pindah dari Soi ke Kaliburu. Saat pertama tiba di sekitar wilayah Sindue, Nae dan beberapa orang warga ketika itu, tinggal di salah satu lereng gunung, namun pada tahun 2000 silam, tempat tinggal mereka itu terkena bencana longsor. “Banyak yang meninggal waktu itu. Kami pun semua pindah ke Desa Kaliburu ini,” terangnya.

Cuaca di Dusun IV, ketika itu yang mulai turun hujan, mengharuskan Radar Sulteng menyudahi kunjungan. Sebab, jika hujan turun, bisa-bisa kendaraan tidak akan bisa turun dari dusun tersebut, karena kondisi jalan yang licin.

Sementara itu, pihak Kecamatan Sindue Tombusabora yang hendak dimintai keterangan mengaku belum banyak mengetahui kondisi di dusun tersebut. Camat Sindue Tombusabora, Rusli Pagabe, ketika itu tidak berada di tempat. Wartawan hanya bertemu dengan Kepala Seksi Pemerintahan, Ibrahim. Dia pun tidak mengetahui pasti berapa jumlah warga yang ada di dusun itu. Namun kata dia, tempat belajar yang ada di Dusun IV itu, sempat didengarnya sudah diusulkan untuk dibangun tempat yang lebih layak. “Sudah diusulkan itu,” singkat Ibrahim. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.