Kemiskinan dan Solusi Pengentasannya

Oleh : Dr. Ahmadan B. Lamuri *)

- Periklanan -

BULAN Ramadan, kadang dipahami bukan semata melaksanakan kewajiban puasa akan tetapi termasuk ikutan kewajiban menunaikan zakat. Walaupun sebenarnya dari ketentuannya zakat tidak hanya berlaku di bulan Ramadan kecuali“zakat fitrah”. Tetapi zakat mal tidak tergantung pada datangnya bulan Ramadan, kewajibannya sesuai standar nishab dan haulnya. Ini menunjukkan pemenuhan kewajiban zakat dapat saja terjadi setia pwaktu. Sejak adanya kewajiban zakat, terasa seakan-akan fungsi dan tujuannya dalam hal mengentaskan kemiskinan terkesan stagnan bahkan kemiskinan meningkat. Bagaimana kemiskinan itu dan solusi menyelesaikannya.

Memaknai Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan penghidupan dimana orang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok atau dasarnya. Kebutuhan pokok atau dasar ini dalam konsepsi hukum biasa disebut dengan kebutuhan dharuri yang mencakup: kebutuhan pangan, papan, dan sandang.

Apabila ketiga komponen dimaksud tidak secara sempurna dipenuhi, berarti seseorang dapat dikategorikan sebagai orang miskin. Di kalangan Imam Mazhab,kemiskinan itu dipahami “orang yang masih mampu berusaha memperoleh harta secara halal, tetapi hasilnya tidak mencukupi bagi dirinya dan keluarganya”.

Pandangan tentang kemiskinan masih tetap menggema selama problem kehidupan tetap berputar. Olehnya memberikan suatu kepastian makna atau untuk menetapkan ukurannya yang tepat tidaklah mudah, sebab memahaminya dapat saja berdasarkan pada sudut pandang yang digunakannya. Hanya simpulnya kemiskinan itu suatu kondisi yang menghinggapi seseorang dalam hal terbatasnya kebutuhan hidupnya yang pokok dan urgen.

Bentuk Kemiskinan dan Sebab Terjadinya

Bentuk kemiskinan terbagi dua, yakni kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut. Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang dilihat antara satu tingkatan pendapatan dengan tingkat pendapatan lainnya. Seseorang atau komunitas tertentu dapat saja digolongkan orang yang kaya atau berkecukupan, tetapi ketika dikonversikan kepada komunitas lainnya bisa jadi termasuk orang miskin, demikian sebaliknya.

Adapun kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang diukur berdasarkan penetapan standar minimum suatu pendapatan yang telah dianggap memenuhi kebutuhan pokok (misalnya di Indonesia menggunakan istilah Upah Minimun Regional), ketika seseorang pendapatannya tidak memenuhi standar minimum kebutuhan pokok, berarti yang bersangkutan termasuk orang miskin. Tetapi jenis kemiskinan ini hanya dilihat dari aspek pendapatan.

Ada juga kemiskinan dilihat dari aspek sebab terjadinya. Kemiskinan jenis ini kemiskinan cultural dan struktural. Kemiskinan cultural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor kebiasaan atau budaya pada diri seseorang. Misalnya malas, boros, bersenang-senang semata tanpa adanyai khtiar dan kerja. Atau mungkin termasuk adanya paham “fatalism” yaitu sebuah pandangan kalau masa depan itu diserahkan pada nasib seseorang yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kemiskinan jenis ini termasuk bentuk kemiskinan yang sulit dituntaskan. Hal ini mengingat telah digariskan oleh Allah SWT “bahwasanya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya”. Faktor internal individu sangat menentukan kesuksesan dalam menekan dan menurunkan angka kemskinan.

Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh sistem pembangunan yang tidak adil, atau adanya rekayasa manusia. Kurangnya pengembangan sumber daya manusia, adanya kondisi atau struktur dalam masyarakat yang menghambat pembangunan ekonomi kaum miskin, ketidak beruntungan yang dimiliki oleh kelompok miskin dalam mengembangkan usaha yang dimilikinya, dan termasuk adanya ketimpangan distribusi, atau termasuk tidak memperoleh kesempatan berperan sebagai pelaku ekonomi karena tertahannya hak-haknya dalam bentuk modal. Semua ini menjadi kenyataan yang dapat disaksikan dalam sistem kehidupan di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita.

- Periklanan -

Zakat sebagai Solusi Pengestasan Kemiskinan
Zakat telah diwajibakan dalam ajaran Islam, bahkan salah satu sarana mengukur tingkat ketaqwaan seorang muslim. Surah al-Baqarah (misalnya) ayat 3 telah menjelaskan sebagai tindaklanjut dari penjelasan tentang kriteria orang taqwa itu adalah menafkahkan sebagian dari rezki yang telah dilimpahkan kepadanya. Bahkan kewajiban menunaikan zakat bukan semata menjadi tipe bagi orang taqwa tetapi termasuk tipe orang mukmin, muhsin, dan abrar.

