Kasus Luwuk, Enam Warga Jalani Hukuman Adat

- Periklanan -

Wajah Bupati Banggai, Herwin Yatim, Ketua DPRD Banggai, Samsul Bahri Mang dan masyarakat Buton Muna terlihat meneteskan air mata saat melepas 6 warga masyarakat etnis Muna, Bugis dan Gorontalo tersebut. (Foto: Steven Laguni)

LUWUK–Enam warga masyarakat Kabupaten Banggai beretnis Buton/Muna, Bugis dan Gorontalo terpaksa harus meninggalkan kota Luwuk dan kembali ke kampung halaman masing-masing.

Waode Ramia (52), Wasanufi (53), Lahaluma (57) dan Wamini (52), yang kesemuanya beretnis Muna ini terpaksa meninggalkan kota Luwuk dan kembali ke kampung halaman, setelah puluhan tahun tinggal menetap, mencari nafkah hingga beranak cucu di kota BERAIR.

Demikian pula dengan Rusdin (50). Pria yang bekerja sehari-hari sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) ini, juga ikut meninggalkan kota Luwuk menuju kota Makassar. Sama hal yang dialami Krismantio (25). Dia harus meninggalkan kota Luwuk menuju Kota Gorontalo.

Keenam warga Kabupaten Banggai itu terpaksa meninggalkan kota Luwuk, disebabkan harus menjalani putusan hukuman adat yang ditimpakan kepada mereka. Keenam orang ini merupakan orang tua dan keluarga pelaku penganiayaan hingga menyebabkan kematian terhadap Nurcholis Saputra Dayanun, warga Kelurahan Jole, kecamatan Luwuk Selatan, meninggal dunia terjadi di Kota Luwuk pada Senin (21/8) dini hari, dua pekan lalu.

Pelepasan dan pemulangan keluarga pelaku penganiayaan dilaksanakan oleh kerukunan keluarga Buton Muna Kabupaten Banggai, dilaksanakan di halaman kantor Kelurahan Mangkio Baru, Kecamatan Luwuk, Minggu (3/9) kemarin.

Bupati Banggai, Herwin Yatim, Ketua DPRD Banggai, Samsul Bahri Mang, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Banggai, Alfian Djibran dan anggota DPRD Kabupaten Banggai, Djufri Diko yang juga tokoh masyarakat Gorontalo, serta Ketua PMI Kabupaten Banggai, Fuad Muid, yang juga sebagai tokoh masyarakat Saluan, terlihat hadir pada acara tersebut.

Isak tangis mewarnai acara pelepasan, bukan hanya orang tua dan keluarga pelaku penganiayaan serta masyarakat Buton Muna yang merasakan kesedihan itu, namun Bupati Herwin Yatim dan Ketua DPRD Samsul Bahri Mang juga terlihat sesekali menghapus air mata yang keluar dari kedua bola mata mereka.

H Labelo, selaku ketua adat etnis Buton Muna Kabupaten Banggai, mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Banggai, yang masih peduli dengan masyarakat etnis Buton Muna di Luwuk. Kepedulian dimaksud Labelo adalah Herwin Yatim dan Samsul Bahri Mang, berkenan memberikan pembinaan atau nasehat kepada mereka, yang secara jujur kata Labelo, dirinya tidak pernah menyangka dan mengharapkan hukuman adat ini diberlakukan kepada warganya.

- Periklanan -

“Falsafah hidup kami, dimana tanah ku pijak disitu langit ku junjung. Kami sangat berterima kasih bupati dan ketua DPRD yang telah memberikan nasehat kepada kami. Jujur, saya sedih karena mereka adalah orang tua kami yang sudah lama tinggal di luwuk,” tutur lelaki separuh baya itu sambil meneteskan air mata.

Labelo juga berpesan dan mengingatkan kepada masyarakatnya, agar tetap menjaga kenteraman hidup di tanah Babasal.

“Ini juga harus dijadikan sebagai pembelajaran bagi semua etnis, bukan hanya masyarakat suku Muna saja. Jadi tolong adik-adikku, mari kita saling menjaga ketentraman hidup di tanah Babasal,” pintahnya yang lagi-lagi menghapus air matanya.

Dalam kesempatan sama, Bupati Banggai, Herwin Yatim menegaskan, pemerintah daerah Kabupaten Banggai tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, karena pemerintah adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuknya, orang nomor satu di Kabupaten Banggai ini mengucapkan terima kasih kepada semua kalangan masyarakat dari berbagai etnis yang berdomisili di Luwuk, mau menjaga stabilitas keamanan dan daerah Kabupaten Banggai.

“Kita hadir disini memberikan wawasan kepada bapak ibu sekalian bahwa pemerintah tidak pernah menghendaki hal ini terjadi karena pemerintah adalah kesatuan NKRI, yang tidak bisa dipisahkan. Saya juga nanti akan melaporkan kepada menteri dalam negeri RI tentang hal ini, khususnya konsep menjaga kebersamaan, menjaga kedamaian dan menjaga stabilitas daerah. Mari kita menjaga sama-sama. Mari kita jaga kelompok atau paguyuban kita masing-masing,” pesannya.

Sebagaimana diketahui bersama, peristiwa penganiayaan hingga mengakibatkan Nurcholis Saputra Dayanun, warga Kelurahan Jole, kecamatan Luwuk Selatan, meninggal dunia terjadi di Kota Luwuk pada Senin (21/8) dini hari, dua pekan lalu.

Pihak kepolisian resort Banggai menyatakan peristiwa tersebut adalah tindak pidana murni dan tidak ada kaitan dengan SARA serta penyidik satreskrim polres Banggai telah menetapkan 7 orang tersangka, yang bertepatan para pelaku dari berbagai etnis, yakni masing-masing 3 orang beretnis Muna, 1 orang Bugis, 1 orang Gorontalo dan 1 orang beretnis Saluan.

Sepekan kemudian, tepatnya di gedung DPRD Kabupaten Banggai, digelar dialog kebangsaan keberagaman Kabupaten Banggai dengan kurang lebih 109 orang dari berbagai etnis yang berdomisili di Kabupaten Banggai. Kegiatan yang diselenggarakan oleh badan kesatuan bangsa dan politik Kabupaten Banggai itu menghasilkan keputusan bersama. Salah satu item keputusan dimaksud pemulangan keluarga pelaku penganiayaan Nurcholis.

Beberapa hari kemudian, setelah keputusan, sebelum kerukunan keluarga Buton Muna memulangkan keluarga pelaku penganiayaan itu, terlebih dahulu kerukunan keluarga etnis Bugis dan Gorontalo telah terlebih dahulu memulangkan Rusdin ke kampung halamannya di kota Makassar dan Krismantio di kota Gorontalo.

Pemberlakuan keputusan bersama itu bukan hanya diperuntukan bagi keluarga korban, namun ke-7 orang pelaku penganiayaan berat juga mendapatkan perlakukan sama, namun hal itu akan dilakukan setelah mereka semua menjalani hukuman pidana sebagaimana putusan majelis hakim nanti.(stv)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.