Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Kampusku Sayang, Kampus Kebanggaan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Oleh : Muhammad Khairil

DIANTARA cerita kampusku dan kampusmu mungkin saja kita berbeda. Ibarat kata different pond different fish. Lain kolam lain pula Ikannya. Namun, dimanapun kampus itu berada dan bagaimanapun sistem yang diterapkan setiap kampus, tentu punya orientasi dan tujuan mulia yang sama, menghasilkan generasi terdidik.

Orang yang terdidik, akan menjadikan ilmu penuh manfaat. Tidak hanya membumi, tapi juga hingga ke langit. Orang yang berilmu, bagai padi yang berisi. Ia akan semakin merunduk dan menyadari bahwa ilmunya hanya setitik dari lautan ilmu Ilahi.
Idealnya setiap kampus akan lahir dari rahimnya generasi cendikia, ilmuan yang berdedikasi. Ilmuan yang tidak hanya kritis dan bersuara lantang namun juga bijaksana dalam memberi solusi. Ia menjadi teladan diantara kata dan perbuatannya.

Setiap mahasiswa akrab dengan istilah agent of change. Label yang begitu melekat pada identitas kemahasiswaan. Berbekal kartu mahasiswa juga jas almamater dan bendera identitas lembaga mahasiswa, semua menyatukan langkah untuk gerakan perubahan.
Kampusku sayang, kampus kebanggaan. Demikian artikel ini saya tuliskan. Betapa tidak, sejak mahasiswa, kami juga turun ke jalan menuntut reformasi tahun 1998. Menggunakan toga dan baju wisuda lalu diberi penghargaan dengan ijazah. Orangtua dan keluarga yang hadir, sering meneteskan air mata haru, bahagia anak-anak mereka telah lulus dengan gelar sarjana.

Melalui kampus, wawasan itu meluas, pergaulan pun jadi bebas dalam batas etika dan kewajaran. Ruang kelas seolah menjelma dalam dinamika diskusi keilmuan. Praktikum dan turun lapangan adalah bagian dari pembuktian teori dan proses sosialisasi diri di tengah masyarakat.

Namun tentu tidak semua selalu berjalan sesuai harapan. Ada saja oknum yang coba bermain di air yang jernih. Karena air itu jernih, maka yang sering tampak adalah para pemain “kelas teri” yang mengambil kesempatan walau sesungguhnya ia tidak sempit. Seolah tidak percaya, berbekal ilmu dan wawasan dengan pengalaman segudang, ada saja dosen masih bermodal plagiasi.

Tidak jarang juga ada saja oknum mahasiswa yang tertangkap karena kasus pencurian, perkelahian hingga asusila. Namun, apakah perilaku itu lalu kampus yang kita salahkan ? Atau menyalahkan para pendidik yang telah gagal menanamkan nilai moralitas ?
Bukankah tak ada gading yang tak retak ? Seperti halnya dosen atau para pendidik yang yang juga tak sempurna. Begitu juga dengan mahasiswa. Maka terhadap para oknum yang telah menodai kemuliaan pendidikan, biarkan mereka berproses dengan konsekuensi tata aturan yang sudah jelas hukum dan statusnya.

Mereka yang bersalah, akan dituntut sesuai kesalahannya. Begitulah bahasa keadilan disuarakan. Tidak untuk saling menuduh, nyindir dan nyinyir seolah ada tumbal di balik “kambing hitam”. Kampus adalah murni perjuangan keilmuan. Tempat yang akan menjadi cikal lahirnya sang pemimpin bangsa ini.

Oleh para senior yang telah menjadi alumnus, lalu disatukan dalam reuni kampus akan selalu punya cerita. Mereka bernostalgia lalu bercerita, “dulu, waktu kami mahasiswa, kampus itu kecil, masih jarang kendaraan. Sekarang kampus kita sudah berubah. Banyak hal baru dan kami bangga menjadi alumni”.

Ketika seorang dosen berdiri dihadapan mahasiswanya, tidak jarang ia kembali ke masa lalu. “Sebelum jadi dosen, saya juga seperti kalian adalah mahasiswa”. Demikian sering kita mendengar bahasa sang dosen. Ia begitu bangga dengan kampusnya, dengan kemahasiswaannya bahkan ia bangga karena dulunya ia adalah aktivis lembaga kampus.

Setiap alumni akan menyayangi kampusnya, kampusku sayang. Ironis, andai ada alumni yang seolah menyalahkan kampusnya. Bahwa ada saja yang salah dalam tata kelola kampus, ini yang disuarakan. Bukan semata hanya menyalahkan tapi juga memberi solusi. Tidak juga semata tunjuk sana, tunjuk sini, namun juga menunjukan bukti.

Sebaliknya, jangan sampai bagai orang yang berbicara banyak, tapi ketika ia ditanya, apa yang engkau hasilkan, ia lalu terdiam seribu bahasa. Begitu juga bagai orang yang seolah kritis, namun bagai katak dalam tempurung. Seolah merasa besar, padahal ia berada pada tempurung yang kecil, sempit dan hanya dirinya sendiri. Ia pun berbunyi nyaring pada tong yang kosong.
Kritis tidak selalu harus menyalahkan orang lain. Kritis bukan berarti kitalah yang paling benar dan dengan mudah menyalahkan orang. Kritis adalah suara kebenaran yang kita lahirkan dari bahasa hati, bukan atas dasar kebencian, iri terlebih dengki berbalut dendam dan sakit hati.

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib, akrab dipanggil Cak Nun seolah mengkritik orang yang suka mengkritik dengan bahasa “Ada orang yang mengkritik tapi tidak memberi jalan keluar. Ada orang yang memberi jalan keluar tanpa mengkritik”.

Dengan bangga, mahasiswa sering mendengungkan sumpah mahasiswa. “Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu tanah air tanpa penindasan. Kami mahasiswa bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.”

Setiap sumpah adalah ruh yang harus mengalir dalam setiap nadi mahasiswa. Sumpah bukan semata diucapkan tapi untuk dilakukan. Melalui sumpah, mahasiswa menyuarakan kampus tanpa penindasan. Melalui kampus, mahasiswa menyuarakan keadilan. Kampus akan melahirkan manusia terdidik yang mampu bertanggungjawab terhadap apa yang mereka katakana. Bertanggungjawab terhadap apa yang mereka lakukan.

Bagi para mahasiswa, kampus adalah kebanggaan. Bagi para alumni, kampus akan menjadi pijakan ilmu dan pengalaman yang begitu berharga sebagai bekal di dunia kerja untuk mengharumkan almamater tercinta. Bagi para pendidik, kampus adalah ruang transformasi keilmuan, melahirkan intelektual muda berkarakter, menjadi teladan yang tidak hanya bersuara lantang tapi juga membuktikan dedikasi keilmuannya.

Sungguh ironis, andai hanya dengan modal gelar dan ijazah, lalu begitu angkuh merasa telah “berilmu”. Ia bagai manusia suci, merasa diri paling benar, begitu mudah menyalahkan orang lain, mengumbar karya “setitik” seolah menjadi maha karya.

Idelanya, intelektual muda yang lahir dari rahim kampus, ia bagai padi, berisi karena ilmunya. Ia juga menunduk karena kesadarannya bahwa ilmu bukan untuk disombongkan. Kualitas keilmuan seseorang bukanlah barang yang mudah untuk diobral “murah”, ia bagai berlian, begitu berharga karena selalu menjaga kualitas dan integritasnya. Intelektual muda bicara karena menghasilkan karya, bukan sebatas retorika.

*) Dosen Pada Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNTAD.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.