Kelurahan Talise Kewalahan Tertibkan Ternak di Jalan

- Periklanan -

PALU – Pihak Kelurahan Talise nampaknya kewalahan untuk menertibkan warganya yang membiarkan hewan ternak berkeliaran di jalan. Aturan yang ada pun sulit diikuti sejumlah warga, dengan alasan kesulitan mencari pakan ternak, sehingga harus melepaskan sendiri hewan ternaknya mencari makan sendiri.

Ilustrasi ternak berkeliaran. (Foto: dok. Radar Sulteng)

Beberapa hewan ternak yang masih ditemukan berkeliaran di jalanan, memang bukan tanpa alasan, selain masih kurangnya kesadaran masyarakat pemilik hewan ternak, juga belum lengkapnya fasilitas yang disediakan pemerintah untuk menangani hewan ternak yang berkeliaran tersebut.

Di Kelurahan Talise misalnya, banyak warga yang mata pencahariannya beternak, namun ternaknya dilepas begitu saja hingga ke jalan. Lurah Talise, Sarlin, membenarkan dari belasan peternak hewan di daerahnya, masih ada yang belum menjalankan aturan meskipun telah dilakukan sosialisasi dan pemberitahuan langsung.

“Kelurahan Talise, peternak sapi ada lima, kambing kurang lebih sepuluh, rata-rata susah mau ikut aturan, sudah sosialisasi, sudah diimbau langsung ke pemiliknya, saya sudah arahkan juga bawa ternak ke Kuburan Cina sama Kuburan Kristen, tapi memang tidak ada lagi yang bisa dimakan di sana, lagi kemarau,” ungkapnya saat ditemui Selasa (20/3).

Jika diarahkan ke lahan hijau di daerah Talise yang rencananya di bangun taman hutan kota, tambah Sarlin dianggap tidak memungkinkan karena sudah akan ditata menjadi taman kota, dan untuk akses lokasi tersebut pasti melewati jalan utama.

Sebelumnya, pemerintah kota, sudah menyediakan lahan untuk pakan ternak di beberapa titik di Kota Palu, untuk kecamatan Mantikulore lokasi untuk mengembala hewan ternak berada di daerah Layana, yang sudah tersedia pakan ternak, namun beberapa fasilitas pendukung lainnya, seperti kandang, tempat berteduh bagi pengembala, air dan fasilitas lainnya tidak disediakan.

- Periklanan -

“Masyarakat di sini bukan juga tidak berkenan kesana menurut saya, tapi seandainya sudah dibuatkan di sana ada pondok-pondok kecilnya, supaya mereka tidak kesana kemari kan, jadi fokus di situ, ada airnya apa segala macam, bisa ditinggali tapi bukan untuk di miliki, semacam itu,” jelasnya.

Berbeda dengan Kelurahan Besusu Tengah, yang hanya memiliki peternak kuda pacuan, dan pedagang sapi, sehingga dianggap bebas dari hewan ternak yang berkeliaran, demikian di ungkapkan Lurah Besusu Tengah, Maafid, saat di temui di kantornya, Selasa (20/3).

Kuda yang di ternak di sekitaran rumah pemiliknya tersebut tambahnya, tidak dilepas bebas, hanya dipakai saat membawa dokar, atau saat pacuan.

“Ada peternak sapi, tapi dia pedagang sapi, jadi tidak ada berkeliaran sapinya, langsung dibawa untuk di potong ke kamar daging, karena kita sudah deteksi semua, kalau kambing tidak ada, ada pun kambing yang masuk kemari itu dari Kelurahan Talise,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Seksi di Satpol PP Kota Palu, Nirwan Intjeote mengatakan, jadwal penertiban hewan ternak setiap hari, dan semua ternak-ternak yang sudah berhasil diamankan akan dibawa dan dikandangkan di wilayah Palu Utara dan Palu Timur kandang penampungan untuk Hewan ternak berada di kelurahan Layana Indah, sedangkan ternak yang ditertibkan wilayah Palu Barat dan Palu Selatan akan dikandangkan di RPH tatanga Kelurahan Tavanjuka Kota Palu.

“Sebenarnya mereka sudah tahu aturan ini cuma karena faktor kebiasan, padahal tahun 2017 kemarin kita sudah adakan sosialisasi kepada masyarakat khususnya pemilik-pemilik ternak, dan kita juga sudah datang ke kandang-kandang mereka kita beri label pada ternaknya namun masih saja ternaknya dibiarkan berkeliaran di kawasan publik,” ungkapnya.

Lanjut Nirwan, sesuai dengan sanksi yang ada bagi pemilik ternak yang ingin mengambil ternaknya akan dikenakan denda sesuai jenis dan ukuran ternak. Pemilik ternak yang ternaknya sudah ditertibkan tidak akan mendapat toleransi dari pihaknya, karena sudah sejak lama disampaikan tentang adanya penertiban seperti ini, dan pihkanya akan melakukan pelelangan terhadap ternak-ternak yang sudah ditertibkan.

Pemilik atau penanggung jawab ternak yang mengambil ternak setelah ditangkap wajib membayar denda kepada petugas Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan dengan disertai bukti kepemilikan ternak. “Untuk pemilik ternak yang ingin datang mengambil ternaknya harus membayar denda, kalau ternak besar dikenakan denda sebesar dua juta rupiah sedangkan ternak kecil akan dikenakan denda sebesar tujuh ratus lima puluh ribu rupiah,” tegasnya. (cr6/cr9)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.