Ketika Sang Putri ”Hidup” di Tubuh Orang Lain

- Periklanan -

Ariess Tan mendengarkan detak jantung putrinya yang kini memompa darah di tubuh Serene Lee, Jumat lalu. (Foto: Malay Online)

PASANGAN Mark Kok Wah dan Aries Tan berjanji. Kebaikan sang putri, Carmen Tan harus disebarkan agar orang lain terinspirasi.

Karena itu, mereka berusaha membikin film tentang cewek yang meninggal 28 Juli 2015 dalam usia 18 tahun tersebut. Meski dinyatakan meninggal, perempuan asal Georgetown, Penang, Malaysia, itu memberikan ”hidup” bagi delapan orang yang menerima donor organ tubuhnya.

Salah satunya Serene Lee. Perempuan 37 tahun itu adalah penerima donor jantung Carmen. Warga Singapura tersebut datang ke Penang pada Jumat (15/9) untuk bertemu dan berterima kasih kepada keluarga Carmen.

Berkat kebaikan almarhum, nyawa ibu tiga anak tersebut selamat. Tangis bahagia pecah ketika Ariess dan Mark bisa mendengarkan detak jantung putrinya yang kini hidup di tubuh Serene.

”Ini membuktikan anak saya tidak benar-benar pergi. Dia masih ada di sekitar kami,” kata Mark dengan penuh haru. Ariess langsung mendekap Serene erat-erat setelah dia mendengarkan detak jantung Carmen melalui stetoskop.

Mark mengaku bahagia karena merasa menemukan anak baru, Serene. Perasaan itu berbalas. Sebelum bertemu, Serene pernah mengirimkan kartu pos yang menyebut Mark sebagai ayah dan Ariess sebagai ibu.

- Periklanan -

Pertemuan itu terjadi setelah Serene memberanikan diri untuk menghubungi Mark. Saat organ Carmen didonorkan, orang tuanya tidak mengetahui siapa saja penerimanya. Namun, Serene tahu latar belakang pendonor.

Dia pun mengikuti akun Facebook Mark. Pria 46 tahun itu sempat membuat posting-an untuk bertemu penerima organ tubuh anaknya. Namun, pada status kedua, Serene baru berani membalas.

Carmen adalah putri satu-satunya Mark dan Ariess Tan. Dia mendapatkan beasiswa keperawatan di Nanyang Polytechnic, Singapura, pada awal 2015. Pada Juli tahun itu, dia tiba-tiba pingsan karena arterinya pecah. Dia sempat koma selama 3 pekan sebelum akhirnya meninggal.

Saat berusia 16 tahun, Carmen menyatakan ingin menjadi pendonor organ. Karena itu, begitu mengetahui kondisi anaknya terus memburuk, kedua orang tua Carmen langsung menyatakan kepada pihak rumah sakit tentang wasiat putrinya.

Bukan hanya film, pasangan Mark dan Ariess juga akan mendirikan yayasan Carmen Mark Foundation untuk mengkampanyekan secara global bahwa mendonorkan organ adalah hal mulia. Di negara-negara Asia, hal tersebut masih dianggap sangat tabu dan kerap tak disetujui kerabat orang yang meninggal. Ibu Mark, Lee Siew Ngor, dulu juga menolak menyetujui organ cucu pertamanya didonorkan. Dia berubah pikiran setelah melihat Serene Lee.

Mark mengungkapkan bahwa nanti seluruh keuntungan film diserahkan ke yayasan. Carmen Mark Foundation juga akan difungsikan sebagai lembaga amal untuk menyalurkan bantuan ke rumah penampungan dan keluarga yang anaknya menderita arteriovenous malformation (AVM).

AVM adalah kelainan pada arteri dan vena yang dapat mengganggu sistem sirkulasi darah. Penyakit itulah yang akhirnya merenggut nyawa Carmen. (jpnn)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.