Kisah “Laskar Pelangi” dari Desa Kali Buru (2)

- Periklanan -

Belajar Sambil Angkat Kaki, Agar Tidak Digigit Semut

TETAP SEMANGAT : Guru beserta murid kelas jauh SDN 2 Tombusabora, di Dusun IV, Desa Kali Buru foto bersama di depan tempat belajar yang kurang layak. Foto lain : Perjuangan dua orang guru honorer yang mengajar untuk anak-anak suku terasing tersebut. (Foto: Agung Sumandjaya)

Harian Umum Radar Sulteng akhirnya berkesempatan melihat langsung tempat belajar atau kelas jauh SDN 2 Tombusabora, di Dusun IV, Desa Kali Buru. Ternyata memang butuh tenaga ekstra untuk sampai ke tempat belajar anak-anak suku terasing tersebut.

LAPORAN : Agung Sumandjaya


SETELAH mendapat informasi dari Sudarman, guru di kelas jauh tersebut, cuaca di sekitar Desa Kali Buru sudah cerah dan jalan telah kering, wartawan koran ini pun langsung bergegas kembali menuju Kali Buru. Tiba sekitar pukul 07.45 di Kali Buru, langsung disambut oleh Sudarman bersama Salma, rekannya sesama guru.

Kedua guru berstatus honorer ini pun, sudah rapi dengan stelan batik yang seragam. Menggunakan sepeda motor matic, Sudarman berboncengan dengan Salma dan menjadi penuntun Radar Sulteng menuju ke kelas jauh SDN 2 Tombusabora, yang ada di Dusun IV.

Apa yang disampaikan Sudarman sebelumnya, terbukti. Jalan yang ditempuh cukup menguras energi. Selain dihadapkan dengan tanjakan, jalan yang masih basah dan berlumpur juga sempat menyulitkan sepeda motor yang dikendarai wartawan media ini. Bahkan, Salma yang dibonceng Sudarman sempat turun beberapa kali dari sepeda motor, dan harus berjalan kaki. “Sudah begini kondisinya (jalan),” ucap Salma, sambil mengganti sepatu hak tingginya dengan sendal jepit agar mudah berjalan.

Tidak sampai satu jam perjalanan, tempat belajar anak-anak suku Da’a ini sudah terlihat. Di luar dugaan, ternyata selain hanya berdinding dan beratap daun kelapa, tempatnya juga sempit. Tempat yang sepintas menyerupai (maaf) kandang ternak itu, hanya seluas 5×2 meter saja. Itupun harus dibagi dua tempat belajar atau kelas.

Di tempat tersebut ketika itu hanya terlihat dua orang anak yang sedang menanam bunga. Sementara anak-anak lainnya, masih berada di rumah masing-masing. Sudarman dan Salma nampak mendatangi satu persatu rumah warga di Dusun IV. “Begini lah mereka, biar kita sudah ada biasa masih sepi juga. Nanti  kita yang ajak dan datangi di rumahnya masing-masing,” kata Salma.

- Periklanan -

Sekitar setengah jam door to door, sang guru hanya bisa mengumpulkan 12 anak untuk diajak belajar ke tempat yang juga mereka sebut sekolah itu. Meski ada yang baru bangun dan ada yang lupa membawa perlengkapan belajar, namun semangat anak-anak ini untuk menimba ilmu sangat tinggi. Terlihat dari langkah kaki mereka menuju ke kelas jauh.

Proses belajar mengajar pun dimulai, dengan diawali doa bersama. Saat itu Andre bertugas mengajar anak umur 6 hingga 8 tahun, sedangkan di sebelahnya, Salma mengajar anak umur 9 hingga 10 tahun.  Beberapa orang anak nampak mengangkat kakinya ke atas tempat duduk, yang terbuat dari bekas tebangan pohon. Bukan tidak sopan, hal itu dilakukan untuk menghindari gigitan semut yang ada di lantai tanah kelas tersebut. “Seperti ini lah kondisi kami. Apalagi kalau habis hujan begini pasti semut di mana-mana,” ungkap Salma lesu.

Salma sudah sejak 2014 mengajar anak-anak suku terasing yang ada di Desa Kali Buru. Sudah hampir 3 tahun mengabdikan diri untuk anak-anak tersebut, memang belum ada perubahan tempatnya mengajar. Dahulu malah sedikit lebih baik dari sekarang. “Kalau dulu kita masih belajar di bawah rumah panggung. Tapi karena agak jauh, anak-anak banyak yang tidak datang. Makanya orang tua mereka buatkan tempat ini, dengan hanya pakai daun kelapa dan kayu-kayu sisa,” ujar Salma, yang telah menjadi guru honorer dari 2004 silam.

Menurut dia, mengajar anak-anak suku terasing ini, harus perlu banyak kesabaran. Cara mendidik pun tidak sama dengan anak-anak di sekolah biasa. Salma mengaku, lebih banyak mengambil hati dengan cara-cara halus, agar mereka tidak berhenti bersekolah. “Kita tidak bisa perlihatkan terlalu marah, karena yang ada mereka malah pulang dan tidak mau lagi belajar,” tuturnya.

Saat awal-awal mengajar di tempat tersebut, Salma sempat mendapat penolakan dari orang tua maupun anak-anak suku da’a ini. Karena tipikal warga dahulu sangat tidak mudah percaya dengan orang asing. Seiring pendekatan yang terus dilakukan Salma, akhirnya dia berhasil diterima. “Tapi dulu saya takut-takut kalau mengajar di sini, karena anak-anak kalau datang ada yang bawa parang dan sumpit,” ungkapnya.

Dia pun sering meminta ditemani sang suami jika ingin mengajar, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya, dia memberi pengertian kepada anak-anak tersebut, untuk tidak lagi membawa senjata tajam ketika hendak belajar. “Mereka akhirnya mau. Saya juga tidak mungkin setiap hari minta ditemani suami kalau mengajar, dia juga punya kesibukan lain,” terang Salma.

Salma sempat meneteskan air mata, ketika mengingat kembali perjuangannya awal mengajar di kelas jauh ini. Dan yang menjadi kesedihannya ketika itu, saat harus menempuh perjalanan yang melelahkan untuk mengajar, dirinya juga harus menahan emosi ketika menghadapi tingkah anak-anak yang bandel. “Emosi ini kita pendam saja, karena tidak mungkin kita tunjukkan marah kepada mereka,” sebut Salman, sambil menyeka air mata.

Baik Salma maupun Andre, sangat gelisah ketika musim hujan tiba dan mengharuskan mereka tidak bisa mengajar anak-anak ini selama berhari-hari. Sebab, jika 3 hari saja anak-anak ini tidak melihat Salma dan Andre, maka akan menjadi asing kembali bagi mereka ketika diajar kedua guru tersebut. “Kalau sudah begitu, tinggal pintar-pintarnya kita lagi bujuk mereka. Apakah itu kita belikan roti atau permen biar mereka mau belajar lagi,” katanya.

Kini, menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak suku terasing tersebut dijalani Salma, bukan lagi hanya untuk mencari nafkah semata, namun sudah menjadi panggilan jiwanya, untuk melihat mereka mendapatkan pendidikan yang layak. “Kalau mau harapkan gaji memang tidak cukup. Saya juga bisa cari kerja yang lebih besar gajinya dari sini (mengajar) , tapi saya tidak ingin melihat anak-anak ini tidak mendapat pendidikan selayaknya anak-anak lain,” tandas Salma. (bersambung)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.