Yusuf al-Qardhawi menegaskan bahwa tanpa seseorang menunaikan zakat: orang tidak bisa masuk kedalam lingkaran orang beriman yang mendapat anugerah kebahagiaan, orang tidak bisa digolongkan pada kelompok orang yang berbuat kebaikan dan orang yang mendapat petunjuk, orang tidak bisa dikatakan sebagi orang baik, jujur, dan taqwa, Allah SWT tidak membedakannya dengan orang-orang musyrik, munafik, dan kafir, orang tidak berhak mendapatkan rahmat dan perlindungan dari Allah SWT.

Dengan demikian, kewajiban zakat bagi orang Islam dan adanya ancaman terhadap pelanggarnya termasuk ajaran yang mendorong agar setiap orang muslim untuk selalu tanggap dan peka terhadap problem sosial. Karena itulah kewajiban zakat menjadi salah satu bentuk dari penerapan sistem jaminan sosial. Memenuhi kebutuhan pokok setiap orang dan keluarga adalah hal yang dharuri. Dengan mengeluarkan zakat sebenarnya seorang muslim telah merefleksikan dan merealisasikan kecintaan dan kepekaan sosialnya atau rasa kemanusiaannya terhadap sistem jaminan sosial yang ditujukan kepada mereka yang miskin dan dhu’afa.

Mengapa zakat, karena kewajiban ini berjalan tidak dibatasi keberlakuannya dan termasuk sumber pendapatan dan penerimaan yang tidak mengenal sistem pengembalian kepada yang menyetor. Semakin banyak jumlah yang membayar, maka menurunkan jumlah kemiskinan akan semakin mudah. Mengelola zakat secara otomatis menjadikan sebuah lapangan kerja bagi para pencari kerja. Melalui sistem jaminan sosial zakat akan mudah pula mengetahui kemiskinan yang merajalela sekaligus berkontribusi dalam penyelesaiannya.

Cara Menyelesaikan Kemiskinan

Alquran sebagai kitab yang member petunjuk kepada manusia, sebenarnya telah menyinggung problem kemiskinan. Misalnya ketika mendiskusikan tentang orang-orang yang dikatakan sebagai pendusta agama (Q.S. al-Ma’un), salah satu yang termasuk di dalamnya adalah mereka yang kurang dan bahkan tidak memperhatikan kelompok orang miskin. Para pakar tafsir telah menjelaskan bahwa paling tidak ada dua instruksi yang dapat dipetik dari pernyataan Allah dari ayat “walayahudhdhu ‘alatha’amilmiskin.”

Pertama,orang-orang yang telah memiliki kecukupan ekonomi dituntut untuk menaruh kepeduliannya terhadap orang miskin. Sebab apa yang mereka miliki dari kelebihan ekonomi ataupun harta tersebut sesungguhnya adahak-hak orang miskin itu. Ini tersirat dari penggunaan kata “tha’aam”, yang hakikatnya sekalipun sudah member makan tetapi mereka (orang kaya) tidak merasa telah member makan orang-orang yang membutuhkan. Akibatnya akan lahir program berkesinambungan tanpa harus ada instruksi dari siapapun.

Kedua, orang-orang yang tidak mempunyai kelebihan juga dituntut paling tidak sebagai penganjur kepada yang lainnya atau sesamanya untuk member makan. Peranan ini dapat dilakukan oleh setiap orang selama mereka merasakan penderitaan sesamanya. Ayat ini pada esensinya “tidak memberi ruang” atau peluang sekecil apapun bagi setiap orang untuk tidak selalu mengajak dan peduli dengan orang miskin melalui kegiatan dakwah. Setiap orang mampu atau tidak mampu diajak oleh Allah untuk turut berpartisipasi dalam penanggulangan kebutuhan kaum miskin.

Jika memperhatikan ayat-ayat lain dalam Alquran, kelompok orang yang tidak punya kepedulian terhadap kaum miskin adalah ditempatkan pada sebuah tempat yang disebut sebagai neraka “Saqar”. Jaminan masa depan bagi orang-orang yang tidak ikut berpartisipasi menyelesaikan polemik kemiskinan. Ajaran yang sangat keras dan tegas.

Oleh sebab itu, metode menyelesaikan problematika kemiskinan harus terintegrasi dengan seluruh komponen masyarakat, a) Pemerintah melalui sistem pembangunannya yang dilaksanakan dengan program-program pengembangan sumber daya manusia juga memberikan dukungan pendanaan bagi usaha kaun miskin, b) Orang-orang kaya harus secara konsisten dan terus-menerus mengeluarkan sebagian dari hartanya yang ditujukan sebagai usaha menanggulangi kebutuhan kaum miskin. Ini tersirat dibalik kekayaan yang dimilikinya ada hak-hak orang miskin itu. Kelompok ini dapat memanfaatkan Badan Amil Zakat Nasional atau Lembaga Amil Zakat sebagai tempat menyalurkan rezkinya,

Kemudian, c) bagi mereka yang belum mempunyai kelebihan harta yang disalurkan untuk membantu kebutuhan orang miskin harus mampu meluangkan waktu dan pikirannya dalam bentuk dakwah. Mengajak orang lain walaupun hanya dalam bentuk dakwah merupakan perbuatan mulia. Mulia disebabkan telah menunjukkan peran adanya usaha menaikan derajat kemanusiaan, dan melaksanakan perintah Tuhan Yang Maha Segalanya.Wallahul A’lam!

*) Penulis adalah Dosen Tetap Universitas Alkhairaat dan Ketua Baznas Kota Palu.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.