Kasihan, Bocah SD “Digarap” Tukang Ojek

- Periklanan -

Ilustrasi (@pojoksatu.com)

BANGKEP – Bisa jadi kriminalitas jalanan di Bangkep rendah seperti pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan pemeratan (curanmor) dan pencurian kendaraan  bermotor (curanmor) terbilang minim. Namun kasus pelecehan seksual apalagi kepada anak anak di Bangkep bisa jadi nomor satu.

Baru baru inidi kecamatan Bulagi, seorang bocah yang masih kelas 1 SD dicabuli tukang ojek berinisial It. Pria berambut kriting berkulit hitam gelap dengan tinggi badan 170 cm itu dengan teganya mencabuli NG yang baru menginjak 7 tahun.

Kasus tersebut saat ini sudah ditangani Unit Perlindungan Anak Polres Bangkep. Juga berkat dari pengawalan Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Anak Kabupaten Bangkep.

Koordinator TRC PA Sulteng Yusuf Faisal Isima saat di Polres Bangkep Jumat (3/2), mengatakan bocah imut nan cantik itu, diperkosa di kebun saat hendak pulang sekolah. Korban yang sehari hari diantar oleh pelaku itu, dibekap ditarik dan dengan bejatnya melampiaskan syahwatnya.

“Kejadian terakhir sekitar Sabtu satu pekan sebelumnya. Korban meskipun berteriak namun tidak ada yang mendengar,” ujarnya.

Anehnya, pencabulan itu terjadi yang ke lima kalinya. Data itu diketahui dari keterangan korban kepada gurunya bahwa dia sudah lima kali digauli. Gurunya curiga karena korban mengeluhkan sakit di perut atas kelamin.

- Periklanan -

Dari penuturan itu, gurunya langsung menghubungi tokoh masyarakat serta menindaklanjutinya di Polsek. Sayangnya kasus itu mendekam terlalu lama, sehingga membutuhkan pengawalan dan akhirnya pelaku ditahan dan dipindah ke Polres Bangkep.

Saat di Polres Bangkep, bocah itu nampak tenang. Sambil mengunyah es krim yang diberikan dari Polwan, bocah itu juga memencet mencet game di android. Setiap kedatangan atau melihat orang baru, dia lantas menengok sekilas dan lalu bermain game lagi.

Dari catatan TRC PAI Bangkep, kasus pencabulan terhadap anak di awal tahun 2017 ini sampai empat kasus.  Tempat kejadian semuanya di Bulagi. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan di daerah korban memungkinkan muncul predator baru yang memangsa anak anak setiap saat.

“Maka diperlukan upaya sosialisasi di daerah tersebut. Pemerintah daerah mesti gencar megampanyekan perlindungan terhadap perempuan dan anak beserta ancaman pidananya,” jelasnya.

Selain upaya persuasive juga diperlukan upaya represif. Setiap kejadian yang berbau pencabulan meski langsung disikapi secara tegas oleh kepolisian. Tidak bisa lagi kasus pencabulan diselesaikan secara adat.

“Kebiasaan masyarakat disana diatur secara adat. Ada bayar semacam dena. Lantas pelaku bebas berkeliaran. Padahal dalam UU tidak begitu. Harus ditangkap dan dijebloskan,” ujarnya.

Bahwa di Bangkep sangat memungkinkan munculnya predator baru. Seperti kasus yang terjadi akhir tahun 2016, dimana dua remaja tanggung memperkosa seorang remaja putri berusia 15 tahun.

“Itu kasusnya sama di Bulagi. Saat ini kasusnya sudah ditangani di Polres Bangkep,” ujarnya. (bar)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.