Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Kantor DPRD Donggala Diguncang Gempa dan Kebakaran

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anggota BPBD melakukan penyelamatan terhadap korban kebakaran di kantor DPRD Donggala, Rabu (26/4). Aksi ini merupakan simulasi penanggulangan bencana dalam memperingati HKB 2017. (Foto: Ujang Suganda)

DONGGALA – Pulau-pulau di Indonesia secara geografis terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Australia, pasifik dan Eurasia. Hal itu menyebabkan Indonesia secara geologis. Salah satu daerah yang paling rawan adalah kabupaten Donggala.

Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar simulasi penanggulangan bencana di kantor DPRD Donggala. pada simulasi tersebut anggota BPBD mempraktekkan cara penanggulangan bencana kebakaran maupun gempa bumi.

Dengan peralatan lengkap, anggota BPBD sukses melakukan penyelamatan terhadap sejumlah korban yang berada dalam ruangan. Sontak simulasi tersebut juga menjadi bahan tontonan dari warga sekitar maupun PNS.

Simulasi itu juga turut diikuti oleh jajaran anggota DPRD Donggala, pihak Kepolisian Donggala, Basarnas, Dinas Kesehatan, TNI maupun pihak terkait lainnya.  Dengan berlangsungnya simulasi tersebut, Kasman berharap, kinerja dari anggota BPBD lebih ditingkatkan lagi karena semua orang tidak tahu kapan datangnya musibah, sehingga BPBD memang harus selalu sigap. Pasalnya kata Kasman wilayah Donggala sendiri menjadi langganan bencana salah satu adalah banjir bandang. “Maka dari itu karena tidak tahu kapan datangnya musibah, jadi kita harus selalu sigap,” ujarnya.

Sementara itu kepala BPBD Donggala, Akris Fatah, mengatakan, simulasi tersebut merupakan bagian dari program pemerintah pusat yakni Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang dilaksanakan setiap 26 April. Dari 32 Kabuaten dan kota se Indonesia, Kabupaten Donggala masuk dalam salah satu yang memperingati HKB. “Bukan berarti kita berbangga diri, tetapi kita harus selalu sigap. Karena daerah kita ini menjadi salah satu daerah yang paling rawan bencana,” jelasnya.

Tujuan HKb sendiri kata Akris, untuk meningkatkan partisipasi dan membangun budaya gotong royong, kerelawanan serta kedermawanan pemangku kepentingan baik di pusat maupun daerah. Simulasi ini kata Akris sekaligus untuk mengkaji kemampuan peralatan penunjang sistem peringatan dini, evakuasi serta penunjang tanggap darurat. “Latihan kesiapsiagaan secara serentak ini sangat perlu karena kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap karakteristik bencana dan risikonya. Selain itu belum ada pelatihan secara teratur karena kewaspadaan dan kesiagapan belum menjadi budaya,” tandasnya. (ujs)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.