Katanya, Tidak Boleh Lagi Ada Kios yang Jual Elpiji Subsidi. Faktanya…?

- Periklanan -

PALU – Pengawasan terus dilakukan, tapi penyaluran elpiji subsidi masih kerap dijual dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Pada sejumlah pangkalan, stok Elpiji 3 kilogram sangat terbatas. Tetapi tak sedikit ditemui pengecer-pengecer kecil bebas menjual elpiji subsidi tersebut, dengan harga yang bahkan dua kali lipat dari HET yang telah ditentukan.

Truk milik salah satu agen saat sedang melakukan penyaluran di pangkalan belum lama ini. (Foto: Kartika)

Asisten Perekonomian Pembangunan dan Kesra Setdaprov Sulteng, Bunga Elim Somba mengatakan, sebenarnya Elpiji 3 kg secara teori, gampang dimonitor. Sebab jumlah kuota jelas dan ditujukan kepada masyarakat miskin dengan daftar nama dan alamat yang jelas. Sayangnya, dalam implementasinya susah dan sering tidak tepat sasaran.

Adapun kendala yang ditemukan menurutnya, pola pendistribusian seharusnya melalui kantor-kantor desa dan lurah agar mudah dimonitor. Hanya saja, dengan memperhitungkan faktor bisnis dan pekerjaan di kantor desa/lurah, sehingga pihak Hiswana Migas menunjuk pangkalan penyalur elpiji di luar kantor desa/lurah.

“Sebenarnya juga pangkalan ini sudah memegang by name by address yang berhak menerima elpiji subsidi. Cuman ya itu, biasa yang ada pada daftar by name, by address itu, belum membutuhkan Elpiji atau belum habis elpiji-nya. Sehingga penjualan terhenti. Sementara Elpiji harus secepatnya disalurkan sebelumnya waktunya habis. Ini yang coba kita perbaiki. Tapi yang pasti, elpiji 3 kg ini diperuntukkan bagi masyarakat miskin,” ungkapnya kepada Radar Sulteng, akhir pekan lalu.

- Periklanan -

Olehnya itu kata dia, kedepan, mekanisme pendistribusian elpiji subsidi akan diperbaiki. Dengan mencoba tidak ada yang namanya kios atau pengecer yang menjual Elpiji subsidi. Karena itu, bukan barang untuk diperdagangkan.

“Jadi hanya sampai di pangkalan saja,” jelasnya.

Menurutnya, hal itu juga erat kaitannya dengan kesadaran masyarakat. Dimana masih banyak masyarakat yang tidak punya hal, tetapi membeli, menggunakan, bahkan memperdagangkan elpiji 3 kg. “Ini yang bahaya ini,” jelasnya. “Jadi mudah-mudahan semua pada sadar juga bahwa ini hanya untuk masyarakat miskin,” tambahnya.

Oleh karena itu lanjut Elim Somba, Pemerintah Provinsi Sulteng, mengimbau kepada masyarakat yang secara ekonomi memiliki kemampuan untuk membeli elpiji non-subsidi, agar sadar dan tidak lagi mengambil jatah masyarakat miskin dengan membeli Elpiji subsidi.

“Kepada para pengecer dan kios-kios yang bukan pangkalan elpiji, waktunya sudah cukup, dan tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan stok atau apa, sekarang kita larang, kalau kita temukan di pengecer akan kita ambil. Sudah ada Perda-nya dari Walikota Palu, dan Walikota juga sudah mengimbau. Jadi kalau kita lihat ada di kios langsung ambil,” tandasnya.(hqr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.