Kerumunan Warga jadi Kendala Evakuasi Buaya

- Periklanan -

PALU – Aksi penyelamatan buaya berkalung ban, yang dilakukan Muhammad Panji bersama Tim Jawa Pos-Radar Sulteng di hari pertama, Minggu kemarin, belum membuahkan hasil. Banyaknya masyarakat yang berkumpul, di sekitar Jembatan Palu II (dua) menjadi salah satu kendala, sehingga buaya tersebut tidak lama menampakan diri.

Panji bersama Tim Jawa Pos-Radar Sulteng serta anggota Ditpolairud Polda Sulteng, berkonsolidasi sebelum turun melakukan evakuasi kemarin. (Foto: Agung Sumandjaya)

Berbagai persiapan sendiri sudah dilakukan tim, sejak pukul 06.00 wib. Warga Palu pun sudah bergerombol di sisi Selatan dan Barat sungai Palu, tepatnya di sekitar Jembatan II, Kelurahan Tavanjuka, Kota Palu. Sekitar pukul 07.00 wita, buaya tersebut sempat menampakan diri, namun kembali masuk ke dalam air, ketika masyarakat mulai ramai bergerombol.

Buaya berkalung ban, yang diharapkan dapat keluar dari tengah sungai ke tepian, tidak juga menampakan diri. Beruntung ketika siang, tim mendapat bantuan dari pihak Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulteng, yang dipimpin Wakil Direktur Polairud, AKBP Yudi Gunawan dan langsung cepat untuk berkoordinasi bersama Panji dan Tim Jawa Pos-Radar Sulteng.

Sekitar pukul 02.00 wita, Panji, yang juga dikenal sebagai aktivis hewan ini pun, merencanakan evakuasi menggunakan perahu karet milik pihak Ditpolairud Polda Sulteng. Caranya, perahu karet mendekati titik yang diduga menjadi sarang dari buaya di tengah sungai, namun tidak menggunakan mesin, hanya dengan bentangan tali dari sisi selatan ke sisi barat. “Mesin jangan sampai bunyi, nanti pasti dia terganggu,” ujar Panji memberikan arahan kepada tim gabungan.

Usai konsolidasi tim pun bergerak dari Pos Polairud di Kampung Nelayan menuju ke Jembatan Palu II. Evakuasi pun dimulai, sekitar pukul 15.00 wita. Dibantu sebagian masyarakat yang menggerakan tali di kedua sisi, perahu karet perlahan mendekat ke sebuah beton pondasi bekas jembatan ambruk, yang menjadi tempat buaya berkalung ban kerap muncul.

Hampir kurang lebih 3 jam berada di tengah sungai, tim tidak mampu memancing buaya tersebut untuk muncul. Hanya sempat terlihat sekali, namun buaya menjauh dari titik awal pencarian tersebut. Dua ekor ayam yang diumpan, juga sama sekali tidak digubris. Lama menunggu, akhirnya Panji sempat terjun ke sungai dan berenang ke tepian. “Banyak warga, jadinya dia takut untuk muncul,” tutur Panji.

Mengingat waktu yang mulai gelap, evakuasi buaya berkalung ban ini pun, dihentikan sementara. Ditemui terpisah, Wakil Direktur Polairud Polda Sulteng, Yudi Gunawan, mengungkapkan, waktu yang semakin malam memang beresiko untuk keselamatan tim. Pihak Ditpolairud sendiri kata dia, menunggu arahan lanjut dari tim evakuasi. “Intinya kami hanya memback-up kegiatan penyelamatan ini, kami pun sangat berharap buaya itu bisa selamat dari ban yang melilit badannya,” kata Yudi yang mengerahkan 8 orang anggotanya dan 2 perahu karet.

- Periklanan -

Menurut Panji, buaya itu enggan untuk menampakan dirinya kepermukaan diakibatkan banyaknya warga yang berdatangan dan berkerumun di sekitar area Jembatan II, sehingga buaya hanya sesekali menampakan dirinya dipermukaan kemudian kembali menyelam.

“Buaya itu dari tadi cuma nongol sebentar kemudian nyelam lagi. Padahal buaya itu sudah mau berjemur hanya karena ramai hewan itu enggan muncul,” ungkap Panji sebelum melakukan penangkapan.

Panji juga sangat menyayangkan banyaknya warga berkumpul dan membuat suara gaduh yang pada akhirnya buaya enggan untuk menampakan diri di permukaan air. Diharapkan kerjasama seluruh warga Palu agar membuat situasi se sepi mungkin, agar buaya tersebut mau menampakan diri. “Kami mohon kerjasama dan doanya,” kata Panji.

Sementara itu pantauan dari Radar Sulteng masyarakat dari pagi hingga sore hari terus bertahan di lokasi penangkapan buaya tersebut, akibatnya arus lalu lintas yang ada sepanjang Jalan I Gusti Ngurah Rai mengalami kemacetan. Masyarakat yang datang mengaku ingin langsung melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana aksi heroik yang akan dilakukan pawang reptil yang selama ini mereka hanya saksikan di layar televisi.

Fauzi salah seorang warga menuturkan, dirinya beserta keluarganya datang dari pagi hanya ingin menyaksikan proses penangkapan buaya berkalung ban tersebut yang akan dilakukan Panji bersama akan melepaskan ban dari leher buaya tersebut.

“Kami sekeluarga sengaja kemari untuk lihat aksi Panji menangkap buaya yang ada bannya itu,” katanya.

Hingga Pukul 17.17 Wita Panji bersama timnya masih berusaha terus-menerus memancing buaya tersebut agar keluar dan menampakan dirinya ke permukaan, sehingga ketika reptil tersebut sudah berada di permukaan maka akan mudah bagi Panji untuk membantu melepaskan ban yang ada di leher buaya itu.

Tim Jawa Pos, Radar Sulteng dan Panji berencana akan melanjutkan penangkapan buaya tersebut keesokan harinya. Jika dilanjutkan pada malam hari akan sangat beresiko dan minimnya penerangan yang tidak memadai di sekitar Jembatan II. (agg/cr3)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.